Pakar militer meminta Taiwan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan drone-nya

Senin, Juli 19, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Analis mengatakan Taiwan harus mempertimbangkan senjata anti-drone yang digunakan oleh negara-negara Barat

M151 Protector RWS Prancis (Tumblr, foto Referensi Visual)

TAIPEI — Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional (INDSR) pada hari Jumat (16 Juli) menerbitkan sebuah makalah yang merekomendasikan agar Taiwan mempertimbangkan sistem pertahanan drone yang dikembangkan Barat, karena drone telah menjadi teknologi yang semakin lazim dalam peperangan modern.

Laporan tersebut, yang ditulis oleh asisten peneliti INDSR Hsu Chih-hsiang (許智翔) dan berjudul “Pengembangan stasiun senjata yang dikendalikan dari jarak jauh (RWS) untuk diintegrasikan ke dalam kemampuan anti-drone layak mendapat perhatian Taiwan,” meminta Taiwan untuk mencatat pendekatan berbeda yang telah diambil negara-negara Barat untuk meningkatkan kemampuan pertahanan drone mereka.

Hsu mengatakan bahwa teknologi drone berkembang pesat dan telah menjadi ancaman utama di medan perang. Peneliti menambahkan bahwa karena China sudah memimpin dunia dalam drone komersial, Taiwan pasti akan menghadapi ancaman kendaraan udara tak berawak (UAV) yang dikerahkan oleh tetangganya selama konflik militer.



Hsu mendaftarkan solusi pertahanan drone terkemuka seperti M151 Protector RWS Prancis dan sistem anti-drone seluler Milad, pemasangan peluncur granat otomatis Heckler & Koch Jerman pada kendaraan tempur lapis baja GTK Boxer yang dikombinasikan dengan radar Spexer 2000 3D, dan penambahan Rusia Arbalet-DM RWS ke kendaraan mobilitas infanteri GAZ Tigr.

Peneliti mengatakan bahwa sistem soft kill, termasuk senjata pengacau drone, berguna selama masa damai dan perang, terutama di daerah padat penduduk. Dia menambahkan bahwa Taiwan harus mempertimbangkan untuk mengintegrasikan RWS ke dalam kemampuan pertahanan drone-nya saat meninjau kebutuhan penanggulangan UAV-nya.

Sumber : Taiwan news

0 comments: