Masjid Raya Ikur Koto Dibangun Swadaya Sarat dengan Nilai Kebersamaan

Kamis, Juli 08, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Masjid Ikur Koto di Kota Padang. (Foto: Rus Akbar)


PADANG -  Berkunjung ke Masjid Ikur Koto di Jalan Tabing Lubuk Minturun Kelurahan Koto Panjang Ikur Koto Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat seperti berada zaman dahulu.

Desain masjid  sangat klasik, atapnya bebentuk limas persegi empat memiliki empat tingkat. Sementara dinding dan tonggaknya desain zaman kolonial Belanda.

Menurut Yusri Pakiah Sutan, sebagai tokoh agama Ikur Koto, masjid itu dibangun tahun1926 merupakan peletakan batu pertama dan dimulai dengan nama Surau Batu Ikur Koto berdiri di atas tanah wakaf dari Suku Koto seluas lebih kurang 30x30 meter persegi.

“Saat pembangunan itu posisi tanahnya kondisi miring, dengan kondisi miring akhirnya tanah yang miring ditimbun dengan batu setinggi 1 meter, makanya dinamakan dengan Surau Batu. Untuk menimbun dilakukan secara gotong royong,” katanya pada MNC Portal Indonesia, belum lama ini.

Ada beberapa kelompok yang bergotong royong, kata Yusri, berasal dari kelompok anak silat asuhan Angku Bagindo Malin dan kelompok pemain bola rombongan Leman Ajad, Bainuddin, dan Pakih Adam. “Tukang dari pembangunan surau tersebut berasal dari Solok dan suami si Malu Guci dari Kampung Kasang,” ungkapnya.

Awal pembangunan, kata dia, daerah itu dipimpin oleh Si Amai Datuak Basa penghulu Suku Koto yang memerintah di Koto Panjang dan Sari Marajo Dt Rajo Maninjun penghulu Suku Chaniago mengajak ninik mamak untuk membangun masjid. “Makanya di bagian tengah masjid in ada dua tonggak besar sebagai tumpuan menara, itu adalah simbol Dt Rajo Maninjun dan Si Amai Datuk Basa yang memegang peranan dalam pembangunan masjid ini," ungkapnya.

Pada 1930 Suaru Batu Ikur Koto selesai dibangun dan sudah bisa dipakai untuk sholat. Lalu, baru pada tahun 1942 Surau Batu Ikur Koto diresmikan oleh Angku Palo Si Atjad dan namanya menjadi Masjid Raya Ikur Koto.

Jika masuk ke dalam masjid itu terlihat kecil karena ukuran ruangannya hanya 10x10 meter. Nah, pada bulan Ramadhan ini jamaah akan meluber sampai bagin teras. “Jadi masjid ini bagian teras ukuran dua meter sekelingnya, kemudian baru ruangan dalam. Makanya sandal hanya sampai di jenjang saja karena teras depan dijadikan tempat sholat,” tutur Yusri.


Di depan bagian mihrab ada tiga lekukan melambangkan kebersamaan yakni tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin antara penguasa atau pemerintah, ulama, dan masyarakat saling membantu. “Untuk membangun masjid ini iuran masyarakat, atau secara swadaya,” katanya.

Atap berbentuk limas tingkat empat itu meniru dari stuktur masjid di Pariaman, kemudian dindingnya bergaya Belanda. “Dicampur arsitekturnya tradisonal dan modern,” tutup Yusri.

Rustam Malin Kaciak (72) cucu dari pendiri masjid tersebut mengatakan, sebagian bagian masjid  sudah ada adayang  diganti. Dulu  samping masjid ini ada kolam besar.

“Kini diganti jadi halaman masjid karena ketika Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha tidak muat dalam masjid ini menampun jamaah. Ada tiga kali pemugaran masjid ini tapi tidak ingat tahun berapa namun seingat saya tahun 2009 saat gempa dulu masjid ini ada kerusakan akhirnya di pebaiki, namun dari awal pembangunan tidak banyak yang berganti,” terangnya.

Namun yang paling utuh itu kayu bagian penahan menara bagian atas itu kayu rasak sejenis kayu besi mulai pendirian sampai sekarang itu tidak pernah diganti karena sangat kuat.

“Masjid ini sengaja bentuk petak atau segi empat karena sahabat nabi itu ada empat Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, itu artinya,” ungkapnya.

Saat zaman penjajahan Belanda dan Jepang masjid juga dijadikan markas pejuang di Kota Padang. “Dulu masjid dijadikan sebagai tempat persembunyian atau markas sementara sebelum menyerang Belanda di pusat Kota Padang,” tutupnya.


Sumber : okezone.com

0 comments: