Wayang Jogja Night Carnival #6 Membawa Wayang ke Dunia Pariwisata Global

Selasa, Oktober 05, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Berbagai persiapan perwakilan kemantren dan penampil-penampil yang hadir dalam WJNC yang menyuguhkan ragam kreasi sebagai puncak perayaan HUT ke-265 Kota Jogja. (Foto/ Dinas Pariwisata Kota Jogja)


JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja akan menyelenggaraan event Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #6 yang diharapakan menjadi salah satu atraksi wisata rujukan bagi wisatawan global.

Sebagai rangkaian dari acara puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-265 Kota Jogja pada 7 Oktober 2021 WJNC #6 akan melibatkan 14 kemantren, dengan tema besar Semar Boyong, WJNC mengulas cerita pagebluk melalui street art performance.

Dijelaskan Kepala Bidang Pemasaran Hasil Wisata Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Jogja, Andrini Wiramawati persiapan event ini secara teknis sudah mencapai 80%-90%.

Masuk dalam kalender event pariwisata nasional tahunan, Dispar Kota Jogja berusaha menghadirkan tampilan yang berbeda di tahun ini di tengah pandemi Covid-19.

"Kami berharap agar event ini [WJNC] bisa mendunia terlebih ada partisipasi satu atau dua delegasi dari luar negeri yang tampil dalam WJNC ke depan. Dengan menggandeng berbagai pihak dengan harapan tahun selanjutnya bisa menghadirkan inovasi baru yang disesuaikan dengan kondisi agar ada warna baru di WJNC," kata Aan, pada Jumat (01/10/2021).

Pada tahun ini, diselenggaran di masa pandemi, Dispar berupaya mengemas event ini dengan protokol kesehatan yang ketat. Tampilan yang sedikit berbeda disuguhkan kepada khalayak dalam memaknai peringatan HUT Kota Jogja di masa pagebluk, namun tetap dengan filosofi WJNC yang khas dan kuat.

Hal-hal yang menjadi konsep dasar WJNC, yaitu vehicle (kendaraan), wayang, acara di waktu malam hari dan karnaval termasuk kehadiran tugu tetap dihadirkan.

Masing-masing kemantren nantinya dibagi ke dalam empat zona atau stage (panggung) dengan satu zona berisi tiga sampai empat penampil dari perwakilan kemantren. Tema turunan yang diusung oleh para penampil juga disesuaikan dengan tema besar Semar Boyong.

Pada zona satu, ada penampil dari Umbulharjo, Pakualaman dan Jetis dengan tema Indraprastha yang bernuansa megah dan romance (percintaan).

Kemudian pada panggung kedua ada perwakilan dari Kraton, Gondomanan, Mantrijeron, serta Mergangsan yang mengusung tema Poncowati, sarat dengan tampilan-tampilan tragedi yang divisualisasikan lewat penampilan ksatria, panah atau cakra.

Pada panggung ketiga tema yang diangkat adalah Hastinapura atau komedi. Penampil dari Kotagede, Gondokusuman dan Danurejan nantinya bakal mengusung konsep kurawa, raksasa dan jin dalam acara ini.

Tema di zona terakhir adalah Kahyangan, bernuansa percintaan agung. Akan ada penampil berkostum dewa, bidadari, figur hewan dan lokananta (gamelan) dengan penampil dari Ngampilan, Gedongtengen, Tegalrejo dan Wirobrajan.

Protokol Kesehatan

Digelar di tengah pandemi Covid-19, protokol kesehatan ketat diterapkan dalam WJNC #6 agar tidak menimbulkan klaster baru untuk para pelaku seni.

Seluruh yang terlibat acara harus sudah divaksin Covid-19 minimal satu kali dan dicek melalui aplikasi Peduli Lindungi. Untuk yang telah divaksin dosis satu nantinya akan diberi gelang kuning. Sedangkan yang telah divaksin dosis dua akan diberi gelang hijau.

Seluruh penampil dan tamu undangan wajib menunjukkan hasil negatif tes swab antigen. Jika pada H-1 hasil swab antigen para penampil dan kru dari kemantren menunjukkan hasil positif, maka harus dicari pengganti. Penyelenggaraan WJNC #6 pada  7 Oktober dilakukan secara tapping/perekaman acara, bukan perhelatan. Penerapan protokol kesehatan ini dilakukan untuk memberi contoh wujud Kota Budaya di masa pandemi bagi wilayah lain.

Aan mengatakan konsep acara juga berubah dengan para penampil akan tetap berada di panggung sementara para tamu bakal berkeliling dengan kendaraan hias pada setiap penampilan grup.

"Pada waktu acara, semua digabung baik itu pembukaan, inti acara, dan penutup. Selain perwakilan kemantren kami juga mengajak beberapa penampil dari seniman lokal yang digabung antara penyelenggaraan daring dan luring," ucap Aan.

Salah satu koordinator penampil dari Kemantren Kotagede, Hendi Setyo Yulianto mengatakan WJNC #6 menjadi harapan baru dan juga titik balik bagi para seniman dan budayawan di Kota Jogja dalam berkarya.

"Pemkot berupaya dalam mengeksplorasi seni budaya di masyarakat walaupun di masa pandemi. Kegiatan dibuat bisa beriringan artinya kita tidak bersenggolan secara langsung namun tidak juga berdekatan, maksudnya ada harmoni yang coba ditawarkan dan karya seni harus dijalankan. Makanya ini bisa jadi titik balik untuk bersiasat dalam berkarya bagi teman seni dan pelaku budaya," tutur Hendi yang juga sutradara para penampil dari Kotagede.

Dalam gelaran itu, ia mendapat tema Hastinapura yang dikreasikan lewat tarian karnaval. Koreografi akan bercerita soal kerajaan Astina yang dibawakan oleh sosok Buto (raksasa) dengan wujud wanita jelita. Menurut Hendi, aliran postmodern yang menjadi wajah WJNC membuat karya-karya yang ditampilkan mesti bertabrakan dari pakem.


Sumber : okezone.com

0 comments: