Cerita Korban Ledakan di Margo City: Rasanya seperti Dibom, Seram...

Jumat, Agustus 27, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Sore itu awalnya berlangsung biasa saja. Ade Rosidah (33), salah satu karyawan restoran sushi di lantai 2 mal Margo City, Depok, Jawa Barat, masuk kerja seperti biasa. Sebentar ia pergi ke toilet lantai 2 sore itu. Ia ditemani seorang rekan yang sedang hamil. Baru saja ia berbelok menuju lorong, suara dentuman sangat keras mengejutkannya tanpa aba-aba, sebelum disusul bunyi gemuruh. 

 

Belum sempat Ade memahami apa yang sedang terjadi, tak lama berselang tubuhnya sudah dihujani oleh benda-benda keras secara bertubi-tubi. Ia rasakan serpihan plafon hingga baja ringan menubruk badannya. "Saya tiba-tiba tersungkur, terguling, tertiban puing-puing," kenang Ade kepada wartawan, Rabu. "Di situ juga ada percikan api. Saya lihat teman saya, saya cuma lihat dia sekali saja pas ada percikan api itu. Habis itu semuanya gelap," tuturnya.


Masih dikuasai rasa bingung dan panik, ia nyaris putus asa mencari jalan keluar. Hal yang terakhir ia ingat, seberkas cahaya dari antara reruntuhan tembok memberinya harapan untuk keluar dari lorong gulita. Listrik sudah padam. "Teman saya berhasil menyelamatkan diri. Dia bilang, 'Sini, kak, lewat sini'. Saya jawab, 'Di mana?' Terus saya jalan pelan-pelan dan tidak sadar lagi. Pas sadar saya sudah di rumah sakit," ungkap Ade.

 

 "Saya seperti dibom"

 

Ade merupakan satu dari belasan orang yang pada Sabtu sore itu, sedang beraktivitas di sayap kanan mal Margo City. Bagian tersebut ambruk secara tiba-tiba. Tiga lantai sekaligus. Investigasi sementara dari kepolisian pada malam itu menyebut bahwa bagian itu roboh lantaran anjloknya lift barang dari lantai 3 hingga ke lantai dasar. Menurut Ade, lorong toilet tempatnya mengalami kejadian pilu itu tepat di samping lift tersebut. Sementara itu, petugas pemadam kebakaran menemukan fakta berbeda. Mereka menduga, kejadian itu diiringi oleh ledakan gas.


Hal ini diperkuat oleh keterangan para saksi yang seluruhnya mendengar suara ledakan sebelum mereka melihat api berkobar. Sejumlah korban yang dilarikan ke rumah sakit juga dilaporkan mengalami luka bakar, termasuk satu korban yang akhirnya tutup usia di RS Universitas Indonesia pada Minggu dini hari. Belakangan, polisi baru buka suara soal dugaan ledakan gas.

Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri pada Senin, dikerahkan untuk mengambil sampel instalasi pipa gas yang ditengarai bocor di sisi kanan mal. Ade masih sukar menguasai emosinya ketika menceritakan pengalaman tragis itu: beberapa detik yang menjelma seperti gerbang hidup dan mati. "Saya merasa seperti dibom, walaupun saya belum pernah dibom.

Itu kejadiannya sangat cepat. Saya pikir ada ledakan bom. Bunyi ledakannya sekali, gemuruhnya cukup lama. Seram," ujarnya menahan haru. Dalam keadaan yang terasa sangat menghimpit, Ade hanya menyebut nama Tuhan dengan lirih.

Setelah dentuman dan gemuruh nyaring itu, sekeliling mendadak senyap. Ade bilang, sunyi yang melingkupinya kala itu, alih-alih mengirim rasa tenang, justru membawa suasana mencekam. Ia membayangkan, jangan-jangan akan terjadi ledakan susulan atau atap runtuh yang lebih parah lagi. "Saya sudah pasrah kalau saya enggak selamat dalam kondisi seperti itu, dalam kondisi tertimpa puing, kena percikan api, kabel banyak yang putus," ujarnya. Sempat tidak terdata Tanpa ia tahu, ketika terbangun, ia berada di RS Mitra Keluarga, 2 jam usai dibawa oleh koleganya tak lama setelah peristiwa naas itu. Malamnya, ia sudah diperbolehkan pulang. Ade hanya menderita memar-memar. Akan tetapi, masalah tak berhenti di sana.

 "Saya dapat kabar bahwa saya harus isi 'print PDF' yang harus diisi oleh dokter, diagnosis dan segala macam, 'kalau bisa, datang ke rumah sakit'. Nah, di situ saya merasa keberatan. Saya kan korban, kenapa saya harus direpotkan dengan cara saya balik ke RS?" kata Ade.


Dalam keterangannya kepada wartawan, polisi mengidentifikasi ada 11 korban akibat ambruknya sisi kanan Margo City. Tiga korban dibawa ke RS Universitas Indonesia, delapan orang lainnya diboyong ke RS Bunda Margonda. Tiada nama Ade Rosidah dalam daftar korban yang dirilis petugas pada hari itu.

Ade juga tak dirawat di RS Universitas Indonesia maupun Bunda Margonda. Ketika sadar dan membaca informasi di media sosial, Ade kaget mendapati namanya tidak masuk dalam daftar korban ambruknya Margo City. Ia menduga, keadaan yang sangat genting membuat para pihak terkait melewatkan namanya. Syukurnya, masalah itu segera teratasi.

"Saya minta pihak Margo dan HRD saya, kalau bisa saya enggak usah lah balik lagi ke RS," ungkapnya. "Ternyata ada miskomunikasi dari HRD saya dan pihak Margo City, ternyata formulir itu bisa diisi oleh HRD," lanjut Ade. Tak ada luka serius, tapi Ade mengalami trauma yang cukup berat. Ia mengakui, rasa sakit di badannya masih dapat ditoleransi. Namun, sungguh bukan pekerjaan sederhana untuk hidup bersama trauma yang bergentayangan di benaknya. "Saya masih terbayang-bayang, bagaimana kalau saya tidak selamat dari kejadian di lorong itu? bagaimana keluarga saya dan anak-anak saya?" tuturnya. "Harapan saya untuk Margo, hanya agar lebih safety saja," ujar Ade, mengaku siap untuk kembali bekerja.

 

"Nyawa bisa melayang di mana saja. Kita tidak tahu tempat dan waktunya," tutupnya. Kepolisian menyatakan, Margo City masih belum dapat dibuka. Penutupan sementara ini masih belum diketahui hingga kapan.

 

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Depok AKBP Yogen Heroes Baruno berujar, polisi masih membutuhkan waktu untuk melakukan olah TKP. Di samping itu, struktur bangunan di sekitar TKP, lanjut Yogen, dikhawatirkan masih rapuh akibat peristiwa Sabtu lalu itu.

 

 "Kemungkinan runtuhnya masih ada," ujarnya. "Sehingga masih kami tutup sementara (sampai) dari pihak laboratorium forensik menyatakan sudah clear," jelas Yogen.

 

Polisi mengaku belum dapat menyimpulkan adanya unsur kelalaian di balik peristiwa ambruknya bagian sayap kanan mal Margo City. "Masih dalam penyelidikan kita. Apabila nanti ditemukan kelalaian, tindak pidana, ya akan kita naikkan ke proses penyidikan," kata Yogen. "Kami belum sampai ke sana (kesimpulan unsur kelalaian). Belum tahu. Harus ada hasil dari Puslabfor, baru kami bisa sampai ke sana," ujar Yogen.


 

Sumber : kompas.com

 

0 comments: