Aturan China Dinilai Tak Seutuhnya Berpengaruh ke K-popers

Senin, September 13, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi fan kpop. Pengamat menilai akan selalu ada cara bagi penggemar tetap mempertahankan kebiasaan lama di bawah aturan baru China yang ketat. (Ed Jones / AFP)

Kebijakan baru China terkait pengetatan penggemar akan berimbas bagi industri K-pop, terutama soal penjualan album K-pop. Meski begitu, pengamat juga menilai bahwa akan selalu ada cara bagi penggemar tetap mempertahankan kebiasaan lama, bahkan menjadi semakin rahasia.
Akademisi Sekolah Komunikasi dan Informasi Wee Kim Wee Nanyang Technological University di Singapura, Sun Meicheng, meyakini kebijakan baru pemerintah China akan menurunkan penjualan album fisik dan digital album K-pop.

"Sekarang setiap pengguna hanya bisa beli satu album digital. Album musik yang selama ini terlaris bisa menempati peringkat rendah atau menghilang dari tangga lagu lebih cepat di masa mendatang," kata Sun seperti dilansir South China Morning Post, beberapa waktu lalu.


China sebelumnya menertibkan aturan untuk membuat fan tetap "rasional". Aturan itu membuat sejumlah layanan streaming musik di China mengizinkan pengguna membeli hanya satu album digital.

Seperti dilansir Korea Times pada Senin (6/9), China menyumbang US$8,25 juta dari US$26 juta total ekspor album K-pop pada Juli 2021.

Pembelian album dalam jumlah besar merupakan salah satu bentuk dukungan dari fan karena meningkatkan total penjualan. Di Korea, musisi yang berhasil menjual lebih dari 1 juta kopi album dikenal sebagai million seller.

Para penggemar idol China selama ini menjadi salah satu pembeli album fisik serta digital terbanyak, seperti Renjun Bar dan Jaemin Bar, fan Renjun dan Jaemin NCT Dream, yang membeli 34 ribu album dan 27.528 album We Boom pada 2019.

Kemudian V Bar, fan V BTS di China, yang membeli sedikitnya 171 ribu album Map of the Soul 7 pada 2020. Tzuyu Bar turut membeli 26.910 album ketika TWICE comeback dengan mini album More & More pada 2020.

Senada dengan Sun, peneliti dari Hi Investment & Securities Park Da-gyeom mengatakan dampak kebijakan itu bisa diprediksi lebih akurat setelah mendapatkan data penjualan pada kuartal ketiga.

"Karena penjualan album berdasarkan pembelian individu, sulit memprediksi secara akurat dampak pembatasan sampai kami mengonfirmasi penurunan penjualan pada kuartal ketiga, " kata Park Da-gyeom seperti dilansir Korea Times.

Ilustrasi fan kpop. Pengamat menilai akan selalu ada cara bagi penggemar tetap mempertahankan kebiasaan lama di bawah aturan baru China yang ketat. (ED JONES / AFP)
Tak lama setelah kebijakan baru China diterbitkan, harga saham perusahaan hiburan Korea, termasuk The Big 3 Korea yakni SM Entertainment, JYP Entertainment, dan YG Entertainment, turun.

YG Entertainment, SM Entertainment, dan JYP Entertainment mengalami penurunan harga saham masing-masing sebesar 2,54 persen, 1,94 persen dan 1,57 persen.

Sementara itu, Keyeast yang merupakan agensi manajemen sederet aktor ternama juga melihat harga sahamnya turun 4 persen pada hari yang sama.

Para penggemar berbasis di China pun sudah mulai buka suara. Seperti Lisa Bar yang meminta maaf karena tak lagi bisa membeli begitu banyak album untuk mendukung idolanya, Lisa BLACKPINK.

"Kami meminta maaf karena memberi tahu kalian, kami sepertinya tidak bisa membeli banyak album. Kami saat ini menghadapi rintangan akibat pengetatan fan klub," cuit LISABar_CN yang kini akun Twitternya diprivasi.

"Kami berharap semua bisa melakukan yang terbaik dan bekerja sama. Semua untuk Lisa."

Sun Meicheng memperkirakan kebijakan baru pemerintah China tidak hanya memengaruhi penjualan album K-pop. Itu disebut nantinya dapat berdampak bagi artis, musisi, serta idol secara langsung.
Ia menyoroti banyak grup K-pop yang memiliki member berkewarganegaraan China, seperti SEVENTEEN, aespa, NCT Dream, Everglow, dan masih banyak lagi.

Kendati demikian, Sun mengaku belum dapat memperkirakan dengan pasti yang akan terjadi pada mereka di tengah peraturan keras pemerintah China saat ini.

Di sisi lain, Sun Meicheng juga meyakini kebijakan baru tersebut tidak mengurangi rasa cinta penggemar kepada idolanya.

Penggemar di China diyakini akan terus mendukung, termasuk mencoba mencari cara baru untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada idola di tengah larangan pemerintah.

"Saya pikir ini juga merupakan kesempatan untuk mengubah budaya penggemar idola, yaitu untuk mengurangi konsumsi berlebihan dan penggemar yang berlebihan," kata Sun.

"Tapi saya yakin beberapa penggemar mungkin masih mencoba mempertahankan praktik mereka sebelumnya, dan praktik semacam itu mungkin menjadi lebih rahasia dan sulit dideteksi," katanya.

Sebelumnya, Weibo yang menjadi laman internet terbesar di China menangguhkan 21 akun medsos fan K-pop. Salah satunya adalah Jimin Bar karena dinilai melanggar aturan pemerintah saat mengumpulkan dana untuk merayakan ulang tahun ke-26 Juli.

"Akun ini untuk sementara dilarang mengunggah karena melanggar peraturan komunitas Weibo," bunyi label yang diberikan Weibo atas akun Jimin Bar. Sehingga, akun itu ditangguhkan 60 hari.

Akun-akun fan idol lainnya juga dinilai memiliki "perilaku mengejar idola yang tidak rasional". Akun-akun yang ditangguhkan selama 30 hari tersebut merupakan milik penggemar para artis K-Pop terkenal, mulai dari IU, EXO, BLACKPINK, hingga BTS.

Perwakilan pemerintah China membantah pengetatan itu dilakukan untuk menargetkan dunia hiburan Korea Selatan. Mereka menegaskan kebijakan itu dibuat untuk menjaga ketertiban umum.

"(Kampanye) Menargetkan kata-kata dan perbuatan yang bertentangan dengan ketertiban umum, sopan santun, dan melanggar hukum dan aturan," kata perwakilan kedutaan China di Korea Selatan.

"Ini tidak akan menghalangi hubungan pertukaran dengan negara lain," kata mereka seperti dilansir Korea Times pada Kamis (9/9).


Sumber : okezone.com

0 comments: