Viral di Medsos Penampakan Banaspati, Bagaimana Hantu Bisa Populer di Indonesia?

Jumat, Juni 04, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Perbincangan banaspati tiba-tiba ramai di media sosial Twitter. Penampakannya pertama kali dibagikan oleh akun @wrwbs0b lewat foto yang menampilkan cahaya api di balik sebuah rumah.
Dalam unggahannya, @wrwbs0b menyematkan caption bahwa cahaya api yang muncul di balik pepohonan adalah penampakan dari banaspati. “nyala-nyala kirain gerhana bulan, gataunya banaspati le,” tulis @wrwbs0b dalam tweet fotonya.
Tak disangka, unggahan itu mendapat banyak respons netizen. Sebagian besar dari mereka mengaku pernah melihat fenomena sama, ada juga yang menjelaskan apa itu banaspati, sementara yang lain mempertanyakan bagaimana cara menangani banaspati.
Ginian disiram air atau APAR mati gak sih,” tulis @fuadradk.
Om gw pernah dikejar (banaspati) pas main di pinggir sawah mlm mlm ama temen,” tulis @MITUYASGF.

Fyi: Btw ditempat ku namanya bukan banaspati, tapi tuju jadi emang dari kecil diingetin kalo liat api api gitu di udara yang semacam gitu disuruh langsung nunjuk ke objek itu sambil ucapin tuju tuju tuju gitu dan efektif kok auto langsung ilang atau mecar gitu cahayanya,” ungkap @pennykid_
Ada banyak kepercayaan tentang banaspati. Dalam budaya Jawa misalnya, sosok banaspati dimengerti sebagai pembawa kabar kematian massal warga desa dalam wujud kilatan-kilatan api berbentuk naga, sehingga mereka harus waspada dan berhati-hati, termasuk lebih banyak tinggal di rumah untuk sementara waktu.
Terlepas dari apakah penampakan di dalam foto banaspati atau bukan, muncul pertanyaan, kenapa cerita hantu sangat populer di Indonesia?
Menurut Sunu Wasono, pengajar Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, cerita hantu di Indonesia muncul tahun 80-an ketika oplah mulai turun. Lama kelamaan, cerita hantu jadi menu utama di berbagai majalah, salah satunya majalah Panjebar Semangat yang didirikan oleh Dr. Sutomo pada 1993. Cerita hantu kemudian menjadi sangat populer dan digemari banyak orang.
“Hipotesis saya, kalau tidak ada cerita hantu, majalah ini tidak akan bertahan sampai sekarang,” katanya, dikutip Historia.
Sunu bilang, cerita hantu mencerminkan pandangan atau kepercayaan masyarakat karena bersinggungan dengan kehidupan dan kematian. Dalam konsep Jawa, secara garis besar ada dua jenis kematian.
Kematian yang baik seperti mati karena sudah tua, mati di jalan Tuhan, mati saat melahirkan atau dilahirkan. Yang kedua adalah kematian karena sebab-sebab yang tidak lumrah, seperti mati bunuh diri atau kecelakaan.
Dari banyak jenis hantu yang muncul dalam cerita seram, genderuwo merupakan yang paling populer. Kendati demikian, ada banyak jenis hantu di Indonesia, seperti wewe gombel, kuntilanak, cumplung, cerangkong atau banaspati.
“Khazanah hantu kita kaya. Kalau bisa menggali itu, bisa dibuat film. Banaspati misalnya, suka menghisap darah orang. Itu vampire versi Indonesia,” kata Sunu.

Sains di balik logika hantu

Faktanya, teka-teki tentang makhluk astral dan kehidupan lain sudah tumbuh sejak ratusan tahun lalu. Diberitakan Live Science, pada tahun 1800-an, banyak orang mengaku dapat berbicara dengan orang mati, sampai-sampai mahasiswa di Universitas Cambridge dan Oxford membentuk klub hantu bernama Society for Psychical Research untuk mencari bukti keberadaan makhluk astral.
Seorang wanita bernama Eleanor Sidgwick adalah penyelidik dari grup itu, dan dianggap sebagai wanita yang punya kemampuan mengusir hantu. Di Amerika selama akhir 1800-an, banyak medium psikis yang mengaku dapat berbicara dengan orang mati, tetapi kemudian diekspos sebagai penipuan.
Hingga saat ini, fenomena hantu masih sulit dibuktikan secara ilmiah. Pasalnya, banyak fenomena aneh yang diduga dilakukan oleh hantu, seperti pintu tertutup sendiri, kunci hilang, ruangan mendadak suhunya dingin, hingga melihat orang mati, dan ini semua sulit dijelaskan secara keilmuan.
Selain itu, bagian tersulit dalam penelitian hantu adalah tidak adanya definisi yang disepakati bersama tentang apa itu hantu. Beberapa orang percaya mereka adalah roh orang mati yang tersesat saat melakukan perjalanan menuju dunia lain, sementara yang lain mendefinisikan hantu sebagai entitas telepati yang diproyeksikan dari pikiran manusia.
Penelitian lain menyebut bahwa alasan kenapa hantu sulit dibuktikan adalah karena sampai saat ini manusia tidak memiliki teknologi yang mumpuni untuk menemukan atau mendeteksi dunia lain. Jika hantu memang ada, dapat dideteksi atau direkam secara ilmiah, maka kita harus menemukan bukti kuat tentang keberadaan hantu. Jika hantu ada tapi tidak dapat dideteksi atau direkam secara ilmiah, maka semua foto, video, audio, dan rekaman lain yang diklaim ada hantunya kemungkinan besar sosok tersebut bukanlah hantu.
Inilah kenapa teori tentang hantu banyak yang kontradiktif. Tidak mengherankan pula banyak penelitian yang ingin membuktikan adanya hantu berujung pada kegagalan. Meski begitu, ada teori fisika menarik yang dipaparkan oleh Einstein terkait hantu.
Einstein menyebut, lewat Hukum Kekekalan Energi, seluruh energi di alam semesta adalah konstan, tidak bisa diciptakan maupun dihancurkan. Jadi saat manusia mati, energi itu tidak dapat dihancurkan, tetapi berubah ke bentuk lain. Inilah yang mungkin dimanifestasikan sebagai hantu.
Asumsi ini memang terdengar masuk akal, namun para peneliti yang memahami fisika dasar menjelaskan energi yang dilepaskan ketika seseorang meninggal bukanlah menjadi hantu, tapi kembali ke lingkungan.
Hal ini berlaku bagi organisme lain ketika mereka mati. Energi dilepaskan dalam bentuk panas, dan tubuh dimakan hewan di dalam tanah seperti cacing dan bakteri, dan menjadi pupuk bagi tumbuhan. Dengan begitu, tidak ada energi tubuh yang bertahan setelah kematian, apalagi dapat dideteksi dengan teknologi pemburu hantu.
Pada akhirnya, penampakan hantu bukanlah tentang pencarian bukti ilmiah. Tapi cukup dengan menikmatinya sebagai cerita horor yang bisa membuat bulu kuduk merinding.


Sumber : Kumparan

0 comments: