Mantan TKI di Dusun Kumbi akan Suplai Kebutuhan Kopi di KEK Mandalika, Disnakertrans NTB Lakukan Pemberdayaan

Jumat, Agustus 27, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Para mantan tenaga kerja indonesia (TKI) di Dusun Kumbi, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, berhasil berwirausaha mandiri membuat “Kopi Kumbi”. Kopi yang dihasilkan itu akan disuplai untuk memenuhi kebutuhan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

 

Purna TKI negara Arab Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam ini mengikuti kegiatan pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna penempatan paket I dan II tahun anggaran 2021 di Disnakertrans Provinsi NTB, berlangsung selama dua hari, sejak Rabu dan Kamis di Aula LTSA, Mataram.

 

Kepala Disnakertrans Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi menyampaikan, tenaga kerja atau PMI pernah berangkat sesuai prosedur, banyak yang sukses, baik di luar negeri maupun dalam negeri.

 

“Banyak diantara mantan PMI atau yang dikenal sebagai PMI Purna, setelah pulang, mereka sukses menjadi wirausaha mandiri. Inilah yang harus dicontoh,” ungkap Gede Aryadi, Kamis 26 Agustus 2021.

Gede Aryadi mencontohkan salah satu kelompok PMI Purna yang berhasil menjadi wirausaha mandiri, di Desa Pakuan, Narmada. PMI purna yang berasal dari Dusun Kumbi merupakan PMI yang pernah bekerja di negara Malaysia, Brunei Darussalam, taiwan, singapore dan Arab Saudi.

Kelompok wirausaha mandiri ini mengolah potensi alam yang ada daerah tersebut. Seperti diketahui, Dusun Kumbi memiliki lahan pertanian yang subur sehingga menghasilkan kopi, pisang, talas, durian, manggis dan nangka dengan kualitas yang baik.

Sejak tahun 2019, PMI purna laki-laki yang berjumlah 20 orang mengelola 20 hektar kebun kopi, kemudian melahirkan merk “Kopi Kumbi”. Kopi kumbi tersebut menjadi salah satu UMKM yang akan mensuplai kebutuhan di KEK Mandalika.

Selain kelompok PMI Purna pengelola Kopi Kumbi di Dusun tersebut. Desa Pakuan juga memiliki KWT Bile Maju berisi PMI Purna perempuan yang pernah bekerja di negara Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Singapura Qatar, Abu Dhabi dan Taiwan, mengolah Keripik singkong, talas dan pisang.

“Hanya saja, kelompok ini meminta kepada Disnakertrans untuk bisa diberikan pelatihan skill untuk industri pengolahan hasil pertanian. Sehingga komoditi pertanian yang melimpah di desanya, bisa dipasarkan dalam bentuk produk olahan yang bernilai ekonomi tinggi,” kata Gede Aryadi.

Mantan Kadiskominfotik Provinsi NTB memaparkan, PMI purna memiliki tiga modal utama untuk menjadi wirausaha mandiri yang sukses. Adapun modal itu adalah pengalaman, modal dan jaringan. “Orang yang pernah bekerja diluar negeri dengan pahit getirnya kehidupan disana pasti memiliki etos kerja tinggi dibandingkan dengan orang yang bekerja di negeri sendiri.
Pengalaman bekerja di luar negeri harus menjadi spirit untuk menjadi manusia yang lebih baik. Apalagi Desa Pakuan memiliki potensi alam yang bagus,” tutur Gede Aryadi.

Pengalaman bekerja di luar negeri lanjutnya, mengajarkan mereka pintar berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang pendidikan, bahasa dan asal negara yang berbeda-beda. Pengalaman itu bisa diaplikasikan ketika membangun usaha dan bisa menjadi pegangan dalam upaya mengembangkan potensi yang ada di daerah.

 

Mantan Irbansus pada Inspektorat Provinsi NTB berharap, PMI Purna bisa menjadi figur teladan dalam menciptakan usaha-usaha produktif yang ada di daerah sekitar. Terlebih Provinsi NTB memiliki potensi yang besar dalam sektor pertanian, salah satunya adalah kopi.

 

Kopi asal NTB sangat diminati oleh negara lain, seperti negara Timur Tengah, Inggris dan Amerika Serikat. Prospek kopi bagus namun masih terkendala belum adanya seritifikat quality control.

 

Namun, pergelaran event international yang akan terselenggara di NTB ini bisa dijadikan sebagai ajang untuk mengenalkan kopi dan kuliner khas NTB seperti keripik dari hasil bumi kepada para wisatawan.

 

“Kopi membutuhkan sertifikat mutu agar bisa di ekspor, sedangkan produk-produk khas perlu dikemas dengan baik dan menarik konsumen,” pintanya.

 

Gede Aryadi mengingatkan peserta untuk menjadi PMI yang legal. “Kalau ke luar negeri mohon diikuti prosedur yang ada, hal ini penting karena PMI yang bekerja melalui jalur resmi jika mengalami hal-hal yang tidak baik seperti tidak digaji, mengalami perlakuan tidak terpuji, maka pemerintah bisa membantu menyelesaikan masalah tersebut.

 

Kepala Dusun Kumbi, Saringgih yang juga PMI Purna yang pernah bekerja Brunei Darussalam mengatakan, bekerja di luar negeri tidak seindah yang terlihat. Menurutnya lebih baik mengolah potensi alam yang ada di daerah sekitar dibandingkan bekerja di luar negeri.

 

Saringgih menyampaikan, saat ini kelompoknya akan terus meningkatkan jumlah produksi serta memperbaiki kemasan agar masuk ke pasar ekspor. “Kopi Kumbi dan olahan keripik akan mensuplai kebutuhan kuliner pada event internasional di KEK Mandalika,” ujarnya.

 

Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Muhairi Isnaeni, menambahkan, kegiatan ini bertujuan agar peserta bisa menata usahanya dengan baik sehingga dapat menciptakan tenaga kerja baru bagi masyarakat disekitarnya. Kegiatan ini akan dilaksanakan sebanyak 2 paket dengan total peserta sebanyak 40 orang. (TN-red)


 

Sumber : talikanews.com

0 comments: