Rintis Bisnis di Masa Krisis, Hebat!

Senin, Juli 05, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

MEMULAI bisnis di masa pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi pengusaha. Daya beli konsumen yang menurun, dikhawatirkan berdampak pada tingkat permintaan produk. Terlebih produk yang ditawarkan bukan kebutuhan primer yang wajib dikonsumsi. Contohnya, coffeeshop. Namun, coffeeshop di Kota Bengawan justru menjamur di masa pandemi ini.

Aziz Nurarifin dan tiga rekannya, baru membuka kedai kopinya sekitar tiga bulan lalu. Tepatnya, 6 Maret 2021. Saat ditanya, apa motivasinya memulai bisnis di masa pandemi? Dia menjawab, tidak ada alasan khusus, kecuali memang harus segera menjalankan bisnis yang sudah direncanakan sejak lama.

“Kalau nunggu terus nggak akan jalan. Malah nanggung tidak segera tergarap. Kami buka dengan segala risikonya. Kami buat set up-nya, atur kursi jaga jarak, dan lain sebagainya. Akhirnya kami yang menyesuaikan. Karena sepertinya pandemi tidak ada hentinya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Aziz mengaku sempat ada perdebatan dengan timnya untuk membuka atau tidak coffeshop mereka. Banyak ketakutan dan kekhawatiran. Lalu Aziz memilih melakukan observasi untuk melihat potensi konsumen. Baru kemudian menentukan konsep yang diusung.

“Konsepnya, kami ingin bikin coffeeshop yang tidak hanya jualan kopi. Tapi juga sekaligus tempat berbagi. Berbagi bersama komunitas, UMKM, dan sebagainya. Setiap coffeeshop pasti punya seni bertahan sendiri. Nah, konsep itulah seni kami mempertahankan diri,” bebernya.

Aziz mengklaim kunci survive dalam menjalani bisnis adalah rajin melakukan riset. Mencari tahu kebutuhan konsumen. Misalnya, di masa pandemi, konsumen butuh tempat cozy, ruang gerak outdoor, akses wifi, dan buka sejak pagi hari untuk tempat kuliah online.

“Riset inilah yang membuat kami sebagai pebisnis mampu memenuhi kebutuhan konsumen, sehingga konsumen tetap memilih kami meskipun ada banyak coffeshop lainnya,” imbuhnya.

Selain menggandeng komunitas dan UMKM, Aziz mengajak coffeshop lain berkolaborasi. “Saat grand opening, kami ada promo tukar cup kopi dari coffeshop lain. Artinya sebelum datang ke sini, konsumen sudah beli kopi di coffeshop lain karena bisa membawa cup-nya ke sini untuk ditukar. Jadi kami bikin coffeshop bukan karena ikut-ikutan. Tapi ingin berkolaborasi dan berhasil survive bersama,” jelasnya.

Soal daya beli konsumen yang turun, diakui Aziz juga menjadi salah satu ketakutan dan kekhawatirannya. Namun, itulah gunanya observasi sebelum membuka bisnis. Di satu sisi, 2021 menjadi puncak krisis pandemi. Sebab, jika dibandingkan saat awal pandemi, masyarakat masih mempunyai uang simpanan. Sekarang, uang tersebut sudah habis.

“Tahun ini juga sekaligus jadi titik jenuh masyarakat. Makanya strategi kami menggandeng komunitas dan UMKM untuk survive bersama. Juga menyerap tenaga kerja, karena kita tahu tidak sedikit orang-orang diberhentikan dari pekerjaannya karena pandemi ini,” sambungnya.

Tantangan paling besar yang dihadapi Aziz dan rekan-rekannya adalah mental. Untuk berani memulai bisnis di kondisi yang tidak menentu ini, jelas mental baja harus bicara.

“Solusinya, kami sering sharing dan saling menguatkan. Bussiness plan harus matang. Risiko selalu ada, baik di masa pandemi atau tidak. Terpenting, tim harus solid. Karena bisnis itu tidak boleh setengah-setengah. Harus all out,” tandasnya.


Sumber : Radar Solo

0 comments: