Pengamat: Aksi akuisisi di bisnis menara telekomunikasi masih bisa berlanjut

Selasa, September 07, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Persaingan  di bisnis menara telekomunikasi masih panas. Kabar terbaru, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) berencana mengambil alih sekurang-kurangnya 90% dari modal ditempatkan dan disetor PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). 

 

“Para Penjual dan Pembeli telah menandatangani Sale and Purchase Agreement (Perjanjian Jual Beli atau “PJB”) pada tanggal 4 September 2021. Penyelesaian dari Rencana Pengambilalihan Saham ini masih bergantung pada pemenuhan persyaratan kewajiban oleh para pihak yang sebagaimana diatur dalam PJB,” tulis manajemen TOWR dalam keterangan tertanggal 6 September yang dimuat di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI). 

 

Founder IndoTelko Forum, Doni Ismanto Darwin mengatakan, persaingan bisnis menara telekomunikasi akan menjadi semakin kompetitif oleh karena jumlah pemain besar yang sedikit namun berkualitas.  

 

“Dengan ada akuisisi SUPR oleh TOWR, maka pemain besar itu tinggal TOWR, TBIG (PT Tower Bersama Infrastructure Tbk), dan Mitratel (PT Dayamitra Telekomunikasi, anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk ),” kata Doni.

 

Dalam catatan Kontan.co.id, TOWR memiliki 21.575 menara per 30 Juni 2021 lalu, sedangkan TBIG memiliki 37.232 penyewaan dan 19.709 sites telekomunikasi. Sementara itu, mengutip materi paparan publik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Kinerja 1H21, Mitratel tercatat memiliki sekitar 23 ribu tower per Juni 2021. 

 

Menurut perkiraan Doni, aksi akuisisi masih akan terjadi di sisa tahun berjalan maupun periode-periode berikutnya. Target akuisisinya kemungkinan bakal menyasar operator telekomunikasi yang ingin melepas kepemilikan aset menara ataupun akuisisi perusahaan terhadap pemain-pemain kecil.  

 

Faktor pendorong di balik aksi akuisisi ini menurut Doni ialah meningkatnya kebutuhan layanan operator telekomunikasi seiring percepatan pergeseran pola komunikasi dari offline ke online akibat pandemi Covid-19.

Pada jangka yang lebih panjang, pemain-pemain asing baru di bisnis menara dalam negeri juga berpotensi muncul. Hal ini dikarenakan sektor telekomunikasi telah dihapuskan dari Daftar Negatif Investasi seiring terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang dikeluarkan pada 2 Februari 2021  lalu.

Hanya saja, Doni memperkirakan bahwa hal tersebut belum akan terjadi pada tahun ini. “Tapi kalau tahun ini rasanya belum, karena 5G kan belum deploy massif. Operator belum dapat frekuensi yang ideal untuk 5G,” terang Doni.

 

Sumber : kontan.co.id

0 comments: