Batik Jumputan, Inovasi Kunci Sukses dalam Berbisnis

Kamis, Juli 22, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Batik Jumputan (Foto: Instagram Dea Jumput)


 Batik jumputan merupakan salah satu jenis batik yang menggunakan teknik jumputan untuk membuat motifnya. Batik jumputan juga disebut batik ikat celup karena proses pembuatannya dengan mengikat dan mencelupkan kain ke dalam pewarna.

Tapi bagaimana sebenarnya tips membuat batik jumputan? Karena itu pengusaha batik jumputan Tuliswati, pendiri dan pemilik brand Dea Modis di kota Jogjakarta, akan berbagi tips membuat batik jumputan. Dirinya sudah melakoni produksi batik jumputan sejak 2010 lampau dan terus konsisten hingga hari ini.

Soal batik jumputan dirinya harus disebut sebagai salah satu tokohnya di Jogja bahkan Indonesia. Batik jumputan yang diproduksinya tidak hanya disukai di dalam negeri tapi sebagian produknya juga dibawa ke beberapa negara seperti Jepang, Kanada, India, hingga Paris.

Salah satu kunci suksesnya adalah disiplin berinovasi dalam desain agar selalu berbeda dengan kompetitor. Dia bercerita soal membuat desain rutin dilakukannya usai salat subuh. Dalam sehari setidaknya bisa lima desain yang dibikinnya atau bisa 10 desain dalam satu bulan. Tidak hanya desain baru tapi juga bisa dari desain lama yang dikreasikan kembali.

Berikut tips dari Tuliswati untuk menghasilkan batik jumputan yang bagus;

Pertama, motifnya berpola. Menurutnya pola harus digambar lebih dulu. Posisinya juga harus tepat. Seperti pola bunga harus ditata simeteris ataupun pola bundar juga harus ditata simetris. Saat ini dia mengaku untuk desain sedang tidak ada yang naik daun karena pandemi Covid19. Tapi dirinya tetap menyiapkan desain-desain seperti tugu lama, tugu baru, dan motif keris.

Kedua, tali harus kencang. Dalam hal mengikat bisa menggunakan tali benang ataupun tali rafia. Lalu diikat sekencang mungkin. Tujuannya agar warna yang diikat tali tidak kemasukan warna dan berbentuk pola putih.

Ketiga jelujur atau jahitan sementara. Ini juga harus kencang agar membentuk motif yang diinginkan. Misalnya bentuk bunga atau daun. Karena bila tidak kencang nantinya desain yang digambar tidak akan terbentuk.

Keempat pewarnaan yang harus betul. Lazimnya biasa menggunakan warna alami dan kimia. Ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pembeli di Indonesia disebutnya suka warna yang mencolok sehingga digunakan pewarna kimia. Sementara masyarakat Jepang lebih suka warna-warna alami. Proses mewarnai alami disebutnya cukup lama atau 5 hingga 10 kali proses pencelupan memakan waktu hingga 3 hari. Sementara proses kimia lebih singkat dengan 3 kali pencelupan dan bisa selesai hanya dalam satu jam.

Kelima penguncian harus tepat. Proses kunci bisa menggunakan garam, hcl, atau waterglass. Ini juga harus tepat agar motifnya tidak rusak. Perajin baru biasanya menggunakan takaran kebanyakan ataupun mencuci tidak terlalu bersih. Risikonya akan menempel di kain dan hasilnya kain akan robek-robek.

Keenam proses pencucian. Bisa dilakukan hingga tiga kali mengganti ember. Setelah dicuci sampai bersih kain lalu disetrika dan siap dijual.

Dia bercerita keunggulan batik jumputan adalah murni buatan tangan manusia. Karena itu dia berharap pemerintah mau mendukung batik jumputan tidak dipandang sebelah mata karena ini adalah warisan leluhur bangsa yang wajib dilestarikan. Jadi harapannya agar pemerintah mendukung berupa pemakaian seragam PNS dari batik jumputan selain batik lainnya. Pemda Yogyakarta disebutnya sudah menginisiasi dengan pegawai Pemda memakai seragam selain batik dan lurik.


Sumber : okezone.com

0 comments: