Bisnis Hotel di India Rugi Ratusan Triliun, Jutaan Karyawan Terancam PHK

Selasa, Juli 13, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Bisnis hotel dan restoran di India menjadi dua sektor yang paling terpukul akibat pandemi Covid-19. Sejumlah kebijakan pembatasan dan penguncian juga berpengaruh terhadap semakin anjloknya pendapatan bisnis hotel dan restoran.

Dilansir dari DW pada Minggu, Federasi Asosiasi Hotel dan Restoran India (FHRAI) mencatat dari total 150.000 hotel di India, sekitar 20 persen hingga 30 persen di antaranya terancam tutup permanen. Wakil Presiden FHRAI Gurbaxish Singh Kohli Hampir setiap segmen yang terkait dengan industri perhotelan, baik pertemuan, konferensi, restoran, pernikahan tujuan, dan hiburan keluarga, lumpuh akibat krisis.

Gurbaxish menjelaskan, selama terjadinya pandemi Covid-19 yaitu sepanjang tahun 2020 hingga saat ini, tercatat kerugian yang dialami industri hotel dan restoran mencapai 17,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 252 triliun. Banyak jaringan hotel yang telah mengambil langkah-langkah seperti membekukan perekrutan baru, menutup sebagian lantai hotel dan menutup restorannya.

"Dalam beberapa kasus mereka juga mulai melakukan pemutusan hubungan kerja dengan karyawannya," ujar Gurbaxish. 

Dia mencontohkan, Indian Hotel Company Limited (IHCL) yang merupakan grup perhotelan terbesar di Asia Selatan, mencatatkan kerugian mencapai 7,2 miliar rupee atau setara Rp 1,4 triliun sepanjang tahun 2020 hingga 2021. Padahal pada 2019, IHCL sempat menorehkan laba sebesar 3,54 miliar rupee atau ekuivalen Rp 688 miliar. Sementara beberapa hotel lainnya tutup akibat tekanan keuangan karena pandemi Covid-19.

Sebut saja Hotel Hyatt Regency yang terkenal sebagai hotel ikonik di India, hotel yang berlokasi dekat Bandara Mumbai ini sejak Juni 2021 lalu memutuskan untuk tutup sementara karena tekanan keuangan. Selain itu pada Maret 2021, Marriott International telah mengeluarkan pernyataan mulai merumahkan puluhan ribu karyawannya yang tersebar di seluruh dunia. 

Marriott Internasional diketahui mengelola sebanyak 84 hotel di India dan banyak hotel lain di luar negara tersebut. Tak hanya hotel besar dan berbintang, pandemi Covid-19 juga membuat pemain kecil atau pebisnis hotel-hotel kecil di India juga terkena dampaknya. "Selain hotel mewah, pemain perhotelan kelas menengah juga hancur, dan banyak yang bahkan tidak dapat membayar tagihan listrik mereka dan telah memutuskan untuk menutup hotel atau menjualnya," ujarnya.

Salah seorang eksekutif senior Jaypee Palace Hotel Hari Sukumar mengatakan, jutaan pekerja di industri perhotelan terancam terkena PHK karena pandemi Covid-19. 

"Industri pariwisata dan perhotelan India hancur karena pandemi, ada sebanyak 38 juta pekerjanya yang merupakan 70 persen pekerja di sektor ini terancam di PHK," ujar Hari. 

Jika tren ini terus berlanjut, tentu saja akan berdampak buruk bagi indeks pengangguran di India. Hal ini karena sektor perotelan menyumbang 12,75 persen dari semua pekerjaan di India. Untuk itu, FHRAI mendesak pemerintah India untuk turut andil dalam memperbaiki kondisi industri perhotelan di negaranya. FHRAI juga telah meminta sejumlah insentif dari pemerintah salah satunya yaitu meminta moratorium pembayaran pinjaman dan bunga. 

"Sebagai permulaan, kami telah meminta pemerintah untuk menawarkan kami pembebasan pajak properti, biaya air, biaya listrik, dan biaya lisensi cukai untuk periode penguncian," tambah Gurbaxish.




Sumber : Kompas.com

0 comments: