Karena Ayah Kandungku, Pernikahan dengan Pria Pilihanku Itu Batal

Sabtu, Juli 17, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

bridezilla dan dijodohkan

Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

Oleh: HayunYun

Jodoh memanglah sebuah pilihan. Akan tetapi, adakalanya kita tidak bisa bersatu dengan sosok yang dipilih jika saja takdir tidak menggariskan. Pernikahan impianku sudah di depan mata. Awal kisahku bertemu tanpa sengaja, ketika aku mengikuti salah satu organisasi di kampusku. Jatuh cinta pada pandangan pertama itulah yang aku rasakan dikala menatap sosok seseorang lelaki yang tinggi, tampan, dan beribawa. Dengan suara ya yang begitu khas membuatku menjadi salah tingkah.

Aku tipe orang yang suka memendam rasa jika mencintai seseorang dan berakhir cinta tak terbalaskan. Hatiku terkadang tidak selaras dengan perbuatan, aku tidak bisa mengontrol tingkahku jika berhadapan denganya. Beberapa kali aku ketangkap basa mencuri pandang padanya dan ada rasa cemburu ketika dia dekat wanita lain.

Singkat cerita enam bulan sudah berlalu aku mengikuti semua rangkaian kegiatan organisasi. Cinta yang kupendam nyatanya tak bertepuk sebelah tangan. Sepulang dari kegiatan organisasi dia tak segan menyapaku dan berniat mengantar pulang.

Selama perjalanan pulang dia mengajaku kesebuah kedai makan tidak jauh dari kosan. Tanpa basa-basi dia mengutarakan maksud dan tujuanya. Dia ternyata menyukaiku dari awal (memendam rasa) dan tanpa ragu dia mengajak untuk berkomitmen.

Dia lelaki yang tidak pernah pacaran dan merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya melihatku. Mengutarakan niat baiknya untuk segera meminangku dan menyakinkan  bahwa  menikah selama kuliah bukan masalah besar. Karena cinta sudah ada, akhirnya aku putuskan berkomitmen denganya tanpa pikir panjang. Syok dan bahagia seketika itu yang aku rasakan.

Hubungan yang kami jalani tidak seperti orang pacaran umumnya. Hanya bertemu beberapa kali dan saling mendukung satu sama lain. Aku tidak percaya dia begitu serius dengan ucapanya dan aku menghargai semua usahanya.

Menikah dengan Pria Pilihan Ayah

Setalah dua bulan lamanya dia datang menemui dan mengajakku bertemu orangtuaku di kampung, untuk menyampaikan maksud dan tujuan baiknya meminangku. Kedua orangtuaku pun merestuinya.

Semua berjalan sempurna, satu bulan kemudian dia dan keluarganya membawa hantaran datang melamar  dan mengikatku dengan sebuah cincin yang tersemat di jari manisku. Hari itu kedua belah pihak sudah mendiskusikan dan menyetujui tempat, tanggal, dan bulan pernikahan kami. Segera aku konsep acara pernikahanku sendiri.

Meski aku masih kuliah nyatanya semua berjalan dengan baik. Satu bulan lagi acara pernikahan impian dengan pujaan hatiku akan berlangsung, bahkan hampir 90 % semua sudah selesai. Mulai dari tempat, dekor ruangan, make-up, katering, baju akad dan resepsi sudah aku booking semua tinggal souvenir dan mencetak undangan saja.

Takdir Tuhan berkata lain, menjelang pernikahan godaan itu mulai datang dan membolak–balikkan hati kami. Pernikahan di depan mata harus dibatalkan secara sepihak dan lebih menyakitkan dilakukan oleh ayah kandungku. Seorang lelaki paruh baya datang kerumahku beserta istri dan anak laki–lakinya. Mereka adalah sahabat ayahku.

Mereka datang dengan tujuan menangih janji ayahku soal perjodohan anak mereka. Melihat anaknya sudah mapan dan bekerja di salah satu BUMN membuat ayahku berpikir ulang. Mengingat calon mantunya masih anak kuliah yang hanya bekerja part time di sebuah kafe.

Semua usaha sudah kami lakukan untuk menyakinkan bahwa kami saling cinta dan dia berjanji akan membuat aku bahagia, tetapi nyatanya tak bisa meluluhkan hati ayahku yang sekeras batu itu. Dia bahkan tak rela menikahkanku dan menggagapku anak lagi jika aku tetap nekad untuk menikah denganya.

Menangis pun percuma, bukan kami tidak ingin lebih berjuang. Dia (calonku) akhirnya mengikhlaskan aku walau itu berat, alasannya dia tidak ingin aku menjadi anak durhaka.

Semua seserahnya aku kembalikan dan aku meminta maaf kepada keluarga besarnya. Ada rasa malu, sedih, kecewa menjadi satu. Pernikahan impianku tetap berlangsung tetapi dengan suami yang dijodohkan oleh ayahku. Setelah ijab qobul aku berjanji untuk mulai mencintai dengan sepenuh hati dan mengiklaskan semua.


Sumber : fimela

0 comments: