Bagaimana Sih Konsep dan Pengertian Wisata Halal?

Rabu, Juli 14, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Masih banyak publik beranggapan keliru tentang pengertian wisata halal. Minimnya literasi menyebabkan sebagian masyarakat memahami bahwa wisata halal terkait dengan ajaran dan simbol Islam. Wisata halal adalah Islamisasi terhadap dunia pariwisata.

Ada beberapa pandangan dan konsep wisata halal. Salah satunya disampaikan Wapres KH Ma'ruf Amin saat masih menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

KH Ma'ruf Amin berpandangan perspektif wisata halal bukan mengubah objek wisata menjadi halal. Halal yang dimaksud adalah penyediaan pangan yang disajikan dalam restoran, ketersediaan tempat ibadah dan hotel yang dapat memiliki standar kehalalan, juga terkait masalah kesehatan dan higienitas.

Konteks wisata halal ada pada layanan, bukan mengubah objek atau alam wisata lainnya. Banyaknya wisatawan Muslim membutuhkan beberapa hal penting terkait ajaran agama yang harus dipatuhi.

Misalnya, arah kiblat, tempat sholat, makanan dan minuman halal serta level kesehatan lingkungan dan higienitas makanan.

Wisata halal berarti menjangkau dan menarik wisatawan Muslim datang berkunjung ke suatu objek wisata. Di Danau Toba, misalnya, selain banyak wisatawan Muslim lokal, juga ada banyak wisatawan Muslim dari Malaysia.

Mereka membutuhkan layanan wisata yang ramah Muslim. Jika mereka tidak merasa nyaman dengan layanan halalnya, agak sulit suatu objek wisata berkembang lebih besar.

Wisata halal merupakan adopsi dari negara-negara non-Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang melihat potensi besar dari pertumbuhan Muslim di seluruh dunia. Wisata halal diciptakan untuk mewadahi kebutuhan beribadah bagi para muslim di negara- negara non-OKI, seperti penyediaan tempat ibadah (mushola) dan restoran halal.

Negara-negara yang cepat menangkap peluang pelayanan wisata ramah Muslim ini adalah Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, Australia, Selandia Baru, Inggris, Prancis, dan banyak negara lainnya.

Wisata halal juga bukan membatasi gerak-gerik wisatawan. Turis-turis terutama turis asing tetap bebas menjalankan kebiasaanya saat berwisata.

Selain berkaitan dengan urusan makanan dan minuman dan pengelolaan destinasi, pariwisata halal juga berkaitan bagaimana di destinasi wisata halal terdapat perbankan syariah atau pengelolaan keuangan bersyariah. Bahkan, bila perlu ada paket tour wisata syariah, pemandu yang bersertifikasi.

Yang tidak kalah penting dari pariwisata halal bagaimana menciptakan lingkungan yang bersih, terutama dari sampah. Kekurangan destinasi wisata di Indonesia yang tergambarkan oleh wisawatan tidak bersih dan tidak terawat. Salah satunya toilet.

Perkembangan pariwisata halal bukan hanya dikembangkan oleh negara-negara Muslim di dunia. Banyak negara non-Muslim turut serta mengembangkan potensi halal guna menggaet pengunjung Muslim ke negaranya. Sehingga istilah Islamisasi pada wisata halal dinilai tidak tepat.

Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal (PPHI) Riyanto Sofyan menyatakan pariwisata halal merupakan brand internasional yang menyasar para wisatawan Muslim di seluruh dunia. Mengaitkan pariwisata Halal dengan Islamisasi maupun Arabisasi merupakan hal yang cenderung rasis. Sebab, wisata halal merupakan kebutuhan global dan berpotensi besar mendatangkan devisa bagi negara.

Istilah pariwisata halal justru banyak digunakan oleh negara-negara yang mayoritas non-Muslim. Tujuannya, untuk mendatangkan wisatawan Muslim mancanegara, seperti warga Malaysia, Singapura, Timur Tengah, Eropa, Amerika, Australia. 

Hal itu dilakukan agar wisatawan Muslim tetap nyaman berwisata dan tidak melanggar larangan agama, terutama saat makan dan minum.

Pariwisata halal, menurut Riyanto, dilengkapi dengan fasilitas untuk ibadah, seperti mushala, tempat wudhu, arah kiblat, dan berbagai fasilitas penunjang wisata bagi kaum Muslim saat melancong ke suatu tempat. 

Kata halal sendiri berasal dari bahasa Arab, dan kata itu berlaku di seluruh dunia. Bahkan, kata dia, saat ini Jepang, Korea, Thailand, Filipina, tengah gencar mengkampanyekan makanan halal sebagai gaya hidup berwisata. Jadi ini semacam extended services and facilities for Muslim travelers. 

Kata halal juga mirip dengan branding vegetarian untuk wisatawan asal India. Karenanya, istilah halal tersebut sudah merupakan Branding bagi kebutuhan wisatawan Muslim di waktu berwisata.

Pasar Wisata Halal Besar dan Luas

Potensi wisatawan Muslim cukup besar. Misalnya, Muslim yang berasal dari kawasan Timur Tengah, Malaysia, dan Singapura jika diakumulatifkan sama dengan jumlah wisatawan yang berasal dari China.

Bahkan, jauh lebih besar baik dari segi jumlah Outbond Tourist-nya maupun pengeluarannya selama berwisata.

Jadi, wisata halal bukan sekadar ceruk pasar baru akan tetapi sudah merupakan pasar utama sumber wisatawan mancanegara yang bisa dikembangkan. Indonesia sejatinya juga ingin mengambil segmen pasar ini yang belum digarap secara optimal guna mendatangkan lebih banyak devisa.

Sandiaga Uno tentang Wisata Halal

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan wisata halal merupakan layanan tambahan atau extension of services yang ditujukan bagi wisatawan Muslim. Wisata halal bukan berarti semua tempat wisata harus sesuai dengan ajaran Islam.

Konteks konsep wisata halal ini sejatinya menyatukan keberagaman Indonesia alih-alih mengusung suatu agama tertentu.

Maksud dari wisata halal adalah pariwisata yang ramah terhadap umat Muslim, seperti soal kehalalan makanan yang dijual.

Mengapa wisata halal menjadi prioritas dan perlu penanganan khusus? Sandiaga mengatakan permintaan wisata halal dan ramah Muslim semakin meningkat, yang ini harus diberikan fokus untuk menyesuaikan permintaan itu.



Sumber : Republika.co.id

0 comments: