7 Negara Mulai Lirik Taliban di Afghanistan, Inggris-RI

Sabtu, September 04, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Taliban terus memperkuat cengkraman kekuasaan di Afghanistan. Sebentar lagi, kelompok itu juga akan mengumumkan pembentukan pemerintahan baru Afghanistan.
Meski belum ada negara yang memutuskan sikap dan mengakui Taliban sebagai pemerintahan sah di Afghanistan, beberapa negara telah mengisyaratkan ingin menjalin hubungan dengan kelompok itu.

Berikut deretan negara yang mulai mendekati Taliban


China
Beberapa pekan sebelum Taliban mengklaim berkuasa atas Afghanistan, beberapa petinggi itu bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, di Kota Tianjin.

Itu disebut pertemuan perdana petinggi Taliban dengan pejabat tinggi China. Dalam pertemuan itu Wang dilaporkan meminta Taliban dapat membantu melawan kelompok ekstremis Uighur di Xinjiang yang kerap disebut East Turkestan Islamic Movement (ETIM).


  
Sejumlah analis menganggap pertemuan Wang dan Taliban itu memberi sinyal bahwa China ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan Taliban.

Sejak berkuasa, Taliban juga beberapa kali menegaskan ingin menjalin hubungan yang erat dengan China.

Pada Jumat (3/9), juru bicara Taliban, Suhail Shaheen menuturkan China juga berjanji tetap membuka kedubes di Kabul dan menggelontorkan sejumlah bantuan kemanusiaan ke Afghanistan.

Shaheen menuturkan janji itu diucapkan Wakil Menteri Luar Negeri China Wu Jianghao saat berkomunikasi via telepon dengan anggota kantor politik Taliban di Doha, Abduh Salam Hanafi, beberapa waktu lalu.

Rusia
Rusia juga disebut telah mencuri-curi kesempatan untuk berkomunikasi dengan Taliban soal masa depan Afghanistan.

Taliban bahkan dilaporkan meminta Rusia membantu mengelola sumber daya alam Afghanistan yang kaya.

Duta Besar Rusia di Kabul, Dmitry Zhirnov, mengatakan Taliban membuka peluang bagi partisipasi negaranya untuk mengembangkan sumber daya alam Afghanistan.

"Taliban membuka peluang bagi partisipasi kami di di Afghanistan (dalam membangun) perekonomian, termasuk mengembangkan sumber daya alam," kata Zhirnov kepada saluran YouTube Soloviev Live menurut laporan kantor berita TASS via Reuters pada Rabu (25/8).

Afghanistan memang merupakan salah satu negara miskin di Asia Selatan. Namun, negara itu sebenarnya memiliki sumber daya alam seperti mineral yang melimpah.

Pada 2010, pejabat militer dan ahli geologi AS mengungkap bahwa negara yang terletak di persimpangan Asia Tengah dan Selatan tersebut memiliki cadangan mineral senilai hampir US$1 triliun.

Cadangan mineral yang berada di tanah Afghanistan berupa besi, tembaga, emas, dan mineral tanah jarang yang tersebar di seluruh provinsi. Namun, yang paling utama adalah Afghanistan memiliki cadangan lithium terbesar di dunia.

Dalam sebuah forum di Vladivostok pada Jumat (3/9), Presiden Vladimir Putin mengisyaratkan ajakan untuk mengakui Taliban sebagai pemerintah sah Afghanistan.

Ia mmengatakan tidak akan ada "entitas politik" untuk diajak berdialog secara langsung jika Afghanistan pecah sebagai sebuah negara.

Putin juga menyerukan upaya bersama tentang "melegalkan" entitas politik di Afghanistan.

Komentar itu diutarakan Putin ketika ditanya apakah Moskow akan mengakui rezim Taliban sebagai pemerintah sah Afghanistan.

Sebab, hingga kini, Rusia secara resmi mengakui Taliban sebagai kelompok teroris. Sejumlah analis menutrkan hal itu menjadi batu ganjalan Rusia berhubungan dengan Taliban selama ini.

Inggris
Untuk pertama kalinya, Inggris menyatakan ingin menjalin hubungan dengan Taliban. Meski begitu, London tidak akan mengakui kelompok itu sebagai pemerintah baru Afghanistan.

Berbicara selama kunjungannya ke Pakistan, Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, menuturkan Inggris harus menghadapi kenyataan tatanan sosial yang baru di Afghanistan.

Menurut Raab, Inggris tidak mungkin mengevakuasi sekitar 15 ribu orang dari Kabul tanpa kerja sama dengan Taliban.

"Pendekatan yang kami ambil adalah kami tidak mengakui Taliban sebagai sebuah pemerintahan. Tapi kami melihat pentingnya untuk dapat terlibat dan memiliki jalur komunikasi langsung," kata Raab seperti dikutip Reuters.

"Taliban telah melakukan serangkaian upaya, beberapa di antaranya positif pada tingkat verbal. Kita perlu menguji mereka dan melihat apakah itu akan diterjemahkan ke dalam perbuatan," ucap Raab menambahkan.

Jerman
Jerman menjadi negara Uni Eropa pertama yang terbuka menyatakan keinginan tetap menjalin hubungan dengan Afghanistan di era rezim Taliban.

Menlu Jerman Heiko Maas mengatakan mereka akan membuka kembali kedutaan di Afghanistan bila Taliban memenuhi syarat yang ditetapkan.
Di antara syarat tersebut adalah terkait hak asasi manusia dan persoalan keamanan.

"Kami menantikan pemerintahan yang inklusif (di Kabul), penghormatan terhadap hak asasi manusia dan perempuan yang fundamental, serta Afghanistan tidak boleh lagi menjadi tempat berkembang terorisme internasional," tutur Maas Kamis (2/9).

"Jika persyaratan ini dipenuhi, dan situasi keamanan memungkinkan, kami siap melanjutkan kehadiran diplomatik di Kabul," katanya lagi.

Perlu diketahui, Uni Eropa dan sebagian negara Barat menutup kedutaan mereka di Afghanistan. Padahal, langkah itu mengurangi peluang negara-negara tersebut untuk memengaruhi pemerintahan Taliban yang baru.

Sebelumnya, Maas bertemu dengan beberapa perwakilan negara Uni Eropa untuk membahas perkembangan pemerintahan Afghanistan yang sekarang. Mereka juga membicarakan pencegahan konflik agar tidak berkembang ke arah yang lebih luas.

"Ada realitas baru di Afghanistan, suka atau tidak suka," kata Maas.

"Kita tidak punya waktu untuk menyembuhkan luka kami. Jika UE ingin memainkan peran yang seharusnya dilakukan, kita harus bertindak sangat cepat menempatkan posisi bersama di Afghanistan."


Indonesia
Indonesia masih melihat dan menunggu sikap negara lain dalam mengakui pemerintahan baru Afghanistan di era Taliban.
Meski begitu, Direktur Jenderal Urusan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Abdul Kadir Jailani, mengatakan Indonesia akan tetap menjalin hubungan dengan rezim Taliban.

Salah satu alasannya, kata Kadir, agar Indonesia bisa memantau sejauh mana Taliban memenuhi janji-janji mereka untuk membentuk pemerintahan yang inklusif, terutama melindungi hak asasi manusia dan hak perempuan.

Dalam webinar terkait masa depan perdamaian dan rekonsiliasi Afghanistan Jumat (3/9), Kadir menuturkan masyarakat internasional seharusnya bisa memberi peluang bagi Taliban membuktikan bahwa mereka telah berubah.

"Yang utama adalah apakah Taliban memenuhi janji-janjinya yang disampaikan? Ini kan yang ditunggu-tunggu masyarakat internasional. Jadi saya setuju untuk jangan menilai mereka dahulu sebelum kasih kesempatan," kata Kadir dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilisations (CDCC) itu.

India
Duta Besar Indiauntuk Qatar, Deepak Mittal, mengadakan pembicaraan dengan Kepala Kantor Politik Talibandi Doha, Sher Mohammad Abbas Stanekzai, pada hari Selasa (31/8).

Pertemuan itu disebut digagas atas permintaan Taliban, di mana Stanekzai sebelumnya mengatakan kepada media lokal bahwa kelompoknya ingin menjalin hubungan ekonomi dan politik dengan India.

Sejauh ini belum ada komentar langsung dari Taliban mengenai pertemuan kedua belah pihak itu.

India diketahui telah menanamkan modal lebih dari US$3 miliar atau sekitar Rp42,8 triliun untuk pembangunan infrastruktur di Afghanistan. New Delhi juga menjalin hubungan yang dekat dengan pemerintah Afghanistan yang digulingkan.

Namun, pergerakan Taliban yang begitu pesat hingga mampu menguasai Afghanistan dalam waktu yang relatif singkat membuat India dikritik lantaran tak membuka komunikasi dengan kelompok itu.

Pada Juni lalu, India juga disebut sempat berkomunikasi secara informal dengan petinggi politik Taliban di Doha. Stanekzai, salah satu petinggi Taliban yang disebut menerima pelatihan akademi militer di India media 1980, juga menuturkan telah menghubungi New Delhi pada Juli lalu.

Pakistan
Pakistan juga telah memberi sinyal ingin mulai menjalin hubungan lebih dekat dengan Taliban.

Negara pimpinan Perdana Menteri Imran Khan itu bahkan dilaporkan berencana mengirimkan intelijen untuk membantu Taliban membentuk kembali pertahanan militer Afghanistan setelah mengambil alih kekuasaan.

Salah satu pejabat Pakistan mengabarkan bahwa negaranya berencana mengirimkan bantuan intel dan keamanan ke Kabul.

Pejabat itu bahkan mengatakan ada kemungkinan Pakistan mengirimkan langsung kepala badan intelijen mereka.




Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: