Kisah Pilu TKI di Saudi, Kerja 14 Tahun Tapi hanya Digaji Rp36,5 Juta

Rabu, September 01, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Kepada petugas, TKI AIO mengaku telah bekerja selama 14 tahun di Kota Abha. Namun, dari kerjanya selama itu dia baru menerima upah SAR9.600.

 

Seorang tenaga kerja asal Indonesia (TKI) mengatakan sudah bekerja selama 14 tahun di Kota Abha, Arab Saud. Namun, dirinya hanya mendapat gaji SAR9.600 atau sekitar Rp36,5 juta. 

 

TKI berinisial AIO ini semestinya mendapatkan sisa gajinya senilai SAR177.600 atau sekitar 676,9 juta. Upaya yang belum dibayarkan itu ternyata ditahan oleh majikannya. 

 

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah turun tangan dan berhasil mengamankan sisa upah AIO senilai SR177.600 atau sekitar Rp676,9 juta. Nasib yang dialami AIO ini terungkap di sela-sela pelaksanaan Pelayanan Terpadu (Yandu) KJRI Jeddah yang berlangsung 27-28 Agustus 2021 di Khamis Musheit. 

Kepada petugas, TKI AIO mengaku telah bekerja selama 14 tahun di Kota Abha. Namun, dari kerjanya selama itu dia baru menerima upah SAR9.600. 

Anehnya, saat mengajukan penggantian paspor, petugas mendapati TKI perempuan asal Bekasi itu telah membubuhkan tanda tangan dan sidik jari sebagai bukti gaji telah dibayar lunas. 

Lantaran curiga, petugas akhirnya menanyakan kapan lembar pembayaran upah itu ditandatangani. AIO, yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), mengaku melakukannya beberapa saat sebelum mendatangi lokasi Yandu. 

Akhirnya, sang majikan dipanggil untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya dan menyelesaikan kewajibannya secara kekeluargaan. gBeruntung sang majikan AIO melunak dan mengakui kejadian yang sebenarnya. 

Majikan AIO, seorang pria yang disebut-sebut berprofesi sebagai tentara itu akhirnya bersedia membuat surat pernyataan akan segera melunasi sisa gaji TKI tersebut. 

Tim petugas segera menghubungi perwakilan BNI di Arab Saudi agar segera menerbitkan rekening pribadi atas nama AIO. 

Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah Eko Hartono mengatakan tingkat pendidikan dan keluguan PMI, khususnya yang bekerja di sektor domestik, kerap dimanfaatkan oleh pengguna jasa yang tidak bertanggung jawab. 

“Dalam menangani perkara sengketa gaji, posisi KJRI Jeddah jadi lemah kalau PMI (Pekerja Migran Indonesia) telah menandatangani atau membubuhkan sidik jari pada lembar pembayaran. Syukur kalau majikan jujur dan mau mengakui. Jika tidak, kan PMI jadi kehilangan haknya. Bicara hukum, bicara bukti,” ujar Konjen Eko Hartono yang memimpin langsung pelaksanaan Yandu di kota yang berjarak sekitar 700 KM dari KJRI Jeddah tersebut, sebagaimana dikutip dari situs resmi KJRI Jeddah. 

Dalam kesempatan tersebut, Tim Yandu juga berhasil mengupayakan kenaikan upah bagi 13 PMI yang telah bekerja bertahun-tahun sebagai ART dan masih digaji di bawah standar

 

Kenaikan nilai upah tersebut berhasil diperjuangkan setelah negosiasi alot dengan para majikan. 

 

Kesepakatan tersebut kemudian dikuatkan dalam Perjanjian Kerja (PK) dalam dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab) yang ditandatangai oleh majikan dan ART-nya. Gaji standar untuk ART di Arab Saudi berkisar SR1.500. 

 

Dari sekian permasalahan seputar PMI selama Yandu di Khamis Musheit umumnya adalah belum pernah pulang ke Tanah Air Indonesia meski telah bertahun-tahun bekerja. Sebagian karena dipersulit majikan, sebagian lagi karena keengganan PMI sendiri untuk mengambil cuti dengan berbagai alasan. 

 

Di sela kegiatan Yandu tersebut, tim juga menyalurkan bantuan COVID-19 berupa 15 paket sembako kepada PMI yang kehilangan pekerjaan, tidak digaji atau pengurangan gaji karena dirumahkan setelah dinyatakan positif terinfeksi COVID-19. 

 

Dalam Yandu selama dua hari tersebut, KJRI Jeddah melayani 144 lapor diri, penerbitan 1 Surat Keterangan Lahir (SKL), 1 Akta Lahir (AK), 113 paspor, 2 SPL, 1 perpanjangan paspor satu tahun, 74 Perjanjian Kerja (PK), 41 rekom, penanganan satu kasus gaji. 


 

Sumber : idxchannel.com

0 comments: