6 Aturan Taliban yang Kekang Perempuan Afghanistan

Kamis, September 16, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Taliban kembali memaksakan aturan yang mengekang kaum perempuan di Afghanistan. (REUTERS/PARWIZ)

Perempuan kerap terkekang dalam pemerintahan Taliban sebelumnya. Ketika Taliban berkuasa di akhir 1990-an hingga awal 2000-an, mereka seringkali memunculkan berbagai kebijakan yang membatasi kebebasan perempuan dalam berkehidupan dan edukasi.
Rekam jejaknya ini membuat perempuan Afghanistan sekarang khawatir akan kebebasan mereka yang terancam. Kekhawatiran mereka terbukti, Taliban kembali menerapkan kebijakan-kebijakan yang mengekang perempuan.

1. Pemisahan Perempuan dan Laki-Laki dalam Belajar
Menteri Pendidikan Tinggi Taliban, Abdul Baqi Haqqani menyampaikan, perempuan Afghanistan boleh menempuh pendidikan. Namun, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, salah satunya pemisahan kelas antara laki-laki dan perempuan.


"Kami juga tidak akan mengizinkan laki-laki dan perempuan belajar bersama. Kami tidak akan mengizinkan pelaksanaan belajar bersama (antara perempuan-laki-laki)," kata Haqqani pada Minggu (13/9).

Dalam dekrit otoritas pendidikan Afghanistan yang kini dipimpin Taliban, jam belajar perempuan harus selesai lima menit sebelum laki-laki demi menghindari pertemuan keduanya. Para perempuan kemudian harus menunggu di satu ruangan hingga laki-laki selesai meninggalkan gedung. Setelah itu, mahasiswi baru boleh keluar dari bangunan tersebut.

2. Harus Menggunakan Hijab
Dalam menempuh pendidikan, Haqqani menuturkan perempuan Afghanistan wajib menggunakan pakaian Islami seperti hijab. Kebijakan ini diprotes berbagai perempuan Afghanistan. Mereka beramai-ramai berpose menggunakan gaun warna-warni tanpa menggunakan hijab, setelah sebelumnya beredar foto perempuan Afghanistan menggunakan hijab, niqab, dan gaun hitam sembari mengibarkan bendera Taliban.

Seorang mantan murid di salah satu fakultas di American University of Afghanistan, Bahar Jalali, menjadi pelopor kampanye ini.

"Tidak ada perempuan yang pernah berpakaian seperti ini dalam sejarah Afghanistan. Ini benar-benar asing dan asing bagi budaya Afghanistan," tulis Jalali di Twitter.

"Saya mengunggah foto saya menggunakan pakaian tradisional Afghanistan untuk menginformasikan, mendidik, dan menghilangkan informasi yang salah yang disebarkan oleh Taliban."

3. Perempuan Tidak Boleh Olahraga
Taliban juga melarang perempuan untuk berolahraga. Mereka melarang perempuan olahraga karena dinilai tidak sesuai dengan syariat Islam yang diyakini mereka. Wakil Kepala Komisi Budaya Taliban, Ahmadullah Wasiq, mengatakan olahraga dianggap tidak pantas dan tidak perlu bagi kaum perempuan Afghanistan.

Taliban pun melarang tim kriket perempuan Afghanistan bertanding di masa depan. Padahal, kriket merupakan salah satu olahraga yang cukup populer di Afghanistan.

"Dalam kriket, mereka mungkin menghadapi situasi di mana wajah dan tubuh mereka terbuka. Islam tak mengizinkan perempuan terlihat seperti itu," papar Wasiq seperti dilansir The Guardian.

4. Perempuan Tidak Boleh Keluar Tanpa Wali
Di beberapa wilayah, Taliban mengatakan para perempuan hanya bisa pergi dengan wali laki-laki. Artinya, mereka harus membawa ayah atau saudara laki-lakinya saat keluar rumah. Kebijakan itu sama seperti yang pernah Taliban terapkan tiga puluh tahun lalu.
Taliban juga memperingatkan perempuan agar tinggal di rumah, sementara mereka mencari sistem yang tepat untuk memastikan keselamatan para perempuan.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan imbauan itu keluar karena sebagian milisi kelompoknya belum dilatih untuk tidak melukai perempuan.

"Kami khawatir bahwa pasukan kami yang baru dan belum terlatih dengan baik masih mungkin memperlakukan perempuan dengan tidak baik. Kami tidak ingin pasukan kami membahayakan hingga melukai perempuan," kata Mujahid dalam pada Selasa (25/8).

5. Perempuan Tidak Perlu Masuk Pemerintahan
Taliban menegaskan perempuan Afghanistan tidak bisa terlibat dalam urusan pemerintahan, seperti menjabat sebagai menteri.

Salah satu juru bicara Taliban, Syed Zekrullah Hashmi, mengatakan tugas utama perempuan adalah melahirkan dan membesarkan anak. Ia menilai perempuan tidak perlu ada dalam kabinet pemerintahan Afghanistan.

"Perempuan tidak bisa bekerja memimpin kementerian. Itu seperti Anda menaruh sesuatu yang tidak sanggup mereka pikul di leher mereka," kata Hasmi dalam sebuah wawancara dengan TOLO News, seperti dikutip Associated Press.

6. Perempuan Tidak Boleh Bekerja dengan Laki-Laki
Seorang petinggi Taliban mengatakan kaum perempuan Afghanistan seharusnya tidak diizinkan bekerja bersama pria.

Waheedullah Hashimi, tokoh senior Taliban, menegaskan kelompoknya akan sepenuhnya menerapkan hukum Islam meski ada tekanan dari komunitas internasional untuk mengizinkan kaum perempuan bebas bekerja.

"Kami telah berjuang selama hampir 40 tahun untuk membawa sistem hukum syariah ke Afghanistan. Syariat tidak mengizinkan pria dan wanita untuk berkumpul atau duduk bersama di bawah satu atap," kata Hashimi soal hukum Islam berdasarkan interpretasinya.

"Laki-laki dan perempuan tidak bisa bekerja bersama-sama. Itu jelas. Mereka tidak diizinkan datang ke kantor dan bekerja di kementerian kami," ujarnya lagi.




Sumber : cnnindonesoa.com

0 comments: