Bersiap Pemilu, Jepang Berpotensi Punya PM Perempuan Pertama

Kamis, September 09, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Jepang berpotensi memiliki PM perempuan untuk pertama kalinya setelah mantan mendagri mereka, Sanae Takaichi, mencalonkan diri menjadi ketua partai berkuasa. (AFP/Kazuhiro Nogi)


Jepang berpotensi memiliki perdana menteri perempuan untuk pertama kalinya setelah mantan Menteri Dalam Negeri, Sanae Takaichi, mencalonkan diri menjadi ketua partai berkuasa.
Takaichi mengumumkan pencalonannya sebagai ketua Partai Demokratik Liberal Jepang (LDP) pada Rabu (8/9) untuk menggantikan Yoshihide Suga.

LDP akan menggelar pemungutan suara untuk memilih pemimpin pada 29 September mendatang. Pemenang dalam pemilihan ketua LDP ini nantinya bakal jadi wakil partai dalam pemilu PM di tingkat dewan rendah parlemen yang digelar paling lambat pada 28 November.


Ketua LDP hampir dipastikan bakal menjadi perdana menteri selanjutnya, mengingat partai berkuasa itu memang memegang mayoritas di parlemen.

Jika menang, Takaichi akan menjadi perdana menteri perempuan pertama di Jepang. Sebagaimana dilansir Reuters, Takaichi memiliki peluang cukup besar mengingat mantan PM Jepang, Shinzo Abe, memberikan dukungan kepada satu-satunya kandidat perempuan itu.

Dengan dorongan Abe, Takaichi dipastikan menerima dukungan dari setidaknya 20 anggota parlemen. Namun, peringkat popularitas Takaichi di mata publik sendiri saat ini masih sangat rendah.

Mantan mendagri di era Abe itu pun mulai mengampanyekan sejumlah program yang bakal ia gencarkan jika didapuk menjadi perdana menteri.

Takaichi mengatakan bahwa ia ingin membenahi sejumlah masalah yang belum terpecahkan oleh pemerintah sebelumnya, seperti mencapai inflasi 2 persen, dan menyusun legislasi "yang mencegah kebocoran informasi sensitif ke China."

Ia juga menganggap Jepang membutuhkan bujet ekstra untuk membenahi sistem medis negara yang kacau balau akibat pandemi Covid-19 belakangan ini.

Meski mencanangkan sejumlah program penting, sikap Takaichi yang konservatif dianggap dapat mengurangi dukungan dari para pejuang hak-hak perempuan.

Beberapa waktu lalu, Takaichi dan LDP lantang menolak seruan agar perempuan dapat mempertahankan nama keluarga mereka sendiri setelah menikah. Mereka menganggap langkah seperti itu bisa merusak persatuan keluarga dan bertentangan dengan tradisi.




Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: