Laris Manis Bisnis Jual Beli Buku Bekas di Tengah Pandemi

Senin, Juli 12, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Masa pandemi Covid-19 yang memaksa kita tetap tinggal di rumah terkadang membosankan. Salah satu cara mengisi kebosanan bisa dengan membaca buku.

Buku-buku yang tadinya hanya diletakkan di rak-rak lemari pun kini mulai dibaca. Namun, apakah buku yang telah dibaca tersebut akan dibaca lagi?

Kebanyakan orang jarang untuk membaca kembali buku untuk kedua kalinya. Hal itu pula yang dirasakan oleh pengusaha jual buku bekas, Sucipto. Ia baru memulai bisnis jual beli buku bekas pada akhir Mei 2021 lalu dengan usahanya yang dinamai Pustakaaa.

"Jarang sekali saya membaca buku tersebut untuk kedua kalinya. Akan tetapi buku tersebut masih baru dan sayang sekali apabila hanya disimpan di dalam lemari. Singkatnya, buku bukanlah barang sekali pakai, setelah isi bukunya kita ambil, fisik buku masih ada," katanya saat dihubungi Liputan6.com, Jumat.

Awalnya, ia hanya ingin mengisi waktu luang di masa pandemi ini dengan membaca. Akan tetapi,  harga buku di pasaran tidak terjangkau untuk pekerja kantoran sepertinya, khususnya buku-buku impor yang rata-rata harganya bisa mencapai ratusan ribu.

"Sehingga muncul ide untuk menjual buku-buku yang sudah saya baca agar saya punya duit lebih untuk membeli buku baru. Dari sanalah saya mendapat ide untuk membangun Pustakaaa," ia menjelaskan.

Cara Jual dan Beli Buku Bekas

Untuk menjual buku bekas ke Pustakaaa caranya cukup mudah. Sucipto mengatakan penjual cukup mengirimkan foto buku via DM Instagram. Setelah itu, ia akan memberikan penawaran harga per bukunya.

"Kami fleksibel dengan jumlah buku yang dibeli. Sepanjang kami cocok dengan kondisi dan harga buku tersebut, bisa satu buku saja atau seratus buku, tidak masalah," ujarnya.

Untuk jenis buku yang mereka terima, Pustakaaa mempertimbangkan segala jenis buku Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Syarat buku yang dapat dijual yaitu harus buku original, bukan KW atau reprint. Buku tidak boleh rusak, robek, atau ada halaman yang hilang.

Mereka juga tidak menerima buku yang sudah ketinggalan zaman. Ia mencontohkan buku mengenai panduan Microsoft Excel 1997. Mereka masih menerima buku yang kotor. Namun, harga jualnya akan disesuaikan. Sejauh ini, mereka paling banyak membeli buku impor berbahasa Inggris.

Mekanisme pricing kami sangat dinamis, dalam artian kami mempertimbangkan tingkat kepopuleran, kondisi, serta supply and demand buku di pasar buku bekas," katanya.

Kategori Buku

Mereka mengkategorikan kondisi buku ke dalam empat kategori yakni Like NewVery GoodGood, dan Acceptable. Harga buku yang mereka jual disesuaikan dengan kondisi masing-masing kategori buku tersebut.

Setelah buku diterima dari penjual, mereka akan membersihkannya, termasuk penyemprotan disinfektan berupa alkohol 96 persen. Kemudian, buku akan dikemas ulang dengan mesin agar terlihat seperti baru.

"Buku yang paling laku adalah buku impor best seller, dikarenakan kami menjualnya dengan harga yang sangat terjangkau rata-rata 50-60 persen dari harga baru," ungkapnya.

Menurutnya, minat baca saat ini sedang meningkat, terlebih karena pandemi. Ia merasa banyak orang yang mengisi waktu luang dengan membaca di masa pandemi ini.

Ke depan, Sucipto berencana untuk memperluas pilihan buku yang dijualnya. Ia juga akan menyempurnakan mekanisme harga buku bekas dengan fokus pada pengaplikasian teknologi big data. Ia pun berencana untuk mengembangkan aplikasi IOS dan Android untuk mempermudah proses jual beli buku bekas.

"Bagi penjual hanya cukup memindai kode ISBN di cover belakang buku dan menginfokan kondisi buku, kemudian dapatkan penawaran harga dari Pustakaaa secara instan, dan atur tempat serta waktu pick up buku oleh kurir," katanya.

"Begitu juga bagi pembeli, mereka kini bisa menikmati pilihan buku-buku berkualitas dengan harga yang sangat terjangkau," tutupnya.



Sumber : Liputan6

0 comments: