100 Hari Taliban Kuasai Afghanistan, Perempuan Makin Dinistakan

Jumat, November 26, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Perempuan di Afghanistan semakin dinistakan di bawah kendali Taliban yang sudah menguasai negara itu seratus hari, terhitung sejak 15 Agustus lalu.
Belum lama ini, Taliban kembali mengeluarkan kebijakan yang membatasi perempuan.

Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan melarang stasiun televisi negara menayangkan drama dan sinetron yang menampilkan aktor perempuan.

"Ini bukan aturan, tapi pedoman agama," kata juru bicara kementerian tersebut, Hakif Mohajir, kepada AFP, Senin (22/11) lalu.


Kelompok itu juga meminta saluran televisi tak menayangkan film atau program yang menampilkan sahabat Nabi Muhammad dan tokoh islam lainnya yang dihormati.

Perintah Taliban itu muncul usai dua dekade perkembangan media Afghanistan yang lebih independen di bawah pemerintah yang didukung Barat.

Terlepas dari aturan soal stasiun televisi, para perempuan di Afghanistan banyak yang merasa tak punya masa depan. Sebelumnya, Taliban mengklaim akan melibatkan semua kalangan dalam pemerintah, namun yang terjadi tidak demikian.

Taliban hanya memasukkan anggotanya dan Jaringan Haqqani untuk mengelola negara. Tak ada satupun muncul nama perempuan dalam jajaran pemerintahan.

Gerak perempuan semakin terbatas lantaran Taliban tak mengizinkan mereka bekerja, membatasi pendidikan bahkan melarang berolahraga di ruang publik.

Perempuan hanya diizinkan bekerja, ketika pekerjaan itu tak bisa dilakukan laki-laki. Mereka tak diizinkan ke kantor pemerintahan lantaran, lembaga-lembaga itu didominasi laki-laki.

Salah satu pekerjaan yang 'dilegalisasi' Taliban yakni membersihkan toilet di pasar.

Para guru atau dosen perempuan, pegawai negeri perempuan dan orang-orang yang bekerja di ruang publik bimbang sekaligus takut. Mereka harus tetap bekerja untuk bertahan hidup namun nyawanya terancam.

Taliban juga membatasi akses pendidikan bagi anak perempuan dan perempuan. Sekolah di wilayah tertentu hanya mengizinkan murid laki-laki masuk kelas. Di tingkat universitas pun terjadi hal serupa.

Rektor Universitas Kabul pilihan Taliban, melarang perempuan melanjutkan studi atau mengajar di kampus ternama itu.

"Wahai warga semua, saya berikan janji saya sebagai rektor Universitas Kabul: selama lingkungan Islami yang nyata tidak tersedia bagi semua orang, perempuan tidak akan diizinkan untuk datang ke universitas atau bekerja. Islam prioritas utama," kata Ghairat akhir September lalu.

Di bulan yang sama, Taliban juga melarang perempuan berolahraga di ruang publik lantaran tak sesuai Syariat Islam.

Wakil Kepala Komisi Budaya Komisi Taliban, Ahmadullilah Wasiq, menganggap perempuan tak pantas dan tak perlu olahraga, termasuk kriket.

"Dalam kriket mereka akan menghadapi situasi yang mana wajah dan tubuh mereka tak akan ditutup. Islam tak mengizinkan perempuan terlihat seperti itu," ujar Wasiq.


Para perempuan yang menentang kuasa Taliban juga selalu dalam bayang-bayang kematian.
Salah satunya, aktivis perempuan Afghanistan, Forouzan Safi. Ia pernah turut memprotes Taliban sebelum akhirnya tewas pada Oktober akhir Oktober lalu.

Safi merupakan pengacara hak-hak sipil sekaligus dosen ekonomi di kota Mazar-i-Sharif, Afghanistan utara.

Safi dilaporkan meninggalkan rumah di hari itu dengan membawa paspor. Ia terlanjur yakin, ada seseorang yang akan membantu dirinya keluar dari Afghanistan.

Tak lama setelah meninggalkan rumah, ia ditemukan tewas penuh dengan peluru di tubuhnya bersama tiga perempuan lain, yang juga meninggal.

Rekan Safi, yang juga menjadi jurnalis, Ayoubi yakin pembunuhan yang menimpa tiga perempuan itu mampu meredam pergolakan perjuangan hak-hak perempuan di Afghanistan.

Menurutnya, Taliban berhasil menciptakan ketakutan dan kengerian untuk menghentikan protes perempuan. Di aksi sebelumnya, Taliban juga dilaporkan memukul beberapa perempuan.

Ayoubi mengatakan Taiban telah menangkap setidaknya satu orang dari daftar nama-nama perempuan yang disebut pernah mengikuti protes menentang pemerintahan itu.

Taliban, katanya, mulai berkeliling, membaca nama-nama itu kemudian mengancam mereka.

"Jika kami bisa tahu nama dan jumlah pasti Anda yang hadir dalam protes, sangat mudah bagi kamu menemukan dan memburu Anda," ucap Ayoubi meniru pernyataan Taliban.

Meski sejumlah lembaga dan komunitas internasional menekan Taliban agar menjunjung hak-hak perempuan, tapi mereka seperti abai. Pembatasan dan pelarangan masih ada, di tengah krisis ekonomi yang melanda.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: