Waspada Virus Marburg Asal Guinea yang Cepat Menular, Ini yang Perlu Diketahui

Jumat, Agustus 13, 2021 Majalah Holiday 0 Comments




      Pejabat kesehatan untuk Guinea melaporkan kasus pertama virus Marburg di Afrika Barat. Virus Marburg menjadi kategori penyakit yang sangat menular dan berasal dari keluarga yang sama dengan virus Ebola.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, mereka harus menghentikan penyebaran virus tersebut.

Penyakit akibat virus Marburg bermula dari tubuh kelelawar pemakan buah dan menyebar ke manusia melalui transmisi di cairan tubuh. Virus itu menyebabkan penyakit serius yang bisa mengakibatkan demam dan gangguan pendarahan. 

Dr Matshidiso Moeti dari WHO mengatakan, virus Marburg kemungkinan berpotensi menyebar jauh lebih luas. Oleh sebab itu, upaya yang sedang dilakukan sekarang untuk menemukan orang yang terkonfirmasi positif virus Marburg agar tidak berhubungan dengan manusia lainnya.

Mereka menerapkan sistem tersebut terhadap Guinea dan daerah lainnya untuk mengendalikan wabah Ebola baru-baru ini sekaligus menangani virus Marburg. Seperti dilansir BBC News, Kamis (12/8/2021), berikut penjelasan seputar virus Marburg:

Penyakit virus Marburg adalah penyakit yang sangat menular yang menyebabkan demam berdarah dengan rasio kematian hingga 88%. Virus ini masih satu keluarga dengan virus yang menyebabkan penyakit Ebola.

Sebelumnya, pada 1967 sempat terjadi dua wabah besar di waktu yang sama melanda Marburg, Frankfurt (Jerman), Beograd, Serbia, menjadi titik awal wabah tersebut. Wabah itu saat dicek di laboratorium diduga berasal dari monyet hijau Afrika (Cercopithecus aethiops) yang berasal dari Uganda.

Lalu adalagi Wabah Oda dan kasus sporadis dilaporkan terjadi di Angola, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Afrika Selatan, dan Uganda.

Virus Marburg menyebar dari pasien ke pasien melalui kontak langsung (melalui kulit yang rusak atau selaput lendir) dengan darah, organ atau cairan tubuh lainnya dari yang terinfeksi.

Kemudian dengan permukaan dan bahan (misalnya tempat tidur, pakaian) yang terkontaminasi dengan cairan. Transmisi terjadi melalui peralatan injeksi yang terkontaminasi atau melalui luka suntikan jarum.

Di samping itu, penyebaran Virus Marburg terjadi ketika upacara pemakaman yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah almarhum yang tetap menular selama darahnya mengandung virus.

Gejala Penyakit

Masa inkubasi bervariasi dari 2 sampai 21 hari. Penyakit virus Marburg menyebabkan orang yang terinfeksi tiba-tiba demam tinggi diiringi sakit kepala parah dan malaise parah.

Hari berikutnya, adapun nyeri bagian lain dan nyeri otot adalah yang sering dialami pasien virus Marburg. Pada hari ketiga berupa diare berair yang parah, sakit perut, kram, mual dan muntah.

Diare pun bertahan selama satu minggu. Dimana pada fase ini, raut wajah pasien benar-benar seperti orang dilanda kesakitan dan tak mampu lagi menunjukkan ekspresi apapun.

Banyak pasien yang mengalami manifestasi perdarahan parah antara 5 dan 7 hari. Bahkan kasus yang fatal akan mengalami pendarahan terus menerus di beberapa area. Hingga darah segar dari muntahan, feses, pendarahan dari hidung, gusi, dan vagina.

Dalam kasus yang sangat serius, kematian paling sering terjadi antara 8 dan 9 hari setelah gejala yang dimulai dengan kehilangan darah yang parah dan shock.

Sulit untuk membedakan secara klinis MVD dari penyakit menular lainnya seperti malaria, demam tifoid, shigellosis, meningitis dan demam berdarah.

Metode yang digunakan untuk mengambil diagnosis infeksi virus Marburg:

1. Antibodi-capture enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)

2. Tes deteksi penangkapan antigen

3. Tes netralisasi serum

4. Uji reaksi berantai transkriptase polimerase terbalik (RT-PCR)

5. Mikroskop elektron

6. Isolasi virus dengan kultur sel.

7. Sampel yang kami kumpulkan dari pasien dengan risiko biohazard yang ekstrim; pengujian laboratorium pada sampel non-inaktif yang dilakukan di bawah kondisi penahanan biologis maksimum.

Semua spesimen biologi dikemas dengan menggunakan sistem pengemasan rangkap tiga untuk diangkut secara nasional dan internasional.

Saat ini belum ada vaksin atau perawatan antivirus yang disetujui untuk MVD. Namun, perawatan suportif seperti rehidrasi dengan cairan oral atau intravena dan pengobatan gejala spesifik dapat meningkatkan kelangsungan hidup.

Sumber :Liputan6

0 comments: