Lahir di Eks Kandang Ayam, Hermanto Tanoko Tumbuh Jadi Taipan

Senin, Juli 05, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

1. Lahir di Eks Kandang Ayam, Hermanto Tanoko Tumbuh Jadi Taipan

Sebelum masuk ke dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia, Hermanto Tanoko lahir dan pernah tinggal di bekas kandang ayam. (CNN Indonesia/Fajrian).

Daftar 50 orang terkaya Indonesia diisi beberapa wajah baru. Salah satu muka yang masuk baru ke dalam daftar adalah Wijono dan Hermanto Tanoko.

Forbes menempatkan mereka di posisi 39 dengan total kekayaan US$700 juta atau Rp9,86 triliun per Desember 2020 lalu. Namun, sebelum menjadi orang kaya raya, Hermanto lahir dan pernah tinggal di bekas kandang ayam.

Dikutip dari berbagai sumber, salah satunya channel Youtube 'SuccessBefore30' Hermanto Tanoko menjelaskan itu semua terjadi karena keluarganya hidup dalam kemiskinan yang salah satunya disebabkan oleh Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 1959 tentang Larangan Bagi Usaha Perdagangan Ketjil dan Etjeran Jang Bersifat Asing di Luar Ibukota Daerah Swatantra Tingkat I dan II serta Karesidenan.

Aturan ini melarang orang China untuk melakukan perdagangan eceran di bawah tingkat kabupaten, kecuali di luar ibu kota daerah. Aturan ini menekan orang tuanya dalam menjalankan usaha.

Karena kebijakan itu, orang tuanya sempat harus tinggal di emper, vihara, sebelum bisa menyewa rumah berukuran 1,5x9 meter yang pernah digunakan sebagai kandang ayam.

"Jadi begitu saya lahir, sudah tinggal di kandang ayam," katanya.

Karena kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan itulah, Hermanto kecil harus hidup prihatin, termasuk dalam hal jajan. "Enggak bisa jajan karena tau harganya sangat mahal," katanya.

Pandai Berbisnis

Tekanan ekonomi di masa kecil ternyata membuat naluri bisnis Hermanto terasah. Bahkan, sejak ia berusia 5 tahun atau saat mamanya membuka toko kelontong.

Di toko itu, ia ditawari oleh ibunya untuk menginvestasikan uang angpao yang didapatnya dari Imlek untuk membeli tepung terigu yang kebetulan harganya akan naik.

Ia melirik tawaran orang tuanya. Dan benar saja, harga terigu naik sehingga ia mendapatkan keuntungan.

Itu membuat Hermanto kecil semakin agresif. Setiap mendapatkan keuntungan, ia selalu memutarnya untuk membeli produk lain yang akan dijual di toko kelontong milik ibunya.

"Akhirnya saya di toko itu, jadi senang. Saya jadi tahu, jual roti itu untungnya cuma sekian, telur asin untungnya sekian, minyak goreng sekian," katanya.

Dari situ, dia juga paham mencari uang tidak gampang.


Naluri bisnis Hermanto kian terasah di usia 9 tahun, tatkala dia telah diajak sang ayah membantu menjaga toko catnya. Di sana, ia diminta melayani pembeli mulai dari satu ons, dua ons.

Dari sana ia belajar tentang product knowledge, kualitas, dan keunggulannya dibandingkan produk lain serta potensi keuntungannya. Karena pengetahuannya itulah, kalau ada pembeli brand cat yang sudah terkenal datang, ia selalu tawarkan ke brand di mana ayahnya menjadi agen tunggal. Itu dilakukan supaya keuntungan yang didapat ayahnya bisa lebih banyak.

Strateginya membuahkan hasil. Hampir 90 persen pembeli cat menuruti keinginannya. Karena kepiawaian itu, saat berusia 14 tahun Hermanto diberi kepercayaan ayahnya untuk mengelola apotek yang baru dibeli di samping rumahnya.

Meski masih kecil, ia sudah punya mimpi besar; apoteknya harus menjadi yang paling ramai di Malang. Untuk mewujudkan ambisinya, dia belajar dari sana sini dan menyelidiki strategi yang dijalankan apotek yang sudah ramai.

Strategi itu antara lain soal harga jual, besaran keuntungan yang diambil, waktu pelayanan pelanggan.

"Semua saya selidiki," jelasnya.

Dari penyelidikan itu, ia mendapat jawaban. Supaya ia bisa menjual harga obat secara murah, ia harus membelinya secara kontan. Pembelian kontan dilakukan supaya ia dapat potongan 15 persen sampai 20 persen.

Potongan harga itulah yang kemudian ia gunakan untuk memberikan harga obat yang lebih murah dibanding apotek lain. Tak hanya dengan strategi harga murah, supaya pembeli berdatangan, ia juga menjalankan strategi menggratiskan ongkos kirim obat.

Bangun Pabrik Cat Avian

Pintu sukses Hermanto Tanoko makin terbuka saat ia membantu ayahnya mengembangkan pabrik cat Avian. Ilustrasi. (Tangkapan layar avianbrands.com).

Hermanto bercerita jalan kaya terbuka lebar ketika ia berusia 19 tahun. Pada akhir 1982 atau selepas menikah, ia diminta ayahnya untuk membantu di Pabrik Cat Avian yang baru dirintis pada 1 November 1978.
Pada saat diajak, secara kritis ia bertanya kepada ayahnya soal visi Avian ke depan.

"Cita-cita papa apa? Dia nangkep. Dia ingin Avian jadi nomor satu di Indonesia. Padahal, pabriknya masih belum besar, pagar saja tidak ada. Drum juga ditaruh di sawah," katanya.

Ambisi ayahnya itu membuatnya bersemangat. Karena itulah, ia bilang ke ayahnya untuk meningkatkan kualitas cat produksinya.

Kualitas itu membuat kinerja Avian mentereng. Penjualan Avian terus tumbuh double digit setiap tahunnya. Berawal dari pabrik seluas 800 meter persegi dengan jumlah karyawan awal 18 orang, Avian kini menjelma jadi perusahaan besar.

Ada 2 pabrik cat Avian yang kini aktif beroperasi dengan total 200 juta kilogram per tahun. Selain bisnis cat, Hermanto Tanoko juga merambah bisnis consumer goods melalui perusahaan bernama Tanobel Food (PT Sariguna Primatirta).

Sejumlah produk seperti air mineral Cleo,  Herbal & Healthy, Roller, dan Mmmilk Crack It menjadi andalan perusahaannya. Pada kurun waktu Januari hingga September 2017, omzet penjualan air minum ini bahkan naik jadi Rp 440 miliar.

Selain cat dan consumer goods, Hermanto Tanoko juga merambah bisnis properti melalui perusahaan bernama Tanrise Property alias PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. Berkat kepiawaiannya itu, ia berhasil mendirikan Tancorp, sebuah group usaha yang telah memiliki lebih dari 12 ribu karyawan, menaungi 75 perusahaan, 300 brand.

Sumber : cnn Indonesia

0 comments: