Rencana IPO Mitratel Akhir November, Bagaimana Prospek Bisnis Menara?

Selasa, Oktober 12, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Valuasi menara telekomunikasi seperti Mitratel berpotensi naik lebih tinggi kalau pemerintah daerah mulai membatasi pembangunan tower atau menara telekomunikasi.

 


Setelah delapan tahun absen, impian pemerintah membawa entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke lantai bursa akhirnya segera terwujud. Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk di sektor bisnis menara, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) dikabarkan akan go public pada akhir November atau awal Desember mendatang.

 

 

 

PT Semen Baturaja Tbk menjadi perusahaan pelat merah terakhir yang menjadi perusahaan terbuka melalui penjualan saham perdananya pada 2013 lalu. Setelah itu, Kementerian BUMN 'cuti panjang' dalam upayanya membawa perusahaan milik negara melantai di pasar modal.


Berdasarkan informasi yang dihimpun Katadata.co.id, proses penawaran awal saham Mitratel kemungkinan dimulai pada November, sementara penawaran umum saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO) direncanakan akhir November atau awal Desember tahun ini.

Sebelumnya, Mitratel akan mengakuisisi sebanyak 10.000 menara telekomunikasi milik Telkomsel. Dengan begitu, aset perusahaan otomatis akan bertambah menjelang IPO.

Dalam laporan Reuters, Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah menyatakan Mitratel menargetkan dana segar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,5 triliun.

 

 

 "Tantangan terbesar bagi kami adalah penggunaan data yang rendah," ujarnya dikutip dari Reuters, 16 September lalu. Dilansir dari Bloomberg pada 16 April lalu, Mitratel memilih HSBC Holdings Plc, JPMorgan Chase & Co, dan Morgan Stanley sebagai penjamin emisi untuk menangani rencana IPO tersebut.

 

 

 

Ada pula dua sekuritas lokal, yaitu Mandiri Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas. Saat dikonfirmasi terkait jadwal IPO Mitratel, Deputi Kepala Divisi Legal, Sekretaris Perusahaan dan Komunikasi PT Mandiri Sekuritas Nadya Safira Siregar tak memberi tanggapan.

 

 

 Kresna Hutabarat, Vice President PT Mandiri Sekuritas juga mengaku tak dapat memberi pernyataan terkait aksi korporasi anak usaha BUMN tersebut, termasuk memaparkan prospek bisnis perusahaan di masa mendatang.

 

 

"Mohon maaf, karena kebijakan perusahaan, saya tidak bisa komentar soal IPO Mitratel saat ini," ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat.


Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menilai IPO Mitratel berpotensi menuai kesuksesan karena memiliki fundamental yang kuat. Hal ini terlihat dari aset dan layanan yang tidak dimiliki oleh perusahaan sejenis. Saat ini, Mitratel memiliki 28 ribu menara telekomunikasi.

 

 

 

 

Menurut Arya, Mitratel juga memiliki strategi pertumbuhan jangka panjang yang mumpuni. Saat ini, perusahaan masuk ke infrastruktur jaringan 5G yang sedang berkembang. Rencananya Mitratel juga akan mengembangkan bisnisnya di Asia Tenggara, bahkan ke Asia Pasifik.

Prospek Bisnis dan Saham Mitratel


Beberapa waktu lalu, Mitratel menambah aset berupa 10.050 unit menara dari anak usaha Telkom lain, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Pengalihan pertama dilakukan pada 14 Oktober 2020 sebanyak 6.050 unit. Kemudian, pada 31 Agustus 2021 sebanyak 4.000 unit. Berdasarkan pengalaman di berbagai negara, valuasi tower ini bisa naik puluhan kali lipat. Beberapa contoh kasus terdekat ialah ketika Singapore Telecommunications Limited (Singtel) melego perusahaan menara miliknya di Negeri Kangguru, Australia Tower Network (ATN).

 

 

 

 

Perusahaan memiliki valuasi mencapai 2,3 miliar dolar Australia, atau mewakili kelipatan transaksi EV/EBITDA pro-forma 2021 sebesar 38x. EV/EBITDA merupakan rasio fundamental saham berupa nilai perusahaan atau enterprise value dibagi dengan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Nilai yang didapat bisa digunakan untuk menentukan bahwa harga saham di atas atau di bawah nilai wajar.


Di Amerika Serikat (AS), valuasi perusahaan tower bisa naik 20 kali lipat. Secara global rata-rata multipel valuasi perusahaan tower adalah 25-35 kali.

 

 

 

Tingginya multipel valuasi ini disebabkan dalam bisnis menara telekomunikasi berlaku skema sale and leaseback. Artinya, menara dibeli, kemudian selain digunakan sendiri juga disewakan kembali, sehingga ada potensi kenaikan.


Di Indonesia, bisnis valuasi menara telekomunikasi memang relatif rendah dibanding negara lain, yakni 16 kali. Pasalnya, menara digunakan secara eksklusif untuk internal. Namun, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja membuka jalan dengan ketentuan yang memungkinkan operator telekomunikasi berbagi infrastruktur dalam penggunaan menara sehingga meningkatkan rasio kolokasi.

 

 

 

 

 

Menurut analisis D-Insights, hal ini membuat perusahaan menara berpotensi meraih pendapatan tambahan dari para operator telekomunikasi tanpa mengeluarkan investasi lebih untuk biaya kolokasi. Hal ini akan membuat valuasi menara telekomunikasi bisa naik lebih tinggi kalau pemerintah daerah mulai membatasi pembangunan menara. Berdasarkan riset Citi pada September 2021 lalu disebutkan, pengalihan sebanyak 4.000 menara telekomunikasi milik Telkomsel ke Mitratel tercatat memiliki nilai aset Rp 6,2 triliun. Ini membuat jumlah menara Mitratel bertambah menjadi 28.000 menara atau setara 30% pangsa pasar, tertinggi di Indonesia.

 

 

 

 

 

Valuasi per menara diterjemahkan menjadi Rp 1,55 miliar, lebih rendah dibanding valuasi transaksi sebelumnya, yakni Rp 1,7 miliar per menara.

 

 

 

 

 

 "Kami melihat bahwa tarif sewa bisa menurun. Ini juga berarti valuasi EV/EBITDA akan lebih tinggi," demikian tertulis dalam hasil riset Citi. Berdasarkan pernyataan terbaru dari perusahaan telekomunikasi dan perusahaan penyedia sewa menara, serta menganalisis transaksi menara baru-baru ini di Indonesia, Citi memperkirakan tarif sewa menara sekitar Rp 11 miliar. "Dengan asumsi tersebut, Citi memperkirakan valuasi menara yang dibayarkan menjadi 13x EV/EBITDA," katanya.


Meski terjadi penurunan tarif sewa, Citi menilai tingkat sewa menara Mitratel akan tinggi, karena sebelumnya hanya digunakan untuk keperluan Telkomsel, sementara ke depan akan dapat digunakan oleh operator lain. "Dari sudut pandang pendapatan, kami melihat transaksi tersebut memiliki dampak netral karena pembayaran sewa kemungkinan akan diimbangi dengan depresiasi dan beban bunga yang lebih rendah," ujarnya.

 

 

 

 

 Dengan pengalihan menara yang kurang dimanfaatkan ke Mitratel, hal ini meningkatkan potensi pertumbuhan kolokasi atau penawaran sewa menara bagi Mitratel dibanding operator menara independen.

 

 

 

 

Dengan dibukanya penyewaan menara Telkomsel, Citi menilai semakin banyak menara yang bersaing memperebutkan kolokasi. Perhatikan bahwa dengan gabungan transfer 10.500 menara dari Telkomsel ke Mitratel, pasokan menara yang dapat dibagikan telah meningkat sebesar 13% dalam satu tahun terakhir.


 

Valuasi menara telekomunikasi seperti Mitratel berpotensi naik lebih tinggi kalau pemerintah daerah mulai membatasi pembangunan tower atau menara telekomunikasi.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Rencana IPO Mitratel Akhir November, Bagaimana Prospek Bisnis Menara?" , https://katadata.co.id/lavinda/finansial/61641996afd9c/rencana-ipo-mitratel-akhir-november-bagaimana-prospek-bisnis-menara
Penulis: Lavinda
Editor: Lavinda

Sumber :katadata.co.id

0 comments: