CBD Sudirman, Kawasan Bisnis Terpadu Nomor Satu Jakarta yang Awalnya Kumuh

Jumat, November 19, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Platform media sosial Twitter tak henti diramaikan isu menarik sekaligus kontroversial yang kemudian viral diperbincangkan warganet.

 

 

Terbaru adalah cuitan tentang gaya hidup sejumlah anak muda usia produktif yang bekerja di central business district (CBD) Sudirman.



Dalam ulasan di Quora, salah satu pengguna dengan user name John Doe menulis bahwa banyak orang bekerja di CBD Sudirman atau beken disebut SCBD, memiliki gaya hidup mewah padahal gajinya pas-pasan.

 

 

 

Kebanyakan dari mereka memilih mengabaikan kebutuhannya bahkan sampai terlilit utang demi membeli barang-barang mewah.


Sontak, cuitan ini pun mendapat jempol, cuitan ulang, serta interaksi dari ribuan pengguna Twitter.

Lantas apa dan bagaimana SCBD yang diasosiasikan sebagai episentrum bisnis Indonesia, yang menjadi idaman banyak kalangan untuk berkarir dan juga bekerja secara profesional?

 

 

SCBD merupakan kawasan bisnis terpadu yang berlokasi di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan.

 

 

 Berada di bawah naungan PT Danayasa Arthatama Tbk, kawasan terpadu ini bahkan sudah direncanakan sejak 1987.


Dalam kurun waktu lima tahun yakni 1987 hingga 1992, dilakukan penyusunan master plan untuk pembangunan SCBD. Kemudian, pada tahun 1992, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan kepercayaan untuk mentransformasikan lahan kumuh seluas 45 hektar di jantung Segitiga Emas Jakarta menjadi kawasan niaga terpadu dan modern. Pembangunan infrastuktur pun berlangsung hingga tahun 1993. Pada tahun 1995, lahirlah perkantoran pertama di SCBD yakni Gedung Artha Graha. Setelah itu, tiga tahun kemudian, Gedung Bursa Efek Indonesia dan Apartemen Kusuma Chandra selesai dibangun. Kemudian pada rentang 2004-2006, apartemen SCBD Suites dan Capital Residence berdiri megah.

 

 

 

Menyusul setelahnya One Pacific Place yang mencakup ritel, hotel dan apartemen mewah serta Equity Tower rampung dibangun pada kurun 2007-2011.

 

 

 

Dengan semua kelengkapan fasilitasnya, sejak tahun 2013 hingga sekarang, SCBD telah menjadi komplek mixed-use terintegrasi terbaik di Indonesia.

 

 

 

Bahkan, saat pandemi pun, perkantoran di SCBD tetap paling selangit harga sewanya dibanding kawasan lainnya.

 

 

 

Hal ini terbukti dari riset Leads Property Indonesia, tiga dari lima perkantoran termahal Jakarta, bertengger di SCBD.


Ketiganya adalah Pacific Century Place Tower sebesar Rp 480.000 per meter persegi per bulan, Sequis Tower sebesar Rp 425.000 per meter persegi per bulan, dan Energy Building sebesar Rp 425.000 per meter persegi per bulan.

 

 

"Tarif sewa mahal ini dipengaruhi lokasi, kualitas bangunan, umur bangunan, dan teknologi yang diterapkan," ujar CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono beberapa waktu lalu.


Banyak fungsi

 

 

Kehadiran CBD sebenarnya bukan untuk sekadar memenuhi gaya hidup semata.

 

 

Banyak fungsi yang sebenarnya bisa dimanfatkan oleh warga kota. Salah satunya adalah untuk memusatkan semua kegiatan bisnis, ekonomi, dan rekreasi dalam satu kawasan yang mudah dijangkau oleh masyarakat.

 

 

 

Pemusatan kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan sebab masyarakat yang bekerja dan berekreasi terpusat dalam satu area.

 

 

 Karakteristik lain yang menonjol dari CBD adalah kerapian penataan kawasan yang dilakukan oleh pengembangnya.

 

 

 Dengan ketersediaan akses transportasi umum yang memadai dan banyak pilihan, didukung oleh trotoar yang lebar dan dalam kondisi prima, CBD merupakan tempat yang nyaman untuk berjalan kaki.


 

Sumber :kompas.com

0 comments: