Jangankan Seperangkat Perhiasan, Satu Cincin Saja Sudah Memberatkan Calon Suamiku

Sabtu, Juli 03, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

bridezilla dan cincin nikah

Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

Oleh: Puji Khristiana Dyah Nugrahaini

"Maaf, aku nggak punya uang untuk membeli seserahan mahal. Hanya satu cincin ini saja yang mampu kubeli. Itu pun bukan cincin yang mahal." Itu isi pesan singkat laki-laki yang sebulan lagi akan menjadi suamiku. Aku menarik napas panjang. Tidak masalah. Meski hanya satu cincin saja sudah cukup untuk menjadi cincin pernikahan.

Tepat sebulan sebelum acara pernikahan kami, aku membantu acara nikahan sepupuku. Acaranya cukup mewah. Ketika rombongan keluarga pengantin laki-laki datang, banyak sekali yang dibawa. Mulai dari kue-kue mahal, baju, sepatu, satu set perhiasan yang serba mahal, beberapa furnitur mahal seperti lemari, meja rias, tempat tidur, bahkan satu unit motor matic keluaran terbaru. Sungguh sebuah acara pernikahan yang digelar mewah.

Segala seserahan yang dibawa rombongan pengantin laki-laki menunjukkan dari kalangan ekonomi mana mereka berasal. Dengan seserahan mahal yang mereka bawa hingga membuat decak kagum siapa saja, menunjukkan bahwa calon suami sepupuku berasal dari keluarga berada. Bisa dihitung. Berapa puluh juta rupiah uang yang dihabiskan untuk membeli seserahan mahal itu.

Awalnya aku bahagia melihat gegap gempita pesta pernikahan sepupuku. Saking bahagianya, aku kirim foto acara pernikahan itu ke calon suamiku. Termasuk juga beberapa seserahan pernikahan yang dibawa. Maksudku hanya sekadar ingin berbagi kebahagiaan. Tapi ternyata calon suamiku mengartikan lain. Dia mengira aku menginginkan seserahan semewah itu.

Akhirnya kujelaskan. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan itu. Bukan menginginkan seserahan semahal itu. Syukurlah dia paham.

Lalu apa kabar hatiku? Yakin tidak menginginkan seserahan mewah seperti pengantin lainnya?

Tidak bisa dipungkiri. Dari hati kecil yang paling dalam aku tetap menginginkannya. Siapa yang tidak ingin menjadi wanita paling spesial bagi seorang laki-laki. Menjadi wanita paling diinginkan sehingga laki-laki akan melakukan apapun demi perhiasan mahal untuk seserahan.

Tapi sepertinya aku hanya bisa menahan keinginan itu sendirian. Laki-laki yang akan menikahiku hanya mampu memberikan cincin murah sebagai maharnya. Tidak masalah. Siapa tahu pernikahan kami kelak dibekali dengan rizki yang melimpah. Hingga suamiku mampu membelikan perhiasan semahal itu dikemudian hari.

Pernikahan yang Sederhana

Ternyata perdebatan tentang perhiasan itu tidak hanya di batinku saja. Betapa kagetnya kedua orang tuaku saat membuka seserahan lamaran beberapa hari sebelum hari pernikahan. Mereka tidak mendapat seserahan mewah layaknya yang didapat perempuan saat menikah dari calon suami mereka di kampung kami.

Kedua orang tuaku memang tidak sampai marah besar. Tapi cukuplah terlihat raut mendung di wajah mereka. Harapan agar anak perempuan mereka satu-satunya akan mendapat laki-laki yang akan membanggakan mereka pupus sudah. 

Mewahnya seserahan yang dibawa calon pengantin laki-laki seperti mengajak lomba para orang tua yang akan menikahkan anaknya. Perlombaan ini memang tidak diumumkan secara gamblang. Hanya seperti norma adat tak tertulis di mana orang tua akan sangat bangga ketika anak gadisnya mendapat seserahan mewah. Dan yang mendapat seserahan paling mewah adalah mereka yang menang.

Mendungnya wajah kedua orang tuaku seperti melihat kekalahan yang jelas terpampang di depan mata. Meski tidak banyak bicara, namun sikap diam mereka seperti menjelaskan banyak hal. Kekecewaan mereka jelas sekali. Ternyata dengan status lulusan sarjana tidak lantas mendapat laki-laki kaya yang bisa memberikan seserahan mewah layaknya anak gadis tetangga.


Sikap diam kedua orang tuaku beberapa hari sebelum hari pernikahan seperti menciptakan perang dingin di dalam rumah kami. Sayangnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya diam. Sambil berharap semoga perang dingin ini tidak mempengaruhi acara pernikahan pada hari H yang tinggal beberapa hari lagi.

Kupandangi cincin emas putih itu. Dia terlihat meringkuk nyaman di dalam kotak kecil berwarna merah. Aku tahu dia tidak salah. Berapa pun harganya, dia tetap menjadi bukti keseriusan laki-laki yang akan melamarku. Aku berjanji dari dasar hati yang paling dalam. Apa pun keadaan ekonomi keluargaku kelak, aku tidak akan menjualnya. Biarlah cincin berharga murah ini menjadi barang paling mewah dalam rumah kami. Setidaknya dia menjadi bukti nyata bahwa bukti cinta tidak harus selalu dengan barang-barang mewah dan mahal.

Menjual Cincin

Ternyata keadaan perjalanan rumah tanggaku benar-benar menguji janji itu. Suamiku terkena PHK 3 bulan sebelum kelahiran anak pertama kami. Dan jadilah cincin nikah murah itu menjadi barang mewah satu-satunya yang bisa kami jual untuk biaya kelahiran anak kami.

"Maafkan Abang. Adek jual saja cincin itu. Abang janji kalau perekonomian kita sudah membaik, abang akan belikan cincin lagi. Kalau perlu dengan satu set perhiasan lainnya."

Aku mengangguk. Menurut saja dengan permintaan suamiku untuk menjual cincin itu. Meski sebenarnya aku sendiri tidak yakin suamiku akan membelikannya lagi. Tapi memang tidak ada cara lain lagi. Sebenarnya aku sempat mendatangi pegadaian. Berharap cincin ini bisa digadaikan untuk biaya persalinan. Tapi pihak pegadaian menolak menerima cincin itu. Alasannya itu hanya cincin emas putih yang tidak akan pernah laku jika dijual.

Baiklah. Langkah terakhir sepertinya memang harus di toko emas. Kusodorkan cincin sekaligus surat pembeliannya. Beruntung toko emas mau membeli dengan harga yang tidak seberapa. Jangankan bisa untuk membeli perlengkapan bayi. Untuk biaya persalinan saja masih jauh dari kata cukup.

Sekian tahun berlalu dalam pernikahan kami. Jangankan bisa membeli satu set perhiasan seperti janji suamiku. Bahkan sebuah cincin emas untuk menggantikan cincin nikah yang terjual saja suamiku belum sanggup. Ekonomi keluarga kami memang tidak seberuntung keluarga lainnya. Tapi aku bersyukur masih dikaruniai suami yang setia dengan 2 anak laki-laki yang lucu.

Aku selalu berjanji dalam hatiku sendiri. Suatu saat jari manis ini akan ada cincin yang melingkarinya. Entah kapan. Mimpi itu akan tetap ada. Meski jika ada uang lebih selalu habis untuk  kebutuhan anak-anak. Dan semoga lewat lomba your stories fimela ini aku bisa mewujudkan mimpi memiliki set perhiasan yang aku inginkan sejak dulu.

Sumber : fimela

0 comments: