Lestarikan Kain Tradisional, Perajin Harusnya Dijadikan Pahlawan Daerah

Rabu, Agustus 25, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Perajin Kain (Foto: Antara)


INDONESIA memang memiliki beragam kebudayaan dan juga benda-benda seni. Salah satu benda seni yang sarat akan budaya Indonesia adalah kain tradisional yang dibuat dengan tangan.

Sayangnya, pembuatan kain tradisional ini nampaknya kurang diminati oleh generasi muda. Akibatnya, para penerus pembuat kain tradisional pun kebanyakan orang yang sudah berumur dan jarang sekali ditemukan anak muda.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Prof. Dr. Lilawati Kurnia, S.S., M.A. mengatakan proses pembuatan kain tradisional perlu diajarkan kepada generasi muda demi menjaga kelestarian warisan budaya.

"Para penenun itu sudah tua-tua, harusnya (proses pembuatan kain tradisional) masuk ke kurikulum sekolah di daerah-daerah penenun, kalau tidak bakalan habis lama-lama," kata Prof. Lilawati seperti dilansir dari Antara.

Prof. Lilawati juga menyarankan agar pemerintah memberikan apresiasi kepada para maestro atas karyanya. "Maestro-maestro yang tersembunyi di desa-desa terpencil harus diberi penghargaan nasional, diangkat menjadi pahlawan," kata dia. 

Kain Tenun

Tujuannya agar para perajin memiliki rasa kebanggaan atas karyanya sehingga bisa mewariskannya kepada para generasi muda. Indonesia memiliki berbagai jenis kain tradisional mulai dari batik, tenun dan songket yang berasal dari Sabang hingga Merauke. Motif tiap kain pun berbeda-beda di tiap daerah dan semua memiliki arti serta cerita masing-masing.

Semakin langka motifnya, maka harga jualnya akan makin tinggi apalagi jika kain tradisional tersebut dibuat dengan tangan bukan mesin.

"Jadi ada dua hal yang paralel untuk dimajukan, karena motif-motif tradisional, motif-motif kuno harus juga dilestarikan. Jadi misalnya untuk menarik konsumen muda, tapi untuk kolektor-kolektor dunia itu ya carinya yang tradisional, yang kuno," kata dia.

Para perajin juga perlu menciptakan motif baru untuk memikat ketertarikan anak muda agar mau menggunakan kain tradisional. Menurut Prof. Lilawati, perajin juga perlu membuat inovasi untuk penggemar kain tradisional yang berusia muda.

Prof. Lilawati mengatakan salah satu kain tradisional yang sudah cukup langka adalah tenun ikat Dayak Iban. Selain perajinnya yang mulai berkurang, bahan untuk membuat pewarna kainnya juga sulit untuk didapat.

"Mereka kan menggunakan pewarna alam, mereka mau tanam tapi bibitnya susah. Kalau pakai pewarna sintetis warnanya enggak khas lagi," ujar Prof. Lilawati.

Akan tetapi, tren menggunakan kain tradisional sebagai busana tidak dibarengi dengan edukasi terhadap masyarakat. Sebab tidak sedikit yang masih belum bisa membedakan antara kain asli dan hasil print.

Kain dengan motif batik, tenun dan songket yang dicetak, biasanya dijual dengan harga murah. Sedangkan kain yang dibuat oleh perajin, lebih mahal karena proses pengerjaannya memiliki waktu yang panjang.

"Yang penting itu edukasi terhadap konsumen bahwa barang hasil kerajinan itu memang mahal. Kalau hasil kriya itu kan lama pembuatannya dan rumit harus ada harganya, kalau konsumen umum itu maunya murah saja, jadi pakai tenun aspal (asli palsu) atau kain meteran," ujar Prof. Lilawati.


Sumber : okezone.com

0 comments: