Peringati Hari Batik, Mampukah Warisan Budaya Indonesia Ini Bertahan di Masa Kini?

Jumat, Oktober 08, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Seminar Batik

BATIK adalah Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi milik Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO. Peringatan hari Batik nasional setiap 2 Oktober pun menjadi upaya untuk menjaga dan melestarikan Batik sebagai warisan bersejarahh dari budaya Indonesia yang besar.

Pertanyaannya yang muncul adalah dapatkah batik terus bertahan ditengah industri fashion yang sangat beragam dan menarik? Di sisi lain, negara lain juga turut memproduksi batik, khususnya batik printing yang murah harganya.

Isu tersebut didiskusikan dalam seminar daring berjudul,"Sustainability of Batik as Indonesia’s heritage for the world: Opportunities and Challenges" di Canberra. Seminar International mengenai Batik ini diselenggarakan oleh kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra dalam rangka merayakan hari Batik nasional dan bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA).

Acara yang dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Kristiarto S. Legowo ini menghadirkan pembicara dari kalangan peneliti, akademisi dan praktisi batik, baik dari Australia maupun Indonesia.

Hari Batik

Dalam sambutan pembukaannya Kristiarto mengatakan bahwa batik menjadi bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari budaya dan diplomasi Indonesia, karena batik sudah mendunia dan secara luas dicintai bukan hanya oleh orang Indonesia, tapi juga masyarakat dunia.

Menurutnya, batik memiliki dua fungsi dalam masyarakat Indonesia, yaitu fungsi budaya dan fungsi ekonomi. Keseimbangan diantara kedua fungsi itulah yang akan menjaga keberlanjutan eksistensi Batik sebagai sebuah warisan Indonesia untuk dunia. Agar berkelanjutan, Batik harus menjalankan dua fungsi secara seimbang.

“Sebagai warisan budaya, tentu Batik memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi yang harus dijaga dan dilestarikan. Namun, Batik sebagai sebuah produk ekonomi selama ini telah menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat dan ini terus meningkat dari tahun ketahun," tambah Kristiarto dalam keterangan tertulisnya.

Pembicara dari James Cook University, Maria Wornska Friend, dalam urainnya menjelaskan bahwa Batik Jawa memiliki kontribusi yang sangat besar bagi dunia sejak berabad yang lalu. Pengaruh Batik Jawa menurutnya bukan hanya sampai di wilayah nusantara, tapi juga meliputi India, Afrika, Eropa, bahkan Australia.

Hari Batik

Wanita yang sudah melakuan penelitan tentang Batik Jawa selama lebih dari 30 tahun ini memberikan contoh misalnya motif “Parang Rusak” dari Jawa Tengah telah menginspirasi the “Fan” motive yang diproduksi oleh Vlisco di Belanda. “Sebelum tahun 1913, di Manchester terdapat West-Africa batik yang motif nya terinspirasi dari Batik Jawa, bahkan di India, penyair besar Rabindranath Tagore pada tahun 1929 sudah mengenakan batik Jawa”, urai Maria.

Yan Yan Sunarya, yang dikenal sebagai Doktor Batik dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan bahwa batik sunda juga merupakan suatu kekayaan khas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. “Batik merupakan kumpulan dari kekayaan pengetahuan, keragaman keindahan, dan sekaligus merupakan identitas nasional, untuk menghormati manusia dan pencapaian budayanya,” jelas Yan Yan.

Berdasarkan penelitiannya tentang Batik Sunda, Yan Yan mengatakan bahwa sejak abad ke 16 wilayah Sunda telah familiar dengan produksi Batik. “Meski banyak ahli mengatakan bahwa Batik sunda pada awalnya terpengaruh oleh Batik Jawa, namun dalam perkembangannya Batik Sunda memiliki karakter spesifik yang berbeda seiring dengan perkembangan value dan budaya Sunda yang memiliki perbedaan dengan Jawa," tambahnya

Sementara itu dalam sambutan penutupnya, Mukhamad Najib selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra, mengatakan bahwa acara ini dimaksudkan agar peserta bisa memahami sejarah batik dari ragam perspektif, termasuk dari peneliti internasional yang banyak meneliti batik seperti Maria Wornska dari James Cook University dan Yan Yan Sunarya dari ITB.


Sumber : okezone.com

0 comments: