Menakar Gurihnya Bisnis Kos-kosan di Indonesia

Kamis, September 30, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Hingga saat ini, kos-kosan masih menjadi salah satu bisnis properti yang tak pernah surut.

 

Bisnis ini menjanjikan masa depan cerah untuk dijalankan karena pemilik bisa mendapatkan passive income (pendapatan pasif).



Sehingga, mereka tak perlu memikirkan pengelolaan bisnis yang rumit seperti mengurus perusahaan atau urusan operasional dan tenaga kerja lain yang membutuhkan keterlibatan penuh. Lebih dari itu, kos-kosan menjadi suatu investasi yang menawarkan keuntungan seraya menikmati masa tua karena bersifat jangka panjang.



Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengatakan kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dan lokasi strategis masih sangat besar, sementara pasokannya belum banyak. "Saya lihat potensi ini cukup baik bagi pengembang dan pengelola yang ingin bermain dibisnis ini,” kata Ferry beberapa waktu lalu.



Oleh karena itu, investasi di bidang kos-kosan sangat diminati, apalagi jika aset yang dimiliki berada di kawasan perkotaan, dekat fasilitas pendidikan, dan dekat dengan segala fasilitas publik.

 

Meski dalam kondisi Pandemi Covid-19, bisnis ini relatif lebih baik ketimbang akomodasi lainnya karena tempat tinggal masih menjadi salah satu kebutuhan dasar. Sebut saja mitra-mitra bisnis Mamikos, yang mampu mencatat tingkat keterisian hingga 75 persen untuk layanan

 

Singgahsini setelah 3-4 bulan pertama bergabung selama masa Pandemi Covid-19. Sementara sebelum masa Pandemi Covid-19, tingkat hunian bisa mencapai lebih dari 100 persen.

 

Mamikos, platform digital untuk layanan rumah kos, kini telah memiliki 3 juta kamar dari 150.000 properti yang ada di platform pencarian kos tersebut.

 

 

 Dari jumlah tersebut, sejumlah 5.000 kamar dari 400 properti dikelola oleh manajemen properti perusahaan. Co-founder dan CEO Mamikos Maria Regina Anggit mengatakan, Mamikos pun telah dikunjungi 6 juta user (pengguna) per bulan.

 

 

 "Ini 10 kali lebih besar daripada platform serupa dari sisi pengguna maupun jumlah properti, sekaligus menguasai 80 persen traffic share (pangsa kunjungan)," ujar Anggit kepada

 

Menurut dia, tren bisnis kos-kosan ini tergantung pada lokasi dengan banyaknya pangsa pasar di wilayah tersebut seperti profesional muda, karyawan, mahasiswa, dan lain-lain.


Apabila hanya bergantung pada satu pasar, maka akan lebih sulit mendapatkan keuntungan dari kos-kosan. Sejatinya, setiap kota di Indonesia tentu memiliki kawasan kos, namun permintaan paling tinggi biasanya berada di kawasan kampus, industri, wisata dan pusat bisnis.

 

"Maka dari itu, tergantung lokasi dan strategi pemilik dalam merespon hal tersebut," lanjut Anggit. Dia menuturkan, Mamikos melalui manajemen propertinya membantu para mitra (pemilik kos) mengenali potensi di masing-masing lokasi.

 

Selain itu, pemilik kos akan dibantu terkait perumusan dan penerapan strategi diversifikasi pasar dalam menaikkan tingkat hunian.



Mamikos sendiri menerapkan revenue sharing (bagi untung sebelum dikurangi biaya operasional) sebesar 15 persen.

 

 

 Namun, tidak menutup kemungkinan properti dikelola secara penuh oleh Mamikos dengan profit sharing (bagi untung setelah dikurangi biaya operasional) atau disewakan sepenuhnya.

  

 

Jika bergabung dengan salah satu layanan premium Mamikos yaitu Singgahsini, profit sharing-nya didasari dengan kesepakatan kedua belah pihak. Perhitungannya pun tergantung pada lokasi dan fasilitas kos.

 

 

Sementara okupansi juga bergantung pada lokasi dan musim. Demikian halnya Cove, platform digital coliving asal Singapura. Mereka menawarkan skema profit sharing dan revenue sharing, yang bisa dipilih mitra berdasarkan sejumlah variabel lokasi, fasilitas, dan market.

 

 Di Jakarta, misalnya. Kawasan yang paling banyak diminati tentu saja kawasan-kawasan central business district (CBD) dan dekat kampus atau perguruan tinggi. Demikian halnya kota besar lainnya di seluruh Indonesia.

 

Tak mengherankan jika di kawasan-kawasan ini, tarif rumah kos bisa satu setengah atau dua kali lipat dibanding pinggiran.

 

Country Director of Investment Cove Rizky Kusumo mencontohkan, jika di kawasan Cilandak rentang tarif mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta per bulan, maka di kawasan CBD bisa lebih dari itu, yakni sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan.

 

"Jika mitra bisnis Cove memiliki minimal 14 rumah atau unit yang dikelola dengan tingkat keterisian 75 persen, balik modal dan keuntungan yang diraup bisa sangat signifikan," imbuh dia.

 

Wajar jika kemudian banyak start up dan investor serta lembaga investasi yang terjun di bisnis ini. Selain Mamikos dan Cove, terdapat juga nama-nama lain yang meramaikan bisnis coliving di Indonesia seperti CoHive, Kamar Keluarga, CoLive, dan Cozy Coliving.

Bagi Anggit, persaingan kos-kosan adalah hal biasa dan jika ada pemain baru bermunculan justru membuat kompetisi semakin sehat.

 

"Mamikos tetap harus adaptif dan kreatif terhadap perkembangan yang terjadi. Dengan banyaknya kompetisi, tentu membuat kami haus akan inovasi sehingga bisa bersaing di pasar," papar Anggit.


Sementara Cove yang telah melayani lebih dari 1.000 profesional dan mahasiswa di Singapura dan Jakarta, berencana untuk melebarkan sayap di Asia Tenggara.

 

Didirikan pada tahun 2018 di Singapura, Cove memprioritaskan kebutuhan penghuni dengan menyediakan servis yang lebih mudah, lebih cepat, dan lebih fleksibel.

 

 

Platform ini telah memiliki layanan dan hunian yang tersebar di lima lokasi populer di Jakarta. Meski bisnis kos-kosan di Indonesia sangat menggiurkan, namun Cove belum akan melakukan ekspansi di luar pasar Jadebotabek.


Dilirik selebrititas

 

 Tak hanya investor, bisnis kos-kosan juga ditekuni sejumlah selebritas tanah air seperti Citra Scholastika dan Tantri Syalindri Ichlasari atau yang dikenal Tantri Kotak.

 

Citra baru saja merambah bisnis ini dengan menggandeng salah satu layanan manajemen properti Mamikos, Singgahsini.


Penyanyi jebolan Indonesian Idol musim keenam ini memulai bisnis kos-kosan di kampung halamannya yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bisnis kos-kosan Citra ini dinamakan

 

"Kos Citra" yang diperuntukkan bagi putri dengan beragam fasilitas yang ditawarkan. Misalnya, perabotan kamar, kamar mandi dalam dengan shower, water-heater, air conditioner (AC), ruang tamu, loker, lemari, serta dapur umum.

 

 Terdapat dua jenis atau tipe kamar yang tersedia di kos tersebut yaitu tipe A dan B yang perbedaannya hanya terletak pada luasnya. Baginya, bisnis kos-kosan merupakan hal yang menjanjikan dari segi capital gain (keuntungan modal) karena bersifat jangka panjang dan dapat diwariskan.

 

"Saya memiliki 8 kamar kos yang bekerja sama dengan Singgahsini dan sangat merasa dimudahkan karena tidak perlu pusing untuk memikirkan manajemen kos hingga aktivitas pemasaran," ujar dia dalam siaran pers, Selasa.

 

Hingga saat ini, dia hanya perlu memantau bisnis kos saja dan semuanya berjalan dengan baik dan rapi.

 

Sama halnya dengan Citra, Tantri juga memilih DIY sebagai lokasi dalam menjalankan bisnis kos-kosan perdananya. Bernama Bobok Manis, rumah kos Tantri terdiri dari delapan kamar dengan konsep desain industrial.

 

 Rumah kos ini dilengkapi beberapa fasilitas seperti perabotan kamar, kamar mandi dengan shower, water-heater, wastafel, kulkas mini, lemari serta dapur umum. Berinvestasi rumah kos memang merupakan impian Tantri sejak lama karena perempuan kelahiran tahun 1989 ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya.

 

Dia pernah mengalami keterbatasan pilihan dalam mencari kos murah di Jakarta. Sebagai pemula dalam berinvestasi rumah kos, Tantri juga mempercayakan pengelolaan kosnya kepada Singgahsini.

 

Menurut dia, kesuksesan dalam mengelola dan mengembangkan kos tidak hanya mengandalkan popularitas, melainkan dalam hal pemasaran serta operasionalnya.

 

 

Sumber : kompas.com

0 comments: