Cerita Dokter RSLI soal CT Value Sangat Rendah 1,8 Para TKI yang Positif COVID-19

Jumat, September 10, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Akhir-akhir ini sering terjadi fenomena CT value atau Cycle Threshold Value ekstrem atau angkanya sangat rendah. Dan RS Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya tengah mewaspadai varian baru COVID-19 yang masuk melalui Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau TKI, yang baru pulang dari luar negeri.

 

 

Saat ini, pasien di RSLI saat ini didominasi TKI. Dari data terakhir, diketahui RSLI tengah merawat 157 pasien. Ada 149 pasien asal TKI dan 8 pasien umum.

 

Penanggungjawab RSLI Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi, MARS mengaku pihaknya tengah mencermati salah seorang pasien TKI yang nilai CT value-nya di angka 1,8. Angka ini termasuk sangat rendah dan memiliki potensi penularan cukup tinggi.

"Untuk penanganan pasien PMI, kita sangat antisipatif, terutama kemungkinan varian baru muncul. Karena kami menemukan nilai CT value 1,8 pada satu pasien, sampai saya tanya dan konfirmasi ke dr Fauqa, ini nilai CT valuenya 1,8 atau 18? Mohon swab PCR-nya diulang, karena pasien ini sudah dirawat 12 hari," kata dr Samsulhadi di Surabaya, Kamis.

 

Setelah diulang, Samsulhadi mengatakan nilai CT value pasien tersebut memang di angka 1,8. Tak hanya itu, dia mengungkapkan ada beberapa pasien TKI yang sudah 10 hari dirawat, namun nilai CT valuenya masih di bawah 15.

 

"Ini fenomena baru dan masih kita tindaklanjuti. Karena fenomena yang aneh, saya sudah meminta dr Fauqa untuk menindaklanjutinya," imbuhnya.

 

Sementara dokter spesialis Patologi Klinis sekaligus Dokter Penanggungjawab Pasien (DPJP) RSLI, dr Fauqa Arinil Aulia SpPK menyebut pihaknya sering menemui fenomena CT value ekstrem hingga di bawah 5.

 

"Fenomena yang ada di RSLI akhir-akhir ini memang kami menemukan CT Value ekstrem dan masih pada angka yang sangat rendah," ungkapnya.

 

"Padahal teorinya, pada varian lain, progresnya baik, CT Value naik. Bahkan hari ke 13 sudah negatif. Sedangkan sekarang ini kok malah kebalikannya, minggu kedua seperti mulai kembali terserang, dengan indikasi nilai CT Value yang masih rendah, di bawah 25 bahkan di bawah 5," tambah Fauqa.

 

Saat disinggung apakah hal ini mengarah ke varian baru atau masih di varian Delta, Fauqa menyebut masih menunggu hasil Whole Genome Sequencing (WGS). Pihaknya terus memonitor pasien dengan CT Value rendah, apakah varian baru atau tidak dengan mengirimkan 78 sampel.

 

"Kita tidak bisa berandai-andai, semua masih menunggu konfirmasi dari WGS dari sampel yang kita kirimkan," ujarnya.

 

Tak hanya itu, Fauqa menyebut pihaknya juga perlu memperhatikan adanya varian MU yang termasuk Varian of Interest (VoI). Saat ini, varian MU sudah melanda 39 negara.

 

"Terhadap varian MU ini kita tidak perlu khawatir. Sebagai VoI sifatnya tidak berubah dari gejala klinis, perkembangan di penyakitnya, dan juga terapinya masih sama. Yang perlu kita waspadai adalah Varian of Concert (VoC), dan Varian of High Consequence (VoHC) yang sekarang memang belum ada," paparnya.

 

Jika pada varian delta, CT value pasien bisa di bawah 25 hingga di bawah angka 5, justru varian MU tidak seperti ituu.

 

"Untuk VoC itu contohnya adalah Delta. Varian Delta kemarin termasuk VoC, seperti kita tahu kemarin sangat heboh, outbreaknya luas dan mereka yang terinveksi Delta, nilai CT Valuenya rata-rata di bawah 25, dan ada yang ekstrem di bawah 5. Sedangkan pada Varian MU masih termasuk VoI, karakteristiknya urutan dasar masih sama, tidak merubah sifat dasar virus. Jadi tidak perlu terlalu dirisaukan," pungkasnya.

 

Sumber : detiknews

0 comments: