Orang Mati Terasa Hidup, Yang Hidup Merasa Mati

Jumat, Oktober 01, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Banyak Caleg Stres, Ternyata Mencuci Piring Efektif Menurunkan Stres -  Semua Halaman - Nakita

Samar-samar aku melihat serba putih. “Apakah aku sudah di surga?” batinku bertanya. Yang aku ingat terakhir musuh menodongkan pistol ke kapalaku.

“Danton, Danton, Danton!!!,” aku mendengar suara yang memanggilku.


“Danton sudah siuman, panggilkan dokter!,” orang itu berteriak dan aku masih berusaha mengingatnya, tapi rasa pusing dan rasa sakit di sekujur badanku membuat aku tidak berdaya. Aku memejamkan mata kembali untuk lebih tenang.

Aku merasakan seseorang memeriksaku, akhirnya aku sadari ternyata aku terbaring di rumah sakit. Ternyata aku belum tiba di Surga.


Aku baru bisa mengingat ternyata yang tadi berteriak adalah salah seorang anggotaku. Namanya Sulis, pangkatnya Prajurit Satu. Selama ini dia yang selalu menyiapkan segala sesuatu kebutuhanku. Dia adalah ajudanku.

“Saya dimana, Lis?” tanyaku.


“Danton sedang dirawat di rumah sakit,” jawabnya.

Aku berusaha untuk bangkit.


“Danton berbaring aja dulu, karena masih lemah,” Sulis menjelaskan kondisiku.


“Emangnya saya sakit apa?,” tanyaku.


“Danton pingsan waktu menyerang musuh,” jelasnya.

Sulis menceritakan bahwa setelah aku meledakkan mulut goa, Baton memerintahkan anggota untuk menggali goa tersebut. Setelah bisa masuk goa, pasukan yang dipimpin Baton mengikuti jejak kami sampai akhirnya ketika kami terkepung di ladang ganja yang terbakar. Pasukan Baton lah yang membunuh semua musuh termasuk Datuk Darwis yang menodong pistol ke kepalaku.

Aku saat itu pingsan karena terlalu banyak menghirup asap pembakaran ladang ganja yang saat itu sudah terpasang ranjau. Dan langsung dievakuasi ke rumah sakit.


Beberapa pecahan logam isian ranjau itu bersarang di paha kiri dan lengan kiriku. Yang lebih mengkuatirkan terjadi kerusakan beberapa syaraf di otak akibat keracunan asap ganja. Karena itulah aku tidak siuman selama seminggu di rumah sakit.

“Bagaimana anggota yang lain, Lis?,” tanyaku.


“Anggota yang lain sehat semua, Danton, hanya Robert dan Danru Dedi yang masih belum siuman,” Sulis menjelaskan kondisi pasukanku.


“Lukman, bagaimana?,” aku teringat saat menyerang Lukman mengijak ranjau.
Sulis terdiam sambil berkaca-kaca. Aku tahu artinya.


“Rusli, Alam dan Daud selamat kan?,” tanyaku.
 

Sulis menggelengkan kepala.
 

Ya Allah,.. kenapa Engkau panjangkan umurku? Aku sangat menyesal sekali karena empat orang anggotaku gugur. Aku merasa gagal.

“Selamat ya, Di..” seseorang menghampiriku.
 

“Siap, terima kasih Danki, mohon maaf saya kalah.” Aku sadar yang menghampiriku adalah komandanku sendiri.
 

“Kamu menang, setiap perjuangan itu memerlukan pengorbanan.” Danki menghiburku agar aku bisa bangkit kembali.
 

Aku mencoba untuk bangkit dengan mengingat doktrin pertama yang dulu aku terima. “Mati sekarang atau lusa, sama saja, yang pasti kita semua akan mati.”

Setelah seminggu di UGD, akupun melanjutkan perawatan di salah satu kamar rumah sakit. Dalam satu kamar ada dua pasien, aku melihat pasien yang berada di pojok yang saat itu sedang tertidur pulas.
Kondisi tubuhku terasa begitu lemas, aku belum berminat untuk berbasa-basi sehingga akupun ingin beristirahat. Apalagi kakiku belum bisa melangkah, terpaksa berpasrah di tempat tidur.

“Suster, bangkitkan saya, saya mau lihat isteri saya di taman bunga itu,” Pasien sekamarku meminta untuk didudukan menghadap jendela. Suster itupun membantu dengan kesabaran.

“Ada pasien baru ya, Sus?” tanyanya.


“Iya, Kapten” jawab suster. Ternyata pangkat dia Kapten berarti dua tingkat diatas pangkatku.


“Siapa?” tanyanya lagi.


“Siap, Letnan Andi, Kapten” aku langsung menjawab sambil berkenalan.
 

“Kamu sakit apa?” tanyanya.


“Siap, luka tembak dan pecahan granat, Kapten” aku menjelaskan kondisiku.
 

“kok kamu bisa kena granat, ranjau ya?” tanyanya.
 

“Siap, Kapten.” Aku menceritakan kisahku menyerang musuh.

“Kamu hobi main catur?” tanyanya.
 

“Siap, tidak terlalu hobi tetapi tidak mahir.” Jawabku dengan polos.
 

“Perang itu seperti main catur, butuh siasat, terkadang harus ada yang dikorbankan untuk tujuan yang lebih besar. Hanya saja matinya benaran.” Dia memberi pelajaran kepadaku tentang perang.
 

Hari itu aku banyak mendapat pelajaran sampai akhirnya kami terlelap dengan sendirinya.

Keesokan pagi, aku harus menjalani operasi lanjutan untuk mengeluarkan sisa serpihan granat di pahaku.
 

Setelah operasi, aku kembali ke kamar itu dan aku tidak melihat Kapten di pembaringannya.

“Kapten itu kemana, Sus?” Tanyaku kepada suster yang mengantarku ke kamar.
 

“Beliau tadi berpulang.” Jawab suster.
 

“Inalillahi,…” aku mengucap seraya berdoa semoga arwahnya di terima disisi-Nya, ammiin.
 

“Letnan mau pindah ke pojok atau tetap disini? Karena ada pasien baru yang akan masuk kamar ini.” 

Suster menawarkan tempat bekas Kapten yang memang lebih strategis karena ada jendela disebalahnya. Sedangkan tempat tidurku sering terganggu karena dekat dengan lorong ruang perawat.
 

“Iya, Sus, saya pindah saja biar bisa lihat taman bunga dari pada menatap pintu terus” kataku kepada suster. Suster itu hanya tersenyum.

Akupun dipindahkan ke pojok, namun ketika aku melihat ke jendela ternyata tidak ada apa-apa.
 

“Sus, kata Kapten ada taman bunga, kok kosong?” tanyaku kepada Suster.
 

Suster menceritakan ternyata Kapten itu buta, matanya terkena serpihan granat saat menyelamatkan istrinya. Dia adalah Danramil dan saat itu rumahnya diserang sehingga meregut nyawa isteri dan anaknya, sedangkan dia terluka berat dan tidak dapat dikeluarkan semua proyektil di tubuhnya.

Aku baru pahami salah satu kata nasehatnya, “Orang mati terasa hidup dan orang hidup merasa mati”. Orang mati terasa hidup, seperti isterinya. Walau sudah meninggal sang kapten selalu merasa isterinya berada di taman. Semua itu karena kenangan yang indah yang membuat seseorang selalu hadir. Orang hidup merasa mati, ternyata sindiran kepadaku yang merasa gagal dan berputus asa.

“Terima Kasih, Kapten, atas nasehatmu.” Kata hatiku sambil bertekad akan bersemangat kembali.

Cerpen Karangan: Riyandi Mallay


Sumber : cerpenmu

0 comments: