Brand Sepatu Mens Republic Tutup, Berikut Curhat Bersambung Sang Pemilik

Jumat, November 19, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

 Salah satu brand sepatu lokal Mens Republic dikabarkan tutup operasional. Melalui akun instagram resmi, Yasa Singgih sang pemilik memaparkan bagaimana kondisi bisnis Mens Republic sebenarnya saat ini. Dia juga berterima kasih pada semua yang telah mendukung bisnisnya selama ini.

 

 

"Selama 3 bulan terakhir ini, hampir tiap hari selalu ada aja WA atau DM yang masuk nanyain kabar saya dan @mensrepublicid. Sampe2 kalo cari di google keywords Men’s Republic, yang muncul tentang tutup dan bangkrut.Makasi banyaakk temen2 semua yang baik banget udah perhatian dan support terus menerus," tulisnya.

 

 

Dia pun menceritakan kondisi bisnis fesyennya itu dalam cerita bersambung yang diunggahnya sejak 4 hari lalu hingga kemarin. Curhatan itu belum selesai, dan dia tampaknya masih akan meneruskan ceritanya itu.

 

 

Namun, dalam akun instagram Mens Republic telah disampaikan bahwa mereka sudah menutup lembaran Mens Republic. Bahkan situs resmi Mens Republic menulis "THANK YOU, GENTLEMEN! #GOODBYEMENSREPUBLIC".

 

Berikut curhatan Yasa Singgih di akun instagramnya :

 

Kerendahan hati. Hati dalam berkarya. Misi hidup.

 

Rasanya cerita - cerita heroik dalam bisnis udah banyak banget ya, di episode kali ini saya cerita bagian bagian boroknya. Supaya jadi pembelajaran kita semua. Saya pribadi ga malu sama sekali ceritain kegagalan2, karena udah menerima dan berdamai bersamanya.

Dulu saya kerja keras mati2an, karena pengen banget dianggep sukses. Pengen banget punya bisnis dengan omset sekian. Supaya dapet applause dari orang2. Sampai akhirnya saya merasakannya.

Tapi bisa tiba2 sampai di titik, saya juga kehilangan api semangat dalam bisnis. Mungkin jenuh, mungkin stuck, mungkin cape, entah kenapa. Sampai akhirnya performa di bisnis semakin turun, karena nahkodanya kehilangan hatinya.

 

Kami di Men’s Republic yang 3 - 4 tahun pertama melajuuu sangat cepat, sampe bikin orang sering nanya, “Ini Men’s Republic siapa sih yang back up?”

Namun di perjalanan berikutnya, kami mulai membuat banyak kesalahan. Kami berhasil dari titik 1 - 5, tapi gagal dari titik 5 - 10. Kami melakukan scaling up bisnis yang salah. Terlalu asik nyerang sampe ga pernah bertahan sama sekali. Ibarat satu team bola, dari kiper sampe penyerang isinya Inzaghi hahaha. Ya pasti semua salah saya hehehe.

Sampai akhirnya kepeleset juga hahaha.

Kepelesetnya bukan dari tempat rendah lagi, dari puncak sekaligus kepeleset sampe ngegelinding ke kaki gunung wkwkwkwk. Sampai akhirnya perusahaan nyaris bangkrut. Saya pribadi pun juga nyaris bangkrut. Hahaha.

Saya sampai bertanya2. Sebenernya ini masalahnya dimana? Apakah masalah teknis di bisnis karena salah eksekusi di lapangan? Atau jangan2 masalah dari saya pribadi yang ga punya hati lagi dalam ngejalaninya?

 

Dan dari episode cerita kali ini, saya belajar 3 hal penting dalam hidup dan bisnis yaitu tentang kerendahan hati, hati dalam berkarya dan misi hidup.

 

Di Persimpangan Jalan.

Setelah habis2an babak belur sampai tahun 2019, saya melakukan perbaikan. Dimulai dari diri sendiri karena saya percaya bisnis adalah refleksi dari manusia yg menjalankannya.

Menjelang akhir 2019, yang menjadi awal perbaikan adalah belajar & praktek meditasi (lagi). Mengikuti bbrp program meditasi dari berbagai guru, perlahan saya membaik sehingga punya kekuatan menyelesaikan masalah. Saya belajar sadar. Belajar memahami bahwa segala sesuatu itu ngga kekal. Baik keberhasilan, maupun kegagalan.

Prosesnya adalah menerima kenyataan, mengakui kesalahan, berdamai & bersahabat dengan masalah. Saya juga berusaha menyalakan api yg padam. Ikut banyak workshop, ketemu orang2 baru, belajar dari pengusaha2 senior, dll.

Di awal tahun 2020, keadaan membaik. Api mulai menyala. Rajin ngantor setiap hari. Datang pagi & juga meditasi bareng anak2 kantor. Penjualan mulai meningkat. Mulai melakukan hiring team lagi. Wah, semua on the track.

Tiba2 masalah kembali datang. Mulai dari permasalahan logo Men’s Republic, yg sangat mengejutkan.

Sampai ke covid-19. Menghancurkan semua rencana. Berubah dalam hitungan hari. Kondisi yang membaik mendadak berputar haluan. Lagi2 angin tidak berpihak kpd kami. Kami sangat tidak siap bertarung dgn covid-19 ini. Ibarat baru pulih dari babak belur & masih jalan ditongkat tiba2 kena hajar lagi bertubi2.

 

Omset terjun bebas. Barang yg diorder sangat banyak utk lebaran 2020. Kelabakan. Dengan sangat terpaksa memotong lagi jumlah team, mengurangi gaji beberapa team, & melakukan efisiensi habis2an demi menyelamatkan kapal.

Jatuh. Bangkit. Dan dihempaskan lagi ke bumi.

Pertanyaan besar datang ke diri saya, saya di persimpangan jalan. Apa lebih baik tutup sekarang aja? Mengakui kegagalan dgn gentle. Apa masih mau nombokin sampai berdarah2 lagi? Sampai waktu yang tidak pasti? Emang masih ada kuat?

Bahkan sebuah pertanyaan yang sangat amat menyedihkan, saya tanyakan ke diri saya sendiri.

Am I a good entrepreneur?
Am I born to be an entrepreneur?
Or it’s an only accident that I’m not supposed to be?
Should I say good bye to Men’s Republic?

 

 

 

 

 

Sumber :tempo

0 comments: