6 Fakta Menarik tentang Ngawi, Lokasi Penemuan Fosil Manusia Purba yang Fenomenal

Rabu, Juli 28, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

6 Fakta Menarik tentang Ngawi, Lokasi Penemuan Fosil Manusia Purba yang Fenomenal

Ngawi merupakan sebuah kabupaten yang berada di sisi barat Provinsi Jawa Timur. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah itu memiliki luas wilayah 1.298,58 km persegi. Sekitar 40 persen wilayah tersebut berupa lahan persawahan.

Pada 2020, jumlah penduduk kabupaten ini mencapai lebih dari 800 ribu jiwa. Mayoritas masyarakat Ngawi bekerja di sektor pertanian, meski jumlahnya menurun setiap tahun.

Seperti banyak daerah di Indonesia yang mengaitkan namanya dengan nama tumbuh-tumbuhan, Ngawi pun demikian. Kata Ngawi berasal dari kata awi yang berarti bambu dan mendapat imbuhan Ng menjadi Ngawi. Dahulu di sana memang banyak pohon bambu. Ngawi menunjukkan suatu tempat di sekitar pinggir Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang banyak ditumbuhi bambu.

Selain itu, masih banyak hal-hal menarik seputar Ngawi. Berikut enam fakta menarik Kabupaten Ngawi yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

1. Lokasi Penemuan Fosil Manusia Purba

Nama Trinil tak asing kaitannya dengan penemuan fosil purba. Sekitar satu juta tahun lalu, Trinil merupakan kawasan di lembah Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman Pleistosen Tengah. Nama itu kini menjadi nama museum yang terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, atau sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Ngawi. 

Lokasi itu merupakan situs penemuan fosil manusia purba yang disebut Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois, seorang dokter Belanda, pada 1891. Ia memperoleh bagian rahang atas, tulang kaki, dan tengkorak manusia purba di situs tersebut.

Di situs ini juga ditemukan fosil banteng dan gajah purba yang berguna bagi penelitian dan pendidikan di bidang sejarah kepurbakalaan. Replika fosil purba kini tersimpan di Museum Trinil, sedangkan yang asli terdapat di Museum Nasional. Di sana terdapat tugu yang menunjukkan arah jarak di bekas penggalian fosil Pithecanthropus erectus.

2. Rumah Ketua BPUPKI

Ngawi juga merupakan tempat tinggal Ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dr. Radjiman Wedyodiningrat. Badan yang dibentuk Jepang pada 1 Maret 1945 itu tetapi diresmikan pada 29 April 1945 itu merupakan upaya Jepang untuk menarik hati orang Indonesia. Pada 7 Agustus 1945, BPUPKI dibubarkan dan digantikan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Sementara, dr Radjiman tinggal di Dusun Dirgo, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, sejak 1934. Ia mengabdikan dirinya sebagai dokter ahli penyakit pes dan dokter kandungan. Rumah kediamannya yang telah berusia ratusan tahun kini menjadi situs sejarah.


3. Tradisi Perang Nasi

Desa Pelang Lor di Ngawi dikenal punya tradisi unik, yakni perang nasi. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah masa panen kedua tiap tahun. Tradisi perang nasi diyakini sebagai wujud syukur atas hasil panen kedua serta bentuk tolak bala.

Warga desa mengumpulkan nasi yang dibungkus daun jati atau daun pisang secara sukarela. Selain nasi, biasanya warga juga menambahkan berbagai lauk pauk. Nasi yang terkumpul jumlahnya bisa mencapai ratusan bungkus. Semakin banyak nasi yang terkumpul menunjukkan kualitas hasil panen warga yang semakin bagus.

Nasi-nasi yang terkumpul tersebut nantinya akan saling dilempar oleh warga. Di tengah perang nasi, para ibu mengais sisa nasi yang berserakan. Nasi dan lauk yang bersih akan dimakan, sementara yang sudah kotor akan dicuci dan jemur untuk diberikan kepada ayam.

4. Tari Orek-Orek

Ngawi punya tari tradisional bernama tari orek-orek. Tarian ini biasanya sering ditampilkan di acara pemerintahan. Penarinya terdiri dari perempuan dan laki-laki yang saling berpasangan, jumlahnya antara 4 atau 8 pasangan.

Tarian ini menggambarkan kegembiraan para pemuda setelah bekerja rodi untuk membangun jembatan dari Anyer sampai Panarukan. Selepas bekerja, diadakanlah pertunjukan menari bersama untuk melepas rasa lelah. Tarian ini memiliki gerakan yang dinamis dengan iringan alunan dari gamelan laras slendro.


5. Air Terjun Pengantin

Ngawi menyimpan berbagai destinasi alam menarik, salah satunya Air Terjun Suwono. Air terjun ini bertempat di Desa Hargomulyo, Kecamatan Ngrambe.

Air terjun ini juga dijuluki air terjun pengantin lantaran terdapat sepasang air terjun yang saling berdampingan secara alami. Mitosnya, jika sepasang kekasih datang ke air terjun ini, hubungan mereka akan semakin awet sampai ke pelaminan. Konon juga, apabila ada suami istri yang menyentuh air di sana, hubungan mereka pun akan kian langgeng.

Terlepas dari mitos itu, air terjun ini menawarkan pemandangan asri dan udara yang sejuk. Airnya terasa dingin nan segar yang bersumber dari Gunung Lawu. Biaya tiketnya juga hanya Rp6.000 saja.

6. Wedang Pakai Bawang Merah Goreng

Wedang banyak jadi andalan untuk menghangatkan badan. Ngawi sendiri punya wedang khas unik yang disebut wedang cemue. Uniknya, wedang ini menggunakan bawang goreng merah sebagai taburannya.

Walaupun terkesan tak biasa, rasanya tetap nikmat. Wedang ini memadukan gurihnya santan, gula tebu, pedasnya jahe, tekstur lembut potongan roti tawar, dan taburan kacang serta bawang merah goreng. Bila Anda penasaran dengan rasanya, wedang cemue bisa mudah ditemukan di alun-alun Ngawi. (Jihan Karina Lasena)


Sumber : liputan6

0 comments: