Sumber Rezeki Bagi Purna PMI di Desa Rasau Jaya III

Rabu, Oktober 06, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


 Agaknya kelompok usaha perempuan Pekerja Migran Indonesia Purna (PMI Purna) Sumber Rezeki di Desa Rasau Jaya III, Kecamatan Rasau, Kubu Raya patut menjadi contoh. Mereka mengembangkan ekonomi lokal dengan mengolah potensi desa berupa pisang serta jagung menjadi produk makanan ringan. Usaha tersebut menjadi sumber pendapatan bagi eks Migran yang pulang ke kampung halaman dari negeri rantau.

 

 

Mungkin butuh waktu sekitar satu jam perjalanan darat untuk datang ke desa Rasau Jaya III dari Kota Pontianak. Sepanjang perjalanan, kita akan menemui sejumlah tanaman yang ditanam di pekarangan rumah warga. Paling banyak, jagung dan pisang. Dua komiditi inilah simbol perekonomian masyarakat, yang nantinya diolah oleh kelompok Purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) Sumber Rezeki menjadi sembilan produk turunan.

 

 

Kunjungan kami disambut hangat oleh Sri Dewi. Ia adalah ketua kelompok Sumber Rezeki yang mengkoordinir enam anggotanya. Di rumah Sri, yang sekaligus dijadikan tempat produksi itu, mereka tengah sibuk memproduksi kripik pisang dan brownis jagung pesanan orang.

 

 

Selain enam orang tadi, ada juga tiga orang lainnya yang turut membantu. Mereka siswa SMK Negeri 1 Rasau Jaya yang sedang menjalani masa magang. Hingga saat ini, setidaknya sudah tiga kali sekolah tersebut mengirim siswanya untuk belajar di kelompok ini.

 

 

“Alhamdulilah, kelompok ini berkembang dan menjadi lahan pendapatan anggota kami” kata Sri, Sabtu kemarin.

 

 

Namun, bila dilihat dari pendapatan kelompok yang mampu mencapai belasan hingga puluhan juta setiap bulannya, agaknya tidak salah bila kita menilai usaha kelompok tersebut mampu berdampak lebih luas. Terlebih, seluruh bahan baku pisang dan jagung tersebut dibeli langsung ke petani.

 

 

Upaya mengembangkan usaha rumahan dengan potensi desa ini dimulai sejak 2017 lalu. Lewat program yang disiapkan oleh BP2MI Pontianak khusus istri dan purnawirawan PMI, kelompok itu mendapat pelatihan selama enam hari.

 

 

Awalnya, kelompok beranggotakan 25 orang. Belakangan, seluruhnya dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan minat setiap anggota. Ada yang berusaha di bidang pertanian, dan produksi rumahan. Sri yang getol dengan program tersebut melirik potensi desanya. Produksi jagung yang melimpah dimanfaatkannya untuk dijadikan dodol jagung, brownis, dan beberapa olahan lainnya.

 

 

“Usai pelatihan, saya dengan anggota kelompok mulai produksi dan menjualnya lewat media sosial,” ungkap Sri.

 

 

Jalan mulus ditemukan Sri. Dengan modal pelatihan yang di dalamnya juga diajarkan soal strategi pemasaran, ia mampu menjangkau banyak pelanggan lewat facebook, whatsapp, dan tatap muka. Orderan selalu diterima. Bahkan, di bulan pertama produksi, kelompok ini mampu berpenghasilan bersih hingga Rp8 juta.

 

 

Seiring waktu berjalan, Sri mulai melebarkan sayap. Tak hanya jagung, ia dan kelompok mencoba mengolah pisang. Di waktu bersamaan, banyak pihak tertarik menjadi reseler makanan ringan tersebut. Bahkan, hingga saat ini setidaknya sudah enam reseler yang menjual makanan ringan tersebut ke berbagai daerah di Kalbar.

 

 

“Alhamdulilah, meskipun ada penurunan waktu PPKM, tapi hari-hari biasa kami biasa berpenghasilan Rp16 juta. Tapi waktu lebaran paling banyak. Lebaran kemarin omset kami sampai Rp60 juta lebih. Kalau Natal relatif lebih rendah dari itu,” kata Sri.

 

 

Dari pendapatan ini dibagi rata dengan berdasarkan persentase. Sebagian penghasilan lainnya, disisihkan untuk kelompok yang akan digunakan untuk dana simpan pinjam kelompok. Sisanya, diinventariskan untuk membeli kebutuhan kelompok. Satu di antaranya adalah mobil untuk mobilisasi orderan.

 

 

“Ini menjadi usaha dan peluang kerja bagi kelompok kami,” ujarnya.

 

 

Sri Untung Pilih Kembali Ke Indonesia

 

 

Satu di antara anggota kelompok Sumber Rezeki ini adalah Sri Untung. 2004 lalu, ia dilema karena desakan ekonomi. Ada mulut yang mesti ia beri makan, sementara di desa tidak ada peluang kerja yang bisa ia upayakan.

 

 

Dengan berat hati, di tahun yang sama Sri ia meninggalkan Desa Rasau Jaya 3, Kecamatan Rasau, Kabupaten Kubu Raya dan menjadi pekerja di Sabah, Malaysia sebagai buruh perusahaan triplek.

 

 

“Sebenarnya suami saya sudah lebih dalu bekerja di Malaysia. Tapi penghasilan yang dikirim memang belum cukup untuk anak dan kelurga saya di rumah,” kata Sri.

 

 

Sri berangkat melalui perantara agen penyalur tenaga kerja. Bekerja sebagai migran, buruh lagi bukanlah yang mudah. Sri harus kuat fisik dan perasaan akibat beban kerja yang diberikan bos. Belum lagi, saat itu ia harus berjauhan dengan anak semata wayangnya.

 

 

“Saya digaji Rp2.500.000 sebulan. Kadang kalau lembur dapat tambahan Rp500 ribu. Biasanya juga dapat oversip sampai 24 jam kerja,” ungkapnya.

 

 

Dari pendapatan ini, Sri harus mampu memanajemennya. Sebagian untuk bertahan hidup, sebagaian ditabung, sebagian lagi dikirim ke Indonesia.

 

 

 

Empat tahun di negeri orang, tepat pada 2007, Sri dan suaminya memilih untuk kembali ke kampung halaman. Pikirnya, mereka harus berusaha di tanah sendiri. Paling tidak dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

 

 

Awal kepulangan, Sri memilih menjadi petani. Sepetak tanah warisan digarapnya menjadi ladang padi. Profesi itu dijalani hingga penhujung 2017. Tawaran program pembinaan dari BP2MI Pontianak menjadi cikal bakal alasan ia untuk berhenti bertani.

 

 

“Awalnya saya di bidang pertanian. Tapi saya tidak begitu tertarik. Lalu saya minta izin untuk membantu memasarkan produk-produk olahan makanan ringan itu,” katanya.

 

 

Sama seperti Sri Dewi, Sri juga memasarkan makanan ringan itu melalui media sosial facebook, dan whatsaap. Dalam sehari, ia bisa menjual lebih dari sepuluh bungkus produk makanan ringan tersebut dengan keuntungan bersih Rp170 ribu.

 

Dari yang hanya memasarkan, Sri juga tertarik ingin ikut produksi dan bergabung dengan kelompok Sumber Rezeki tersebut.

 

 

“Kalau pagi saya bantu produksi, siangnya saya bantu jualan. Alhamdulilah, bulan lalu (September) penghasilan saya hampi Rp3 jutaan,” tutupnya.

 

 

Sementara itu, Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP2MI Pontianak, Andi Kusuma Irfandi mengatakan pendampingan terhadap kelompok Purna PMI Sumber Rezeki ini sudah sejak 2017 lalu dan hingga sekarang masih berjalan.

 

 

Pendampingan bukan hanya memberikan pelatihan, namun kata Andi pihaknya juga memberikan pemahaman bagaimana strategi pemasaran untuk produk-produk yang dihasilkan.

 

 

“Jadi, kami memfasilitasi untuk membentuk kelompok-kelompok ini sesuai minat mereka. Pendampingan terus berjalan hingga sekarang,” jelasnya.

 

 

Menurut Andi, sejak 2015 lalu setidaknya sudah ratusan purna PMI telah didampingi BP2MI Pontianak. Seluruhnya tersebar di berbagai wilayah di Kalbar. Kubu Raya adalah satu di antaranya.

 

 

“Ini sebagai upaya kami untuk menggenjot purna PMI untuk mengembangkan potensi yang ada di sekitar mereka, dan dijadikan sebagai pendapatan ekonomi mereka,” tuturnya.

 

 

Sumber :suarapemredkalbar.com

0 comments: