Mengenal Guma dan Senjata Tradisional Khas Sulawesi Tengah

Selasa, September 07, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Sulawesi Tengah memiliki kekayaan senjata tradisional yang beragam. Beberapa di antaranya adalah guma, doke, tombak, dan kaliavo yang merupakan tameng khas masyarakat Kaili, suku asli setempat. Benda-benda tersebut memiliki kekhasan hingga peran dalam sejarah Indonesia.
Dalam sebuah pameran yang berlangsung pada Minggu (5/9) di Korem 123 Tadulako, Palu, ratusan senjata tradisional dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi Tengah dipamerkan.

Tidak kurang dari 100 buah senjata tradisional dipamerkan dalam acara yang dikurasi oleh ahli beladiri golok yang dikenal sebagai Ki Kumbang. Guma yang dipamerkan ini diketahui berasal dari Palu, Donggala, hingga Lembah Besoa, Poso.


"Selama ini saya sudah menjelajahi beberapa daerah mencari jenis-jenis senjata tradisional, namun guma memang berbeda. Bahan-bahannya pun beragam. Ada yang dibuat dari nikel dan besi serta bahan-bahan lainnya," kata Ki Kumbang.


Ia menjelaskan perbedaan guma dengan parang atau pedang. Menurutnya, guma digunakan sebagai alat pertahanan di Sulawesi Tengah, sedangkan parang digunakan sebagai alat keperluan sehari-hari seperti berburu dan berkebun.

Ki Kumbang menyebut dalam waktu dekat pihaknya akan mempelajari lebih dalam terkait guma dengan uji laboratorium di Institut Teknologi Bandung guna melihat komposisi dari guma.

Ia mengaku, berdasarkan pengalaman, melihat senjata khas Suku Kaili tersebut terbuat dari wolfram, silika, mangan, titanium, tembaga bahkan nikel. Begitu pun yang dapat dilihat pada Doke.

Rifai dari Komunitas Pusaka Tadulako, yang menjadi salah satu peserta yang memamerkan beragam senjata tradisional ini, menyebut koleksi yang mereka pamerkan ada yang berusia 200 tahun bahkan lebih, menurut penghitungan periode pewarisan.


Rifai menjelaskan salah satu keistimewaan dari guma. Ia menyebut setiap bagian bilah dari senjata itu punya identitasnya sendiri, mulai dari gagang hingga ke ujung bilah.
Valombo atau Warangkanya pun unik. Ada garis penanda pewarisan antar generasi dan bukti pertarungan pemiliknya, bisa berupa rambut musuh atau lainnya.

Gagang guma pun berbeda-beda. Ada yang seperti mulut terbuka, melengkung penuh, setengah atau lurus saja, adapula yang tajam di bagian ujung atau juga serupa ekor burung.

Baca artikel CNN Indonesia "Mengenal Guma dan Senjata Tradisional Khas Sulawesi Tengah" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20210906200058-241-690547/mengenal-guma-dan-senjata-tradisional-khas-sulawesi-tengah/2.

Hanya melihat gagang guma saja, bisa ditebak siapa pemakainya. Entah dia raja, bangsawan biasa, panglima perang atau rakyat biasa. Meski begitu, guma bukanlah pembeda strata sosial. Pemilahan bentuk gagang hanya disesuaikan dengan fungsi atau kegunaannya.

Gagang guma pun berbeda-beda. Ada yang seperti mulut terbuka, melengkung penuh, setengah atau lurus saja, adapula yang tajam di bagian ujung atau juga serupa ekor burung.(CNN Indonesia/Jafar G Bua)

Jenis guma pun diketahui beragam, ada tinompo, garanggo, kalama, petondu, lompo, dan kandanjonga. Menurut Kepala Museum Negeri Palu, Iksam, dulu guma ada beberapa jenis lagi namun kini hanya tinggal beberapa yang masih bisa diidentifikasi.

"Ada yang dipakai oleh para Raja, keturunan bangsawan atau pembesar, ada orang kebanyakan dan ada pula yang dipakai saat ritual-ritual adat tertentu saja," kata Iksam.

Pada era kiwari seperti saat ini, guma bisa dilihat dalam upacara-upacara adat, misal perkawinan para keturunan bangsawan Kaili, penyambutan tamu, ataupun ritual lainnya. Dahulu, guma juga digunakan dalam pelantikan raja atau perangkat kerajaan lainnya.

Guma bukanlah pembeda strata sosial. Pemilahan bentuk gagang hanya disesuaikan dengan fungsi atau kegunaannya.(CNN Indonesia/Jafar G Bua)
Guma juga pernah digunakan dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Guma, doke, dan taliavo menjadi alat pertahanan dan perlawanan masyarakat Sulawesi Tengah kala itu melawan penjajah. Kesempatan untuk melihat 'peran' dari senjata tradisional ini hanya bisa dilihat di Monumen Karanjelambah, Kota Biromaru, Sigi.

Rifai menyebutkan bahwa tradisi membuat dan memelihara guma nyaris hilang ditelan zaman. Tinggal sedikit orang yang melakukannya.

"Itulah mengapa kami kemudian berusaha mengumpulkan, menginventarisasi, mengidentifikasi warisan budaya Sulawesi Tengah berupa guma ini," kata Rifai.


Sumber : okezone.com

0 comments: