Tuan Berdasi Said “Terobos Terusss…”

Sabtu, Oktober 02, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Benarkah Lelaki akan Berumur Pendek jika Pernikahannya Tidak Bahagia ? -  Semua Halaman - bangka.sonora.id

Hari yang cerah, ketika orang beramai-ramai menghadiri pesta demokrasi. Ada yang pilih a ada juga yang b. Yang memenuhi syarat semua ikut serta, tapi entah dengan pilihannya tepat atau tidak. Beranjak dari ketertarikan janji manis yang diucapkan oleh kedua kubu. Yeah.. bersemangat dengan orasi-orasi akan kesejahteraan umum. Begitulah polosnya rakyat.

“eh… kenapa lo senyum-senyum sendiri?” ucap Rani sambil menepuk Dina yang sedang berdiri dibawah bendera.


“hehe… aku Pagi tengah memikirkan secuil nasib baiknya Ibu Pertiwi”. Jawab Dina sambil pergi meninggalkan Rani.

Ya, begitulah Dina yang bilang gak suka politik, tapi masih sempet memikirkan nasib negeri ini. Bel masuk berbunyi. Saatnya belajar Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik.

Waktu berganti. Setelah mengetahui ada tugas yang diberikan oleh Dosen Ilmu Politik, Rani dan Dina bergegas pulang dan mencari tahu persoalan yang akan dibahasnya dalam penugasan nanti. Saat menonton berita tiba-tiba…


“oooh, ini isu politik sekarang…” Dina terkejut sambil sedikit ketawa.


“lah kok begitu ya? Kok seenaknya saja memberhentikan pegawai yang jelas secara hukum tidak melanggar peraturan”. Tambah Dina geram.

Keadaan politik saat ini memang dipanaskan dengan berita pemecatan pegawai sebanyak 57 orang karena dinyatakan tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam rangka alih status menjadi ASN diberhentikan per 30 September mendatang. “haduhhh apaan sih, hemmm tapi aku paham itu, oke.” ketus Dina dalam hati.

Keesokan harinya, Dina mulai menyimpulkan apa yang akan dibahas dalam tugasnya tersebut. “aku mengerti sekarang, nasib ibu Pertiwi kini sangat memperihatinkan” Dina mulai berfikir.

Bagaimana tidak janji manis kala itu diucapkan didepan masyarakat. Sakit sudah melekat dalam-dalam, tidak bisa dihilangkan sayang. Tersimpan rapih kok jadi akan terus terbayang dan terngiang-ngiang di jiwa masyarakat, apalagi kondisi seperti ini seakan menagih janji-janjinya adalah suatu yang tepat dan gencar untuk dibicarakan.

“Ran, aku males dengan politik yang sekarang. Banyak hal-hal yang gak masuk di akal terjadi” ucap Dina memulai obrolan diskusi dengan Rani.


“memang kenapa ya? Perasaan politik dari dulu kondisinya memang segitu-gitu aja” balas Rani heran.
“eh kamu ga tau apa, kekuasaan mereka banyak disalahgunakan” ketus Dina


“Lah itu sih udah pasti, gak heran juga banyak yang terbuai dan lalai akan kekuasaan yang mereka punya, sampe-sampe lupa sama rakyat, ups” celetuk Rani membuat pecah suasana kebengongan Dina.
“haha.. emang cerdas banget temen gua yang satu ini. Berarti kacang lupa kulitnya dong hehe” balas Dina dengan girang.


“eh cuma lo mikir gak sih kenapa mereka bisa melakukan hal itu?” sambung Dina.


“mana aku tahu, mungkin sebab kurang iman hehe..” canda Rani


“haha, salah huh. Karena tujuannya bukan untuk rakyat tapi kepentingan sendiri maybe.” Jawab Dina mulai serius mencatat.


“jadi buat bahan penugasan kita apa?” tanya Rani memastikan.


“maaf Ran kayaknya lanjut malem aja deh, soalnya gua disuruh mamah ke warung terus mau bantuin bikin kue” kata Dina menutup obrolan via telphonnya.

Malam pun tiba, setelah solat isya dan makan malam Dina dan Rani memulai diskusi lagi


“terus gimana Din?” tanya Rani coba memahami Dina yang dari tadi berbicara soal huru-hara sosial politik.
 

“oke, kita bakal ambil berita trend saat ini. kita kaitkan antara masalah politik dengan pendekatan prilaku. Prilaku-prilaku para tuan terhomat” jawab Dina memberi sedikit gambaran singkat untuk penugasannya.
 

“iyah boleh banget. Gua tau berita yang itu, yang banyak pegawai dipecat woi” ucap Rani sedikit girang.
 

“nah iya tuh, kira-kira poin masalahnya apa?” ucap Dina dengan frontal.


“sebab, salah kaprah tesnya, ga sesuai katanya. Makanya banyak dari mereka yang tidak lolos hiks” cetus Rani agak kesal.
 

“sutss.. sudah jangan bahas durinya. bahas dagingnya aja oke” ucap Dina bijak, mulai menyelesaikan poin per poin.

Dunia kita memang sedang sakit, akibat virus yang sedemikian rupa menggoncang kemana-mana. Semua paten menjaga satu sama lain. Tapi semua kewalahan juga ya. Ditengah-tengah maraknya penyakit itu, ada saja huru-hara baru menepiskan semangat bangsa untuk bangkit melawan virus tersebut.

“tut..tut..tut..” suara panggilan masuk Rani dari seseorang memecahkan suasana keseriusan Rani dan Dina.
“Halo! gua belum kebagian kelompok nih, suruh Dosennya masuk ke kelompok kalian” suara Anwar, si cowok tengil meminta bergabung dalam penugasan itu.
Pas banget lagi diskusi akhirnya Anwar bisa gabung dan mulai berdiskusi dengan Rani dan Dina.

“btw kok kalian ambil tema ini sih? Gak bagus banget sumpah” langsung mengkritik hasil diskusian yang hampir setengah terancang.


“lo gak suka? Kenapa emang?” sahut Dina agak ketus.


“gua suka, Cuma lo pada terlalu update dengan hal-hal begitu. Seharusnya langsung mendekati prilaku etisnya dong.” perintah Anwar yang ada baiknya juga.


“terus apa yang lo pikirkan? Cepat katakan!” tambah Dina yang mulai emosi.


“lo tau gak sih, orang berdasi yang duduk di kursi-kursi sana tengah merancang strateginya” ucap Anwar mulai serius.


“Apa sih gak ngerti banget ah” balas Rani.


“ya, saat situasi seperti ini beliau-beliau bersembunyi entah kemana. Menutup diri dari khalayak seakan tak punya tanggung jawab.” Anwar mulai serius.


“bak seekor semut mencari lubang perlindungan ketika hujan menerpa” tambah Anwar.


“heh apaan sih, gua gak paham sama lo” ucap Dina kesal.


“wahh.. btw udah jam sebelas nih, yuk dicukupkan aja.” kata Rani sambil menutup via telphonnya. Diskusi malam ini ditutup dengan kepenasaran.

Hari ini weekend, mereka putuskan untuk berdiskusi secara langsung di sebuah taman dekat rumah Rani. Kala itu, Anwar tak memberi penjelasan apa-apa.

“hei, apa kabar bangsaku?! Bangkit dong!!! lawan mereka semua. Lawan virus, lawan si tikus berdasi, lawan si…” teriak anwar memecah lamunan Rani dan Dina.


“lo pada pagi-pagi udah ngelamun kenapa sih? gak liat apa nasib tugas kita belum” celetuk anwar.


“heh, ya lo pikir aja sendiri, gantianlah masa kita terus yang mikir” sahut Dina membanggakan diri dengan Rani.


“eh… coba liat deh kondisi sekarang, soalnya gua agak burem terhalang janji-janji manis haha” kata Rani memulai diskusi.


“apaan sih ran, lo belum tau aja gimana ruednya gue kalo mikir hal gituan apalagi suruh liat kenyataannya haha” jawab Anwar melempar gulungan kertas.


“bener banget sih, menurut gua masalah bangsa kita enggak akan ada abisnya kalo dipegang sama orang-orang rakus kekuasaan” tambah Dina mulai serius.


“heh Din kalem, jangan gegabah ngomongnya, nyatanya masih ada kok dari mereka yang punya hati baik, ya walaupun secuil sih” ucap Rina meluruskan sedikit.


“lah jadi pada ngawur gini eh” ucap Anwar sambil mulai menulis.

Dunia kita memang tengah genting. Genting akan segala hal. Entah seperti apa nantinya nasib bangsa yang semakin hari kian menurun citranya. Yeay, welcome to Indonesia “negara hukum” katanya.

Saat Rani, Dina, dan Anwar sedang berfikir masing-masing, tiba-tiba…
“pak kembalikan hak kami pak” sahut pemuda memimpin derap kaki pasukannya
“TWK cacat prosedur” sahut salah seorang dari pasukannya
Yaps, mereka tengah menyuarakan satu suara mewakili pegawai KPK yang dipecat tanpa alasan kejelasan yang masuk akal. Rani, Dina, dan Anwar seraya menyaksikan.

“Nah ini nih yang gua maksud, gua ada ide” pekik Anwar tiba-tiba


“apa hah? Gua sama Rani udah mikirin berita ini kali daritadi, lo nya aja yang gak sepakat huh” sambung Dina menatap tajam Anwar.


“haha yaya gua tau. Cuma gua agak bingung”. Balas Anwar dengan muka tengilnya sambil cengengesan.

Pemecatan itu sangat menyakitkan bagi mereka. Dituduh tidak pancasilais dan tidak bisa dibina. Dipecatnya cepet lagi. Pak presiden Jokowi yang terhormat belum bertindak. Begitu malangnya nasib bangsa ini.

“Nah itu tuh perilaku yang patut kita kaji” sahut Anwar mulai diskusi serius. “perilaku yang mana? Dari pimpinan itu? Haha bener banget sih. Perilakunya tidak mencerminkan nilai Islam” celetuk Dina.


“ohh.. perilaku songong ya? Katanya tetep berfungsi aja sih, tanpa si lima puluh tujuh pegawai itu” tambah Rani mulai mencermati.


“apaan sih bukan. Liat pas bagian dia ambil alih tandatangan SK pemecatan. Maen seenaknya aja” ucap Anwar.


“iya bener, seharusnya yang berhak itu kan Sekjen KPK, sebagai Pejabat Pembina Kepegawaian. Terus imbasnya pemecatan dipercepat.” Tambah Dina yang sudah paham dengan berita tersebut.


“hedeuh.. katanya pimpinan tonggak hukum, malah sendirinya melanggar hukum” ucap Anwar males dengan kondisi ini.


“hah, apaan? Gua gak tau itu” ucap Rani sambil mencatat diskusi.


“iya, itu kan udah jelas diselidiki oleh dua lembaga, Ombudsman dan komnas HAM. Bahwasannya tes itu terjadi pelanggaran yang menyangkut HAM, terus herannya si pimpinan itu malah nekat ngelanjutin pemecatannya.” Jelas Dina sambil membaca buku catatannya.


“nah iya kan. Mereka terus nekat padahal sudah ada keputusan MA untuk memhentikannya, malah dianggepnya angin lalu doang” tambah anwar kesal.

Pimpinan penegak hukum tetap melanjutkan aksinya. Tak hiraukan apapun. Entah apa yang ada dipikirannya. Yang jelas seakan menunjukan wibawa hukum Indonesia sedang hancur. Katanya “negara hukum” kok?…


Rani, Dina, dan Anwar menyimpulkan. Lalu break sejenak untuk menikmati es kelapa muda yang dibelinya dijalan kecil sekeliling taman.

“mana ada yang diem aja lagi.” kata anwar membuka diskusi baru.


“hah maksudnya?” tanya Rani polos karena kurang up to date sama berita itu.


“itu lho tuan terhormat.” Jawan Dina simple.


“pak Jokowi terhormat.” Ucap Anwar frontal.


“oh iya, kan lagi situasi gini seharusnya langsung bertindak” ucap Rani bijak.


“lah iyanya, ini malah tak berkutik samsek” tambah Dina sambil menghabiskan sedotan terakhir es kelapanya.


“heh jangan sok tau lo pada, urusan tuan emang itu doang? Gak kan. Banyak urusan dia tuh jadi wajar mungkin kelupaan atau gak lagi sibuk jalan-jalan. Eh maksudnya jalan-jalan buat ngontrol vaksinasi masyarakat” celetuk Anwar memecah suasana. “haha.. Lucu sih sampe kelupaan gitu ya” tambah Rani.


“gua sih tahunya ya banyak yang protes, so pasti tuan sudah tau dong” kata Dina memperjelas.


“iya tapi masih diem kan tak berkutik, bilangnya jangan apa-apa dibawa ke saya.” Cetus anwar tengil sambil berlakon.


“haha kok selucu itu sih” kata Rani menepuk pundak Anwar.


“bak semut kan, bersembunyi pada lubangnya ketika derai hujan turun” ucap anwar sok puitis.


“iya kan, udah diserbu juga tetap aja enggak ada respon pasti. huh butuh kepastian nih” ucap Dina sambil melihat catatan diskusi yang ditulis Rani.

Keadaan memang sedang tidak baik-baik. Namun harapan baik tetap diinginkan bagi setiap insan Pertiwi. Setidaknya ada respon baik dari para penguasa yang memegang kunci-kunci kenestapaan sudah memberikan setitik senyum rakyatnya.

“terus apa yang jadi masalah?” tanya Rani memastikan catatannya.


“etikanya kurang dipake tuh” celetuk Anwar.


“iya jelas, dia belum turun tangan artinya etika sopan santunnya kurang ups” tambah Dina renyah.


“jangan apa-apa ditarik ke saya, kesannya melempar tanggung jawab”. Ucap Rani memastikan.


“hedeuh, yoai… agak pusing juga gua jadinya” kata Anwar sambil pergi meninggalkan Rani dan Dina sejenak untuk mengecek handphone.


“gila gila gila… ini sih tinggal nunggu respon pak Jokowi aja. Kalo sampe enggak ambil sikap jelas sampe tanggal tiga puluh September mendatang, artinya tuan terhomat merestui pemecatan itu dong”. Ucap Anwar girang menghampiri Rani dan Dina.


“emang iya. Tapi kan dia punya kewajiban buat matuhin perintah Komnas HAM dan Ombudsman. Jadi semisal hal itu terjadi artinya dia sendiri terlibat dong buat menyingkirkan 57 pegawai KPK pake jalur tangan pimpinan KPK itu” ucap Dina memperjelas.


“waduh gila sih ada apa sama mereka berdua?” celetuk Anwar keheranan.


“kita tunggu tanggalnya” tambah Dina.


“udah gua catet semua bahasannya. Yuk balik!” kata Rani menutup diskusi.



Sumber : cerpenmu

0 comments: