Menilik Beda Taliban, ISIS, dan Al Qaeda

Kamis, September 30, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Taliban fokus menyebarkan nilai dan paham di Afghanistan, sementara ISIS dan Al-Qaeda memiliki ambisi global. (Foto: AFP/JAVED TANVEER)


Sejak Taliban mengklaim berkuasa lagi di Afghanistan, dunia khawatir negara di Asia Selatan itu akan kembali menjadi sarang terorisme.
Sebab, Taliban memiliki riwayat kedekatan dengan Al-Qaeda, pelaku teror 11 September di Amerika Serikat.

Sejumlah analis juga menganggap keberhasilan Taliban menggulingkan pemerintah Afghanistan pada 15 Agustus lalu menginspirasi dan membangkitkan sel-sel kelompok militan dan ekstremis di negara itu, bahkan Asia.

Taliban sendiri menegaskan bahwa mereka tidak terkait dengan aktivitas terorisme apa pun dan sudah memutus hubungan dengan Al-Qaeda.


Sejak berkuasa, rezim Taliban justru menghadapi ancaman keamanan dari sejumlah kelompok militan yang menentang pemerintahan mereka di Afghanistan. Salah satunya kelompok ISIS-Khorasan (ISIS-K), yang merupakan cabang ISIS di Afghanistan.

Berikut perbedaan Taliban, ISIS, dan Al-Qaeda.

Al-Qaeda
Al Qaeda merupakan kelompok teroris beraliran Suni yang dibentuk pada 1988 oleh Osama bin Laden, Abdullah Azzam, dan beberapa anggota mujahidin Afghanistan yang ikut berperang melawan pendudukan Uni Soviet.

Saat Soviet bersiap untuk mundur, Osama Bin Laden dan beberapa rekan dekatnya memutuskan memanfaatkan jaringan yang telah mereka bangun untuk menyebarkan ideologi "jihad" global melawan pengaruh asing dan sekular di negara-negara Islam yang dianggap sebagai bentuk penyimpangan.

Al-Qaeda meyakini bahwa kaum Kristen dan Yahudi yang dipimpin Amerika Serikat berkonspirasi untuk berperang melawan dan menghancurkan Islam. Kelompok itu meyakini membunuh atau menghancurkan orang-orang yang tidak sesuai ajaran Islam adalah bentuk jihad.

Semua yang tidak sesuai dengan hukum Islam dianggap Al-Qaeda sebagai kafir dan pantas dimusnahkan. Kelompok itu bahkan menganggap pandangan Muslim liberal, aliran Syiah, Sufi, dan lainnya dalam Islam sebagai perbuatan yang dilakukan tetap tidak sesuai contoh yang ditetapkan syariat Islam (bidah).

Tentara Irak saat mengalahkan ISIS. (Foto: AFP PHOTO / AHMAD AL-RUBAYE)

ISIS
ISIS dibentuk pada 1999 lalu oleh Abu Musab al-Zarqawi dan merupakan salah satu kelompok militan yang berjanji setia pada Al-Qaeda. Kelompok itu membantu Al-Qaeda melakukan pemberontakan terhadap invasi Amerika Serikat di Irak pada 2003 lalu.
Sekitar 2004 lalu, ISIS mendeklarasikan tujuan utama mereka yakni pembentukan negara Islam Suni.

Pada 2014, ISIS mengdeklarasikan kekhalifahan di Irak dan Suriah. Sebagai negara khalifah, ISIS mengklaim berkuasa atas kebijakan agama, ppolitik, dan militer atas semua umat Muslim di dunia.

Sejak itu, mereka dengan cepat menguasai sebagian besar Irak dan Suriah. Kelompok teror pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi ini bahkan dengan cepat memiliki simpatisan dan kelompok afiliasi yang berbaiat pada mereka di luar Irak dan Suriah.

Di tahun yang sama, ISIS menerbitkan dokumen yang mengklaim menjadi bukti bahwa Al Baghdadi merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad.

Sebagai khalifah, Al-Baghdadi menuntut semua umat Muslim di dunia hidup sesuai dengan hukum Islam sebagaimana interpretasi mereka.

Dengan pandangan yang sangat konservatif, ISIS memiliki ambisi menghancurkan mereka yang tidak sesuai dengan prinsip dan memastikan kesetiaan mutlak terhadap hukum Islam dengan cara menebar ketakutan dan intimidasi.

Sejak itu, ISIS meluncurkan berbagai serangan teror di banyak negara, terutama di negara Barat yang menjadi musuh utama mereka.

Dengan begitu, salah satu kesamaan ISIS dan Al-Qaeda adalah memiliki ambisi global.


Taliban

Berdiri sekitar 1990-an, Taliban memiliki arti "murid" dalam bahasa Pahsto. Kelompok yang didominasi oleh etnis Pashtun itu mulai terbentuk di utara Pakistan usai pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan.

Taliban berawal dari gerakan politik dan agama di Afghanistan. Kelompok itu muncul sebagai salah satu faksi berpengaruh selama perang sipil di Afghanistan terjadi sekitar 1994.

Salah satu tujuan Taliban adalah untuk mengembalikan perdamaian dan keamanan di Afghanistan, termasuk mengusir tentara asing dari negara Asia Selatan itu. Taliban juga ingin menerapkan hukum Islam di Afghanistan.

Berbeda dengan ISIS dan al Qaeda yang memiliki ambisi global, tujuan Taliban adalah untuk menjalankan interpretasi mereka terhadap hukum Islam di Afghanistan dan menghilangkan pengaruh asing.





Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: