Menembus Bukit, Terowongan Warisan Belanda Ini Kokoh Meski Berusia Hampir Seabad

Sabtu, September 18, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

https: img.okezone.com content 2021 09 18 408 2473200 menembus-bukit-terowongan-warisan-belanda-ini-kokoh-meski-berusia-hampir-seabad-qnw09INqkE.JPG

BANYAK peninggalan pemerintah kolonial Belanda selama bercokol di Indonesia. Salah satunya Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten. Sebelum dikenal sebagai waduk, kawasan ini ialaha perkampungan dan area persawahan di tanah rendah dengan dikelilingi pegunungan.

Perkampungan tersebut seringkali terendam air kala musim hujan tiba, sehingga warga yang tinggal di kawasan tersebut bermigrasi ke perkampungan di sekitarnya.

Belanda pun memanfaatkan air di tanah rendah yang kini menjadi Rawa Jombor itu sebagai irigasi lahan-lahan yang ditanami tebu pabrik gula Manisharjo di Kecamatan Pedan.

Akan tetapi, air tak bisa disalurkan lantaran terhalang bukit. Pemerintah kolonial memulai proyek pembangunan terowongan menembus perbukitan yang dikenal dengan nama Gunung Pegat.

“Itu mau digunakan untuk irigasi tidak bisa karena ada gunung. Kemudian Belanda mengadakan rapat untuk menerobos bikin terowongan. Tiga tahun harus klir,” kata salah satu warga Desa Krakitan, Kadarjo (81), melansir laman Solopos, Sabtu (18/9/2021).

Proses pembangunan diperkirakan selesai pada 1924. Panjang terowongan itu sekitar 1,5 km menembus perut bukit di tiga desa yakni Desa Krakitan, Desa Krikilan, serta Desa Jotangan, Kecamatan Bayat.

Setelah proyek pembangunan rampung, air dari Rawa Jombor bisa dialirkan ke berbagai wilayah seperti di Kecamatan Pedan dan Cawas.

Infografis Wisata

“Untuk membangun dengan diledakkan menggunakan dinamit. Dulu ada lori untuk mengeluarkan batu-batu dari dalam terowongan,” tuturnya.

Di antara terowongan menembus Gunung Pegat, ada rongga udara yang disebut sumur oleh warga setempat.

Sebutan itu diberikan tak lain lantaran bentuk rongga udara berupa sumur raksasa dengan mulut sumur ada yang berbentuk lingkaran ada pula yang berbentuk kotak.

Salah satu sumur berada di Desa Jotangan dengan diameter sekitar 10 meter dan kedalaman diperkirakan mencapai 15 meter hingga mencapai saluran air di dasarnya.

Kendati telah berusia seabad, terowongan itu masih kokoh dan berfungsi untuk mengalirkan air dari Rawa Jombor.


Bangunan sumur yang menjadi rongga udara juga masih terlihat utuh seperti sumur di Desa Jotangan yang berbentuk lingkaran dengan bangunan tembok tersusun berundak.

Dulu kata Kadarjo, warga kerap menyusuri terowongan itu tak terkecuali dirinya untuk mencari ikan. Lokasi itu juga kerap digunakan latihan para calon anggota TNI. Lantaran pengalamannya menyusuri terowongan tersebut, Kadarjo pernah ditunjuk menjadi pemandu untuk masuk terowongan melalui sumur.

Gas Beracun

Saat ini tak ada warga yang berani memasuki terowongan tersebut. Pasalnya, dari dalam terowongan konon kerap mengeluarkan gas beracun serta pernah ada yang meninggal dunia di terowongan itu.

Warga Krakitan lainnya, Parno (50) berujar bahwa warga kerap mencari ikan di dalam terowongan. Meski begitu, kebiasaan tersebut perlahan ditinggalkan demi menghindari kesialan dan hal-hal tak diinginkan.

“Sekarang kondisi akses untuk masuk terowongan juga sudah tertutup lumpur,” singkat Parno.


Sumber : okezone

0 comments: