Fosil Daun Ungkap Kondisi Iklim Bumi di Era Akhir Dinosaurus

Jumat, Agustus 27, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Fosil daun era dinosaurus berusia ratusan juta tahun (Foto: AP)


PERNAHKAH Anda bertanya-tanya seperti apa cuaca di bumi jutaan tahun sebelum planet ini dihuni oleh miliaran orang? Rupanya, para ilmuwan mungkin telah menemukan cara untuk mengetahui hal itu.

Richard Barclay, membuka laci logam di arsip Smithsonian Natural History Museum yang berisi fosil berusia hampir 100 juta tahun. Meski sudah tua, batu-batu ini sama sekali tidak rapuh. Tertanam di batu kuno nampak daun segitiga dengan lobus atas membulat.

Daun ini jatuh dari pohon pada masa T-rex dan Triceratops menjelajahi hutan prasejarah. “Bisa dibilang ini ginkgo, bentuknya unik, tidak banyak berubah dalam jutaan tahun,” kata Barclay, melansir Daily Sabah.

Yang juga istimewa dari pohon ginkgo adalah lembaran tipis bahan organik itu mungkin menjadi kunci untuk memahami sistem iklim kuno dan kemungkinan masa depan planet bumi yang memanas.

Namun, Barclay dan timnya harus memecahkan kode tanaman terlebih dahulu untuk membaca informasi yang terkandung di balik daun kuno tersebut.

“Ginkgo adalah kapsul waktu yang cukup unik,” ungkap ahli paleobotani Universitas Yale, Peter Crane.

Fosil Daun

(Fosil daun era dinosaurus, Foto: AP)

"Sulit membayangkan bahwa pohon-pohon sekarang menjulang di atas mobil dan komuter, tumbuh bersama dinosaurus dan telah turun kepada kita hampir tidak berubah selama 200 juta tahun," tambahnya.

“Alasan para ilmuwan melihat ke masa lalu adalah untuk memahami apa yang akan terjadi di masa depan,” ujar peneliti iklim University of Arizona, Kevin Anchukaitis.

“Kami ingin memahami bagaimana planet ini merespons perubahan iklim skala besar di masa lalu, bagaimana ekosistem berubah, bagaimana kimia laut dan permukaan laut berubah, bagaimana hutan bekerja,” bebernya.

Dari lemari, Barclay menarik lembaran kertas tempat para ilmuwan era Victoria menempelkan dan mengikat daun ginkgo yang dipetik dari kebun raya pada masanya. Banyak spesimen memiliki label yang ditulis dalam kursif yang indah, termasuk benda tertanggal 22 Agustus 1896.

Bentuk fosil daun 100 juta tahun lalu itu sangat identik dengan daun yang dipegang Barclay. Ada satu perbedaan utama jika dilihat dengan mikroskop, bagaimana daun merespon perubahan karbon di udara.

Pori-pori kecil di bagian bawah daun diatur untuk menyerap karbondioksida dan menghirup air, memungkinkan tanaman mengubah sinar matahari menjadi energi.

“Kami sedang mencari analog, kami membutuhkan sesuatu untuk dibandingkan,” kata Barclay.

Ilmuwan juga menemukan bahwa lebih banyak karbondioksida membuat pohon itu tumbuh lebih cepat.

“Jika tanaman tumbuh sangat cepat, mereka cenderung membuat kesalahan dan lebih rentan terhadap kerusakan. Ini seperti pembalap mobil yang lebih mungkin keluar dari jalur dengan kecepatan tinggi," tandasnya.



Sumber : okezone.com

0 comments: