Cerita Akhir Pekan: Isolasi Mandiri Mampu Dongkrak Bisnis Hotel?

Sabtu, Juli 10, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan bahwa isolasi mandiri (isoman) yang dilakukan sejumlah hotel tentu bisa jadi salah satu cara untuk mendongkrak bisnis perhotelan yang selama ini mengalami kesulitan. Berdasarkan informasi yang ia peroleh banyak hotel yang membuka tamu isoman penuh okupansinya.

"Sejauh informasi yang saya dapatkan, dari banyak hotel yang membuka isolasi mandiri di Jakarta semuanya penuh. Saat ini sudah ada 13 hotel yang membuka program isolasi mandiri," kata Maulana Yusran saat dihubungi Liputan6.com, Jumat.

Lelaki yang akrab disapa Alan itu mengungkapkan, saat ini pihak PHRI tidak mengkoordinir hotel-hotel mana saja yang yang membuka program isolasi mandiri. Sekarang ini pihak hotel yang mengajukan program isoman.

"Saat ini rujukan hotel yang sebagai tempat isoman itu datang dari rumah sakit, bukan dari PHRI. Jadi, kalau mereka yang mau isoman di hotel, maka rujukannya dari rumah sakit. Pihak hotel dan rumah sakit menjalin kerja sama," kata Alan.

Isolasi mandiri di hotel bisa mendongkrak bisnis perhotelan juga diamini Ketua PHRI DKI Jakarta, Soetrisno Iwantono. Namun, hotel-hotel lain pun harus dapat  tamu yang menjalani isoman.

"Seharusnya seluruh hotel dapat mereka yang isoman, tapi kalau hotelnya yang itu-itu saja, maka yang lainnya tidak kebagian. Seharusnya, program isoman itu lebih dibuka kepada hotel secara lebih banyak, kan, isoman itu bayar sendiri," kata Soetrisno, Jumat.

Menurut Soetrisno, seharusnya hotel-hotel yang ada harus diberikan kesempatan yang lebih luas untuk membuka program isoman agar terjadi persaingan yang sehat. Jadi, hotel-hotel yang memenuhi kriteria harus diberikan kesempatan.

"Karena itu akan menolong hotel dan masyarakat. Hotel akan mendapatkan penghasilan, sedangkan masyarakat bisa beristirahat dengan nyaman," terang Soetrisno.

Bangkrut

Saat ini, kata Soetrisno, ada sekitar 900 hotel di Jakarta, baik hotel bintang maupun nonbintang. Dengan harga variatif, masyarakat bisa memilih sesuai dengan kemampuannya.

"Kalau harganya yang lebih murah itu hotel nonbintang dan masyarakat yang perlu diberi harga yang murah. Yang penting, hotel-hotel tersebut memenuhi kriteria yang dibutuhkan," ujar Soetrisno. "Intinya, mereka memenuhi standar protokol kesehatan," imbuh dia.

Saat ini, kata Soetrisno, hotel-hotel yang tidak ikut program isoman sedang mengalami kesulitan karena tidak ada tamu yang datang. Pandemi membuat orang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

"Saat ini orang nggak bisa keluar rumah. Ngapain juga ke hotel, makan saja susah. Karena itu, saat ini banyak hotel yang tamunya hanya satu dua orang saja," tegas Soetrisno.

Saat ini hotel-hotel dibiaya oleh para pemiliknya. Lama-kelamaan kalau tidak ada tamunya, maka hotel-hotel yang ada bisa bangkrut. "Itu terjadi tak hanya di Jakarta, tapi juga di Indonesia, bahkan di dunia," tegas Soetrisno.

Lebih Banyak Hotel

Saat ini masyarakat membutuhkan hotel untuk isoman karena pemerintah sudah tidak menyediakan hotel untuk isolasi secara gratis. Kondisi itu yang menjadi peluang hotel untuk bisnis dengan membuka program isoman.

"Isolasi itu ada beberapa macam, ada yang menerima OTG umum, ada yang kerja sama dengan rumah sakit, ada yang bekerja sama dengan korporaasi. Artinya, mereka hanya menerima tamu dari korporasi saja, tapi juga yang menerima tamu campuran," ujar Kepala Seksi Usaha Pariwisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Raymond Stefanus, Jumat.

Dari empat itu, kata Raymond, yang paling banyak hotel bekerja sama dengan rumah sakit dan korporasi. Mereka biasanya sudah menjalin kontrak, mereka sudah memiliki kuota jumlah orangnya.

"Kalau mereka kuotanya tidak terpenuhi, maka mereka juga bagi masyarakat umum. Artinya, bagaimana kamar mereka terpenuhi," ungkap Raymond. "Semua yang menjalani isoman, itu OTG semua, nggak boleh dicampur," imbuhnya.

Saat ini hotel yang menyiapkan program isolasi mandiri berbayar itu ada 13 hotel di DKI Jakarta. Jumlah itu tentu akan bertambah seiring kebutuhan masyarakat terhadap tempat isoman dan insiatif hotel .

"Sekarang sudah banyak yang mengajukan untuk membuka isoman, ada sekitar 10 hotel lagi. Meski banyak yang mengajukan, tidak semuanya disetujui atau ditolak karena nggak layak, karena banyak kriteria yang harus dipenuhi, pengelolaan limhah," tambah Raymond. "Jadi, nggak bisa asal terima, karena ini risiko tinggi," sambungnya.

Kebutuhan masyarakat untuk menjalani isoman menjadi peluang bagi hotel. Selain itu, harga untuk isoman tersebut juga terbilang tak terlalu mahal sehingga membuat banyak orang yang tertarik.

"Kalau harganya tinggi, tidak mungkin orang tertarik. Mereka tentu akan memilih isoman di rumah, kecuali kalau yang tinggal di rumah sudah kena semua Covid-19," kata Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Timur, Rus Suharto, Jumat.

Kus mempersilakan kepada hotel-hotel lain yang ingin membuat program isolasi mandiri berbayar ke Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta. Tujuannya untuk dilakukan persetujuan teknis protokol kesehatannya, seperti zona hijau dan zona merah, penyajian makanan, lpengelolaan limbah, laundry agar tidak memaparkan kepada pihak yang sehat.

"Sekarang sudah ada 14 hotel yang membuat program isoman berbayar bagi OTG. Untuk biayanya, silakan dicek kepada pihak hotel. Yang jelas, kalau hotel itu penuh, maka berarti itu sesuai dengan kondisi keuangan mereka," kata Rus.

Hilangkan Stigma

Sementara itu, pengamat parisiwata dari Universitas Dyana Pura, Putu Chris Susanto mengatakan isolasi mandiri di tempat, selain kediaman sendiri sangat diperlukan, terutama bagi mereka yang kondisi tempat tinggalnya tidak memadai untuk benar-benar melakukan pemisahan dengan anggota keluarga atau bahkan tetangga dekat.

"Tidak bisa dipungkiri, kita hidup di lingkungan yang high touch dan close-knit. Proksimitas dengan satu sama lain, baik secara fisik maupun psikologis, merupakan kekuatan masyarakat kita namun dalam konteks pandemi dapat menjadi kelemahan," kata Putu secara tertulis, Jumat.

Bagi Putu, jika ada penyedia jasa akomodasi seperti hotel yang bisa menyediakan ruang aman untuk isolasi mandiri, bagi pasien yang bergejala ringan dan OTG merupakan sesuatu yang baik. "Dari sisi usaha perhotelan, juga bisa mendongkrak bisnis yang sedang anjlok," kata dia.

Namun tentunya ada konsekuensi. Pertama, hotel harus punya komitmen tinggi terhadap CHSE dan menjaga kesehatan dan keselamatan pegawainya. Mereka juga harus fokus ke target pasar isolasi mandiri saja.

"Artinya. tidak bisa menerima tamu lain. Ke depannya, hotel-hotel yang dipakai isolasi mandiri harus berjuang keras untuk menghilangkan stigma negatif sebagai hotel eks tempat isolasi pasien," tutur Chris.



Sumber : Liputan6

0 comments: