Bisnis Rokok Lesu, Grup Djarum Gencar Rambah Sektor Ritel dan Digital

Kamis, September 23, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Grup Djarum dikabarkan tengah gencar mengakuisisi saham sejumlah perseroan. Langkah ekspansi bisnis ini dilakukan di tengah lesunya industri rokok akibat pandemi Covid-19 dan rencana kenaikan cukai.


 

Belakangan ini, Djarum melalui anak usahanya, PT Global Digital Niaga (GDN) atau Blibli.com, berencana mengakuisisi saham PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), emiten pengelola Ranch Market, dalam rangka memperluas ekosistem bisnis perseroan perusahaan e-commerce

 

Blibli akan mengeksekusi sebanyak 797.888.628 atau 51% saham RANC dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Saat ini, tahapan akuisisi tersebut telah diikat ke dalam Perjanjian Pengikatan Pembelian Saham (PPPS) yang diumumkan perseroan pada 15 September lalu.

 

Akuisisi ini dilakukan BliBli dari sejumlah pemegang saham RANC, seperti PT Wijaya Sumber Sejahtera, PT Prima Rasa Inti, PT Gunaprima Karyaperkasa, PT Ekaputri Mandiri, David Kusumodjojo, Suharno Kusumodjojo, dan Harman Siswanto. Rencana pengambilalihan ini ditargetkan dapat selesai maksimal 40 hari sejak dikeluarkannya PPPS ini.



Lebih jauh lagi, baru-baru ini muncul kabar bahwa Grup Djarum, masih melalui GDN/Blibli, sedang berusaha mengambilalih sebagian besar saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), perusahaan yang bergerak di bidang distribusi dan pengecer alat elektronik.

 

Namun, pihak ERAA menepis rumor tersebut. Head of Legal & Corporate Secretary Erajaya Swasembada, Amelia Allen menyatakan perseroan tidak mengetahui informasi apapun terkait rencana tersebut.

 

"Sampai dengan saat ini Perseroan tidak mengetahui informasi apapun terkait dengan adanya rencana Djarum Grup untuk mengakuisisi saham perseroan," kata Amelia dalam catatan tertulisnya, Selasa.

 

Bukan kali pertama pada tahun ini Grup Djarum aktif mengakuisisi sejumlah perusahaan. Melalui anak usahanya yang lain yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), Grup Djarum bakal mengambilalih setidaknya 90% saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) yang bergerak di bidang operasi dan penyewaan menara Base Transceiver Station (BTS) atau menara telekomunikasi. Artinya apabila pengambilalihan ini selesai, maka kepemilikan menara TOWR bakal bertambah.

 

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 menghantam keras bisnis industri rokok. Bukan hanya persoalan kesehatan, rencana pemerintah untuk menaikkan cukai menjadi tamparan keras bagi perusahaan rokok.

 

Beberapa sentra tembakau yang menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi tumpuan ekonomi daerah ikut terdampak pandemi, yang mengancam industri hasil tembakau (IHT) dan hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL).

 

Kementerian Keuangan sepanjang semester I/2021 melaporkan bahwa realisasi penerimaan cukai HPTL mencapai Rp298 miliar, terkontraksi 28% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut berbeda dengan penerimaan cukai hasil tembakau yang naik sebesar 57,85% (per Juli 2021), meskipun produksinya tergerus pandemi.


 

Menilik laporan keuangan sejumlah perusahaan rokok pada semester I/2021, terdapat penurunan pendapatan yang cukup signifikan. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami penurunan laba bersih sebanyak 15,29%. PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA) juga masih mengalami penurunan penjualan sebesar 36,3%. Menilik kondisi ini, wajar saja jika kemudian industri rokok mulai merambah bisnis lain sebagai langkah diversifikasi usaha.


 

Sumber : sindonews.com

0 comments: