Cara Unik Wanita Afghanistan Protes Kebijakan Taliban Terhadap Perempuan, Pakai Baju Tradisional Warna-warni

Selasa, September 14, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Wanita Afghanistan protes kebijakan Taliban pakai baju warna warni (Foto: CNN)

KABUL - Wanita Afghanistan di seluruh dunia memprotes persyaratan jilbab baru Taliban di sekolah-sekolah dengan memposting foto diri mereka mengenakan pakaian tradisional berwarna-warni di media sosial (medsos).

Dalam beberapa hari terakhir, Taliban telah mengamanatkan pemisahan jenis kelamin di ruang kelas dan mengatakan mahasiswi, dosen dan karyawan perempuan harus mengenakan jilbab sesuai dengan interpretasi kelompok hukum Syariah.

Pada Sabtu (11/09), beredar foto-foto yang memperlihatkan sekelompok mahasiswi mengenakan jubah hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki, mengibarkan bendera Taliban sambil mendengarkan pembicara sebelum rapat umum pro-Taliban, di ruang kuliah Universitas Pendidikan Shaheed Rabbani, Kabul.

Sedangkan wanita Afghanistan lainnya menanggapi foto tersebut dengan memposting foto diri mereka dalam pakaian tradisional Afghanistan yang cerah dan berwarna-warni – sangat kontras dengan mandat jilbab hitam yang diuraikan oleh Taliban.

Aksi ini dimulai oleh Bahar Jalali, mantan anggota fakultas American University of Afghanistan di LinkedIn-nya, berdasarkan informasi dari wanita lain yang ikut berbagi foto di Twitter-nya.

"Tidak ada wanita yang pernah berpakaian seperti ini dalam sejarah Afghanistan. Ini benar-benar asing bagi budaya Afghanistan. Saya memposting foto saya menggunakan pakaian tradisional Afghanistan untuk menginformasikan, mendidik, dan menghilangkan informasi salah yang telah disebarkan oleh Taliban,” terang Jalali mengutip tweet gambar seorang wanita dalam gaun hitam penuh dan kerudung.

Aksi yang dilakukan oleh Jalali ini segera diikuti oleh wanita Afghanistan lainnya di media sosial.

Waslat Hasrat-Nazimi, kepala dinas Afghanistan di DW News, mentweet foto dirinya dalam pakaian tradisional Afghanistan dan hiasan kepala.

"Ini adalah budaya Afghanistan dan ini adalah cara berpakaian wanita Afghanistan,” cuitnya.

Sana Safi, seorang jurnalis BBC terkemuka yang berbasis di London, memposting foto dirinya dalam pakaian tradisional berwarna-warni.

"Jika saya berada di Afghanistan maka saya pasti akan mengenakan jilbab. Ini hal 'konservatif' dan 'tradisional' seperti yang saya/Anda pasti dapatkan,” tulisnya.

"Ini adalah pakaian tradisional kami. Kami menyukai banyak warna. Bahkan nasi kami pun berwarna-warni dan begitu pula bendera kami,” terang Sodaba Haidare, jurnalis BBC lainnya.

Tidak ketinggalan, Peymana Assad, seorang politisi lokal di Inggris yang berasal dari Afghanistan, menulis pendapatnya di media sosial. "Pakaian budaya kami bukanlah pakaian ‘dementor’ yang dikenakan wanita Taliban,” cuitnya.

"Ini adalah budaya Afghanistan," lanjutnya.

Fereshta Abbasi, seorang pengacara Afghanistan, men-tweet gambar pakaian tradisional, Hazaragi-nya.

"Hijab sudah ada sebelum jatuhnya Kabul. Kita bisa melihat wanita berhijab, tetapi hal ini didasarkan pada keputusan keluarga dan bukan pemerintah,” terang Shekiba Teimori, seorang penyanyi dan aktivis Afghanistan yang melarikan diri dari Kabul bulan lalu, mengatakan kepada CNN.

Dia mengatakan bahwa sebelum Taliban datang ke Afghanistan, nenek moyangnya mengenakan gaun Afghanistan warna-warni yang sama seperti yang ada di fotonya.

Nasib perempuan di Afghanistan telah menjadi sumber keprihatinan utama sejak Taliban mengambil alih negara itu dengan cepat setelah penarikan pasukan AS dan internasional yang kacau pada Agustus lalu.

Taliban, yang memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001 tetapi dipaksa turun dari kekuasaan setelah invasi pimpinan AS, secara historis memperlakukan perempuan sebagai warga negara kelas dua, menjadikan mereka sasaran kekerasan, pernikahan paksa, dan kehadiran yang nyaris tak terlihat di negara itu.

Setelah mereka merebut kembali ibu kota negara itu bulan lalu, kepemimpinan Taliban mengklaim bahwa mereka tidak akan memaksakan kondisi kejam seperti itu saat berkuasa. Tetapi tidak adanya perwakilan perempuan dari pemerintahan sementara mereka yang baru dibentuk dan hilangnya perempuan hampir dalam semalam dari jalan-jalan utama telah menyebabkan kekhawatiran besar tentang apa yang akan terjadi selanjutnya untuk setengah dari penduduknya.


Sumber : okezone.com

0 comments: