Keunikan dan Khas dari Papua Mulai Tradisi, Budaya, hingga Bahasa

Rabu, Oktober 06, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Warga Papua menggunakan Noken (Foto: istimewa)


 Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 saat ini sedang berlangsung di Papua. Pesta olahraga terbesar di Tanah Air ini sempat tertunda lantaran merebaknya wabah virus corona sehingga baru terlaksana pada Oktober 2021.

Banyak hal menarik dan unik yang menjadi khas dari warga di ujung timur Indonesia itu sehingga menjadi daya tarik yang tidak dimiliki oleh daerah lain di antaranya Noken Papua, tradisi, lagu daerah, hingga bahasa daerah Papua.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa hal yang menjadi daya tarik Papua: 

Noken

Merupakan bagian dari budaya Papua, Noken adalah aksesoris berupa tas rajut yang dibuat dari bahan-bahan alami yang ditemukan di hutan, seperti akar tanaman anggrek, beberapa jenis dedaunan, kulit kayu, bahkan ilalang.

Bahan-bahan ini kemudian dianyam menjadi tas dengan jemari cekatan para mama-mama di Papua. Tas ini menyimbolkan kehidupan yang baik dan kemakmuran. Dahulu, pemakai tas ini tidak boleh sembarangan sehingga hanya orang ternama, yang memiliki kuasa, dan pihak berada yang dapat mengenakan tas ini.

Setiap suku pun memiliki pola tersendiri untuk noken yang dibuat. Pada 2021 lalu, UNESCO menetapkan noken sebagai salah satu warisan budaya tak benda karena keunikan dan warnanya yang meriah, tas ini tidak jarang menjadi buruan para wisatawan yang mengunjungi Papua.

Patung Asmat dan Karwar

Sebelum agama Kristen masuk ke Papua pada 1855, sebagian besar suku yang menetap di tanah Papua memuja bayang-bayang arwah leluhur mereka, atau biasa disebut nin. Kepercayaan suku-suku ini menyebutkan bahwa manusia terdiri atas tiga unsur, yakni jasmani (baken saprop), arwah (rur), dan bayang bayang arwah (nin).

Agar tidak bergentayangan dan membahayakan penduduk, bayang-bayang arwah ini dibuatkan sebuah wadah berupa patung untuk tempat nin bersemayam. Setiap suku memiliki ciri khas sendiri dalam pembuatan patung-patung ini. Salah satunya adalah suku asmat, yang menamai patung tempat bersemayam nin dengan sebutan Bisj.

Ciri khas yang dimiliki patung ini adalah tiang berbentuk dua orang bersusun, atau lebih. Patung-patung ini dipercaya sebagai pelindung suku Asmat dari ancaman musuh, dan membantu pemburu mendapat hasil buruan.

Sementara itu, suku Biak yang ada di Kabupaten Biak-Numfor, mengenal patung kayu Karwar. Ciri khasnya adalah patung berbentuk manusia berkepala besar sedang duduk dengan kaki dilipat seperti orang sedang jongkok ini, bagian telapak tangan, dan telapak kakinya dilipat ke dalam.

Kemudian masing-masing unsur dalam pembuatan patung Karwar ini memiliki arti, seperti kaki dan tangan yang terlipat ke dalam untuk mencegah nin yang bersemayam di dalam patung agar tidak menyeret keluarga yang masih hidup ke alam arwah. Hingga saat ini, patung-patung nenek moyang ini adalah bagian dari adat Papua dan menjadi buah tangan khas Papua dengan hargan bervariasi, mulai dari Rp 250 ribu, hingga jutaan rupiah.

Bahasa

Indonesia memiliki beragam jenis budaya dan bahasa yang tersebar di setiap jengkal wilayahnya. Tidak terkecuali Papua, yang diketahui memiliki total hingga 270 macam bahasa daerah Papua. Bahasa yang biasa digunakan masyarakat Papua saat ini adalah bahasa Melayu Papua.

Yang unik adalah, bahasa ini seringkali menggunakan penggabungan dua kata yang disingkat. Contohnya adalah penyingkatan kata saya menjadi sa, kamu menjadi ko, dan pergi menjadi pi.

Kebiasaan masyarakat Papua untuk menamai lokasi atau suatu tempat dengan nama yang sesuai dengan apa yang dilihat atau dirasakan juga menjadi hal unik lain tentang bahasa ini.

Tradisi Injak Piring

Beberapa suku di Papua memiliki tradisi unik yang mungkin belum banyak diketahui. Salah satunya adalah tradisi Mansorandak yang dilakukan oleh Suku Biak di Teluk Doreri, Manokwari, Papua Barat. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut kembalinya seseorang dari tanah perantauan, atau untuk menyambut tamu negara yang berkunjung ke Manokwari sebagai bagian dari rasa syukur dan ucapan selamat datang bagi sang tamu.

Diawali dengan mandi kembang di atas piring adat, masuk ruangan dan mengelilingi piring-piring adat, dilanjutkan dengan menginjak replika buaya dan diakhiri dengan makan bersama, rangkaian acara yang dilakukan dalam mansorandak memiliki filosofinya sendiri.

Harga Barang

Faktor jarak yang cukup jauh, dan tingginya biaya transport logistik mengakibatkan harga barang pokok dan sambako di Papua tergolong mahal dibandingkan wilayah Indonesia lainnya.

Untuk dapat menjangkau daerah-daerah terpencil di Papua, dibutuhkan pesawat lokal yang dapat mengangkut barang kebutuhan masyarakat. Sebagai contoh, harga sebotol Aqua berukuran sedang yang biasa dijual di warung di Kabupaten Puncak Jaya, Papua, dapat mencapai Rp20 ribu, sedangkan untuk gula berukuran 500 gram, harganya dipatok hingga Rp30 ribu.


Hal ini tentu beragam di setiap wilayah. Daerah yang lebih dekat ke pusat kota biasanya lebih murah harga bahan pokoknya dibanding dengan daerah terpencil seperti Kabupaten Puncak Jaya.

Harga gula di Pasar Yoteva Abepura Jayapura berkisar Rp16 ribu per kg, beda yang cukup jauh dibandingkan dengan harga di daerah terpencil Papua.


Sumber : okezone.com

0 comments: