Taliban Datang, Afghanistan Hambar Tanpa Budaya Pop

Rabu, September 01, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Foto wajah wanita di sebuah salon di Kota Kabul dicorat-coret karena dianggap melanggar syariat islam. (AFP/WAKIL KOHSAR)


Afghanistan seketika hening. Tak lagi terdengar gegap gempita musik pop, tak ada orang lalu lalang dengan warna-warni pakaian yang beragam model dan suara-suara di kota yang nyaring serta penuh harap.
Kota-kota di Afghanistan kini benar-benar hambar sejak Taliban datang.

Gambar-gambar perempuan di salon telah dipilok. Jeans dan kaus berganti pakaian tradisional. Radio hanya mengalunkan musik patriotik yang suram.

Suasana mencekam itu bahkan sudah terasa sebelum pasukan terakhir Amerika Serikat angakt kaki dari Kabul pada Senin (30/8) malam waktu setempat.


Kini, Afghanistan sepenuhnya dikuasai Taliban. Selasa (31/8) pagi mereka mendeklarasikan kemerdekaan negaranya setelah mengalami 20 tahun invansi AS.

Beberapa wilayah memang diperintahkan agar stasiun radio memutar lagu bernuansa sesuai hukum syariat.

Namun, di wilayah lain orang-orang lebih dahulu menyelamatkan diri dengan memutar lagu keagamaan, bahkan sebelum mendapat ultimatum resmi dari Taliban.

"Bukannya Taliban memerintah kami untuk mengubah apapun. Kami telah mengubah program untuk saat ini karena kami tidak ingin Taliban memaksa kami menutup (radio)," kata produser stasiun radio swasta di kota Ghazni, Khalid Sediqqi, dikutip Reuters, Selasa (31/8).

"Tidak ada seorang pun di negara ini yang tertarik dengan hiburan, kita semua dalam keadaan syok," Khalid melanjutkan.

Ia bahkan tak yakin apabila masih ada orang yang mendengarkan radio usai Taliban menduduki Afghanistan.

Di kota Mazar-i-Sharif, toko-toko dan restoran telah memutuskan dan mematikan radio mereka.

"Tidak ada peringatan tentang musik, tetapi orang-orang sendiri telah berhenti," kata salah satu mantan aktivis di kota itu.

Perubahan itu juga terlihat di salah satu kota terbesar di Afghanistan, Jalalabad.

"Tidak ada musik di seluruh kota Jalalabad. Orang-orang ketakutan dan ketakutan karena Taliban memukuli orang," ujar mantan pejabat Provinsi Nangarhar, Naseem.

Saat memimpin Afghanistan pada tahun 1996-2001, salah satu aturan yang diterapkan Taliban adalah dilarang menonton, mendengarkan atau menyiarkan musik non-keagamaan. Saat itu, kebebasan perempuan juga betul-betul kekang.


Taliban sejauh ini berusaha keras menunjukkan wajah yang lebih damai kepada dunia. Tak ada hukuman publik yang keras dan larangan langsung terhadap hiburan yang menjadi ciri khas pemerintahannya.
Kegiatan budaya diperbolehkan, kata mereka, selama tidak bertentangan dengan hukum syariat dan budaya Islam Afghanistan.

Beberapa wilayah telah diinstruksikan agar memutar musik yang sejalan dengan hukum syariat.

Jurnalis lokal di provinsi Laghman, Zarifullah Sahel, mengatakan kepala komisi budaya lokal Taliban meminta radio pemerintah dan enam stasiun swasta lain untuk menyesuaikan program yang berbasis hukum Islam.

Sejak itu program musik dan politik, budaya, dan berita yang tidak berhubungan dengan isu-isu agama kering kerontang.

Pesan era freewheeling di Afghanistan telah berakhir. Meskipun belum ada perintah resmi dari pusat, memang lebih aman menjadi warga biasa yang mengikuti aturan.

"Saya khawatir Taliban mungkin menargetkan saya jika terlihat mengenakan jeans atau kemeja barat atau jas," kata Mustafa Ali Rahman, mantan pejabat pajak di provinsi Lagman.

"Seseorang tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk menghukum kita," lanjutnya.

Selama 20 tahun budaya populer tumbuh subur di Kabul dan kota-kota lain. Binaraga, minuman energi, potongan gaya rambut yang mewah, dan lagu-lagu pop yang merdu menjadi hal yang dekat dengan masyarakat.

Sinetron Turki dan acara pencarian bakat televisi seperti 'Afghan Star' menjadi tontonan yang paling diminati.

Salah satu senior Taliban menginginkan perubahan karena selama dua dekade ini masyarakat terpengaruh budaya asing.

"Budaya kami telah menjadi racun, kami melihat pengaruh Rusia dan Amerika di mana-mana bahkan dalam makanan yang kami makan," kata seorang komandan Taliban.

"Itu adalah sesuatu yang harus disadari orang dan membuat perubahan yang diperlukan. Ini akan memakan waktu tetapi itu akan terjadi."


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: