Menjadi Media Komunikasi Sejak Zaman Kemerdekaan, Ini Sejarah Radio Tertua #DiIndonesiaAja

Jumat, September 10, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Radio merupakan salah satu jenis teknologi media massa satu arah yang memiliki peran untuk menyampaikan berita atau informasi kepada masyarakat dalam jangkauan luas. Ya, selain untuk memberikan informasi dan berita terkini, radio juga menjadi salah satu sejarah untuk Indonesia. Tanggal 11 September 1945 merupakan titik awal radio di Indonesia didirikan, yang hingga saat ini juga diperingati sebagai Hari Radio Nasional.

Pada tahun 1945 sendiri, para pemimpin radio sepakat untuk mendirikan radio siaran yang bernama Radio Republik Indonesia (RRI) dengan memiliki delapan stasiun radio siaran yang terdapat di delapan kota di Jawa (bekas Hoso Kyoku). Radio memang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa kemerdekaan bahkan sampai dengan saat ini radio masih menjadi salah satu teknologi yang paling cepat untuk meyampaikan informasi dan berita. Nah, beragam sejarah mengenai asal usul berdirinya radio di Indonesia, bisa Anda jadikan wish list sebagai referensi wisata sejarah yang dapat dikunjungi saat keadaan telah membaik nanti. Jika Anda mau tahu radio lokal tertua apa saja yang sejak dulu sudah aktif #DiIndonesiaAja? Ini dia ulasannya.

1. RRI, Jakarta

 

 Foto : dok pusdatin.rri.co.id

Sejarah awal Radio Republik Indonesia diawali pada 11 September 1945 oleh para tokoh yang aktif mengoperasikan stasiun radio di enam kota di Jepang. Para tokoh ini mengadakan rapat yang berlokasi di rumah Adang Kadarusman, Jalan Menteng Dalam, DKI Jakarta. Pada saat itu menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik Indonesia dengan memilih dr. Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama.

 

Foto: Dok RRI.co.id

Kemudian pada Februari 1946, RRI di bawah Departemen Penerangan menjadi fasilitas bagi Pemerintah yang baru berdiri pada saat Revolusi Nasional Indonesia. Selanjutnya, masuk pada masa orde baru, stasiun-stasiun radio swasta mulai berjamuran dan pada saat itu pula secara langsung mengakhiri monopoli siaran RRI. Meski demikian, semua berita yang disiarkan oleh RRI menjadi program yang wajib direlai oleh stasiun-stasiun tersebut. Kini, RRI memiliki kurang lebih 90 stasiun penyiaran nasional dan stasiun penyiaran khusus yang ditujukan ke luar negeri.

RRI memiliki peran awal untuk menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Saat ini, RRI masih mengudara dan tetap hadir untuk memberikan informasi berita kepada masyarakat. Tak hanya itu saja, sebagai saksi sejarah, di lantai dasar Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) dibuat museum sebagai tempat menyimpan dan memelihara dokumentasi Kemerdekaan Indonesia. Bagi Anda yang ingin melihatnya secara langsung, bisa datang ke Galeri Tri Prasetya RRI yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat nomor 4/5 Jakarta. Tak hanya itu saja, asyiknya lagi disana Anda juga bisa menikmati sejarah sambil minum kopi yang ada di dalam museum yang bernama Radio Kopi. Disana Anda bisa mencicipi berbagai olahan kopi nusantara yang nikmat, lho! Namun jika ingin menikmati kopi ini tanpa keluar rumah, Anda bisa memesannya secara online melalui aplikasi pesan antar, ya!

2. Radio Malabar, Bandung

 

 Foto: Dok Instagram @ _indonesiaheritage

Bandung menjadi salah satu daerah yang menjadi saksi sejarah Kemerdekaan Indonesia. Keindahan pariwisata dan budaya di Bandung juga menjadi perhatian dunia sejak lama. Tidak terkecuali keindahan alam yang berada di beberapa wilayahnya, seperti di Kawasan Pegunungan Malabar yang merupakan sebuah gunung api berlokasi di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Nama Malabar tidak lepas dari sejarah radio tertua di Bandung yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock pada 5 Mei 1923. Meski pada awal peresmian ada kendala cuaca yang membuat acara sempat terancam diundur. Namun, peresmian tetap dilakukan dengan cara mengirim pesan telegraf radio kepada Ratu Belanda dan Menteri Urusan Koloni, tetapi tidak ada jawaban dari stasiun radio di Belanda tersebut. Hingga pada 6 Mei 1923 malam pemancar kembali berfungsi dengan baik dan pesan kembali dikirimkan dari Kantor Berita Aneta di Belanda.

 

Foto: Dok Sindonews

Sejak saat itu, untuk mengenang peristiwa telekomunikasi tersebut, didirikanlah dua patung laki-laki yang tengah mengapit tiga perempat bola dunia. Bila ditelisik lebih saksama, kedua patung pria dalam monumen tersebut terlihat tengah berkomunikasi, salah satunya dibuat berteriak dengan tangan di mulutnya. Sementara patung yang satunya lagi menaruh tangan kanannya di telinga seolah sedang mendengarkan sebuah pesan.

Kini, Gedung Stasiun Radio Malabar tinggal kenangan, sebab setelah Jepang hengkang dari Indonesia, para pejuang republik di Bandung Selatan menghancurkan gedung Stasiun Radio Malabar. Stasiun radio tersebut hancur bersamaan dengan peristiwa Bandung Lautan Api dan kini bekas lokasinya didirikan sebuah rumah ibadah bernama Masjid Istiqomah.

Sebagai saksi sejarah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menjadikan situs Radio Malabar sebagai objek wisata edukasi. Pada Maret tahun lalu sudah ada kegiatan Festival Gunung Puntang yang diadakan di Kawasan ini.

Di sana para wisatawan diberikan pengalaman seperti, live folk music performance, hammock party, hingga pameran produk lokal dan perlombaan. Selain itu, wisatawan juga dapat menyaksikan history call dari Radio Malabar ke Radio Kootwijk Belanda. Seru bukan!

3. Radio Retjo Buntung, Yogyakarta

 

 Foto: wikipedia

Yogyakarta merupakan salah satu daerah pariwisata yang banyak diminati oleh banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Nah, siapa sangka jika Yogyakarta pun memiliki radio tertua bernama Radio Retjo Buntung yang pertama kali mengudara pada 9 Maret 1967 di Yogyakarta.

Awalnya, radio ini merupakan radio komunitas yang mengudara pada frekuensi AM. Setelah bertahun-tahun siaran, kemudian pada 2004 Radio Retjo Buntung Yogyakarta beralih ke frekuensi FM 100.55 Mhz. Untuk menyesuaikan dengan Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM.15 Tahun 2003 tentang Rencana Induk Frekuensi Radio Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus untuk keperluan Radio Siaran FM (Frequency Modulation), Radio Retjo Buntung kemudian beralih pada frekuensi FM 99,4 Mhz yang hingga saat ini bisa didengarkan hingga 24 jam nonstop.

Radio ini bisa dikatakan sebagai radio tertua di Yogyakarta, karena sudah mengudara hampir 40 tahun. Informasi yang disajikan dikemas dengan sangat khas guna memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat di Yogyakarta.

Nah, jika Anda penasaran dengan radio tertua di Yogyakarta ini, Anda bisa datang langsung untuk berwisata, lho! Tak hanya itu saja, serunya lagi, kawasan ini juga dekat dengan berbagai tempat kuliner salah satunya Bakso Bethesda Yogyakarta yang legendaris. Tapi, jika Anda ingin menikmati kuliner legendaris ini #DiRumahAja, Anda juga bisa memesannya secara online melalui aplikasi pesan antar, ya!

Radio hingga kini memang merupakan salah satu media yang bisa menyampaikan berbagai informasi penting dengan cepat dan aktual. Seperti yang yang dikatakan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, jika subsektor radio dan musik adalah bagian dari 17 subsektor ekonomi kreatif.

Radio disebutnya sebagai platform industri yang tahan banting dalam menghadapi tantangan dari masa ke masa. Mulai dari melewati masa era televisi, kemudian internet, hingga era digitalisasi. Di tengah pandemi ini, radio diharapkan menjadi media yang mampu membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan tetap memberikan informasi yang akurat bagi masyarakat.

 “Radio terbukti selalu menjadi media yang mampu beradaptasi dengan situasi krisis. Sepanjang sejarah, pada saat terjadi perang, bencana alam besar, dan keadaan darurat kesehatan, radio telah memainkan peran utama. Saya mengajak semua pihak untuk tetap saling tebar semangat optimisme serta menjalankan prinsip gotong royong. Salah satu solusi dari Pemerintah Pusat untuk dapat mengangkat kembali ekonomi kreatif,” ujarnya.

4. Radio Yasmara, Surabaya

 

Foto: Dok imaazzahra.blogspot.com

Radio Yasmara merupakan salah satu radio tertua di Surabaya yang berdiri sejak 1967. Radio ini mengudara dengan gelombang AM frekuensi 1152 KHz yang kini menjadi tolak ukur kumandang azan di surau-surau dan masjid-masjid se-Jawa Timur.

Jaringan siaran Radio Yasmara mampu menjangkau wilayah Banyuwangi dan sekitarnya. Saat ini, Yasmara menjadi satu-satunya radio swasta yang masih eksis sampai sekarang dibanding radio-radio serupa pada zamannya.

Uniknya lagi, Radio Yasmara berlokasi di satu komplek yang sama dengan Masjid Agung Rahmat yang juga merupakan masjid tertua di Surabaya, karena faktor ini juga, Radio Yasmara dijuluki sebagai radio komunitas dakwah pertama di Surabaya.

Kini, Masjid Rahmat menjadi salah satu destinasi wisata religi di Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat atau yang disebut juga dengan Sunan Ampel. Tujuan utama beliau mendirikan masjid ini tidak lain untuk mempermudah proses dakwah. Tak hanya itu saja, saat sebelum pandemi masjid ini juga mempermudah masyarakat sekitar Kembang Kuning untuk berkumpul dalam melakukan kegiatan keagamaan. Sebab itulah, Masjid Rahmat memiliki peran yang cukup penting dalam sejarah perkembangan Islam di Surabaya.

Sambil jalan-jalan ke Surabaya, Anda juga bisa menikmati wisata kuliner yang ada disana seperti, nasi kresengan, rawon, nasi pecel, dan masih banyak pilihan menu kuliner lokal yang bisa Anda beli, baik secara langsung atau pun online.

Nah, itu dia beberapa nama radio tertua yang juga menjadi saksi sejarah perjalanan Bangsa Indonesia. Pada masa pandemi seperti saat ini milsanya, para pelaku industr kreatif di bidang penyiaran radio terus berusaha beradaptasi dengan situasi krisis. Tidak hanya itu saja, dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif khususnya, radio juga menjadi wadah untuk mempromosikan wisata yang ada #DiIndonesiaAja, #BeliKreatifLokal produk-produk UMKM, hingga kampanye untuk mengimplementasikan simbol #InDOnesiaCARE.



Sumber : okezone.com

0 comments: