Meriah! 4 Tradisi Unik Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Pulau Jawa

Kamis, Oktober 21, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Kirab Ampyang Maulid di Desa Loram, Jati, Kudus, Jawa Tengah (Antara/Yusuf Nugroho)



MERAYAKAN hari lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi tiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Indonesia, terutama Pulau Jawa. Tiap daerah beda tradisi perayaannya.

Islam masuk dan menyatu dengan budaya masyarakat setempat sehingga melahirkan berbagai tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi.

Selain tradisi, momen perayaan Maulid Nabi yang begitu meriah juga menjadi daya tarik pariwisata.

Berikut ini MNC Portal Indonesia sajikan ulasan mengenai tradisi unik merayakan Maulid Nabi di Pulau Jawa!

Grebeg Maulud atau Sekaten (Yogyakarta- Solo)

Tradisi unik pertama yang ada di Pulau Jawa dan sudah sangat terkenal hingga berbagai penjuru wilayah tanah air tentu saja adalah prosesi Grebeg Maulud atau yang disebut juga Sekaten.

Prosesi ini dilaksanakan selama seminggu penuh yaitu sejak 5 Rabiul Awal, ditandai dengan berbagai kegiatan seperti permainan gamelan di Masjid Keraton diikuti dengan rangkaian ceramah hingga pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad.

Ilustrasi

Puncaknya adalah diadakannya Grebeg Maulud yakni para pemuka kraton berjalan beriringan diikuti gunungan berupa makanan untuk dibagikan kepada masyarakat. Kegiatan ini juga kini diiringi dengan adanya pasar malam yang diadakan di alun-alun keraton, menjadikan Sekaten benar-benar sebuah hajatan rakyat.

Kirab Ampyang (Kudus)

Sedikit bergeser dari wilayah Jogja dan Solo, warga Kudus juga memiliki tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi yang juga sudah cukup populer di kalangan masyarakat umum yakni Kirab Ampyang.

Serupa tapi tak sama dengan Grebeg Maulud, Kirab Ampyang adalah prosesi pengarakan makanan yang diarak keliling dari Desa Loram Kulon menuju Masjid Wali At Taqwa, Kudus lantas dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk ‘ngalap berkah’.

Yang berbeda adalah prosesi Kirab Ampyang diiringi juga oleh pameran kesenian, dimana para peserta bisanya menampilkan visualisasi dari tokoh-tokoh agama dan sejarah di Kota Kudus.

Ngalungsur Pusaka

Bagi masyarakat Sunda dan sebagian Betawi, momentum Maulid Nabi dirayakan dengan cara membersihkan benda-benda pusaka (ngalungsur pusaka) peninggalan Sunan Rohmat Suci, sosok yang dikenal juga dengan nama Raden Kian Santang.

Upacara ritual tersebut biasanya dilakukan oleh warga di Kabupaten Garut, Jawa Barat hingga Banten. Benda pusaka tersebut dibersihkan dan dicuci dengan air berbunga dan digosok dengan minyak wangi agar tidak berkarat.

Selain sebagai upaya menghormati warisan tokoh agama Islam terkemuka di tanah Sunda, prosesi tersebut juga sebagai upaya untuk melestarikan dan mensosialisasikan keberadaan benda-benda peninggalan Sunan Rohmat Suci.

Ilustrasi

Panjang Jimat

Selain Sekaten, Panjang Jimat menjadi salah satu tradisi unik masyarakat di Pulau Jawa dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang paling terkenal. Bagaimana tidak, banyak dari wisatawan yang berbondong-bondong datang ke Keraton Cirebon hanya untuk menyaksikan prosesinya.

Panjang Jimat merupakan puncak acara peringatan Maulid Nabi di Cirebon. Prosesi upacara nya digelar pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB, yang ditandai dengan 9 kali bunyi lonceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang depan keraton.

Suara lonceng tersebut merupakan tanda dibukanya upacara panjang jimat.

Prosesi Panjang Jimat sendiri berisikan arak-arakan kirab yang membawa berbagai benda pusaka milik keraton dari Bangsal Prabayaksa menuju Masjid Agung Kanoman, Cirebon.

Prosesi itu dipimpin langsung oleh Pangeran Patih Keraton Kanoman dan telah menjadi parade budaya tersendiri.


Sumber : okezone.com

0 comments: