Cerita 30 Prajurit Kopassus Nyamar Jadi Hantu saat Serbu Ribuan Pemberontak Kongo

Jumat, November 19, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) selalu mempunyai kisah heroik dalam melaksanakan tugas. Kali ini pasukan elite TNI yang dulu bernama RPKAD ini menaklukkan 3.000 personel pasukan pemberontak Kongo, Afrika dengan menyamar hantu putih. Ketika itu 30 prajurit Kopassus tergabung dalam Kontingen Garuda III. Cerita ini dikisahkan oleh Letjen (Purn) Kemal Idris (alm), Komandan Pasukan Perdamaian Indonesia di Kongo saat itu, dalam buku biografinya berjudul “Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi” terbitan Sinar Harapan.

Artikel ini telah tayang di papua.inews.id dengan judul " Cerita 30 Prajurit Kopassus Nyamar Jadi Hantu saat Serbu Ribuan Pemberontak Kongo ", Klik untuk baca: https://papua.inews.id/berita/cerita-30-prajurit-kopassus-nyamar-jadi-hantu-saat-serbu-ribuan-pemberontak-kongo.


Download aplikasi Inews.id untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
https://www.inews.id/app

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) selalu mempunyai kisah heroik dalam melaksanakan tugas. Kali ini pasukan elite TNI yang dulu bernama RPKAD ini menaklukkan 3.000 personel pasukan pemberontak Kongo, Afrika dengan menyamar hantu putih.

 

 

 

 Ketika itu 30 prajurit Kopassus tergabung dalam Kontingen Garuda III. Cerita ini dikisahkan oleh Letjen (Purn) Kemal Idris (alm), Komandan Pasukan Perdamaian Indonesia di Kongo saat itu, dalam buku biografinya berjudul “Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi” terbitan Sinar Harapan. 



Pada Tahun 1962, Persatuan Bangsa Bagsa (PBB) memerintahkan Indonesia untuk mengirimkan pasukan perdamaian ke Negara Republik Demokratik Kongo, Afrika. Indonesia memberangkatkan Batalyon 531 Raiders, satuan-satuan Kodam II Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur tempur lainnya, termasuk Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD yang waktu itu masih bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

 

 

 

Pasukan Konga III dipimpin Kemal Idris yang saat itu masih berpangkat Brigjen TNI. Sebanyak 3.457 tentara Konga III berangkat dengan pesawat pada Desember 1962. Mereka ditugaskan di Albertville, Kongo selama 8 bulan di bawah naungan United Nations Operation in the Congo (UNOC).


Daerah yang menjadi medan operasi pasukan KONGA III terkenal sangat berbahaya. Sebab di wilayah itu terdapat milisi pemberontak dengan pimpinan Moises Tsombee.

 

 

 

 

Pasukan Moises selalu membuat kekacauan di daerah ini. Para pemberontak berusaha untuk merebut daerah tersebut karena kaya akan sumber daya mineral.

 

 

 

Pada masa itu Pemerintahan Kongo berada di bawah pimpinan Presiden Kazavubu. Satu ketika markas KONGA III yang berisi 300 personel diserbu 2.000 personel pasukan pemberontak Moises Tsombe. Mereka mengepung markas KONGA III.

 

 

 Pasukan KONGA III mati-matian mempertahankan markasnya. Baku tembak sengit terjadi. Mulai dari jam 24.00 malam hingga dini hari. Jelang Subuh, para pemberontak berhasil dipukul mundur ke wilayah gurun pasir yang gersang.

Beruntung tidak ada pasukan Garuda yang meninggal pada kejadian itu. Hanya beberapa tentara luka ringan. Akhirnya, pasukan perdamaian dari semua negara peserta yang bertugas langsung melakukan rapat koordinasi untuk melakukan pengejaran terhadap gerombolan pemberontak tadi.

 

 

Lalu dikirimkanlah pasukan untuk mengejar gerombolan pemberontak. Sebanyak 30 personel Pasukan Kontingen Garuda (Konga) III berintikan pasukan Kopassus (dulu bernama RPKAD) menyamar dalam misinya. Kulitnya dilumuri arang agar menyerupai warna kulit suku asli.

 

 

Setelah diburu, ternyata ditemukan markas gerombolan pemberontak tersebut ada di dekat Danau Tanganyika. Daerah itu dikenal sebagai wilayah "No Man Land” alias daerah tak bertuan. Wilayah itu merupakan daerah kekuasaan pemberontak. Selama ini tidak pernah ada yang dapat memasuki daerah ini, termasuk Tentara Nasional Pemerintahan Kongo. Pernah ada kejadian sebanyak 2 kompi pasukan India dibantai di wilayah ini saat berusaha masuk wilayah tersebut.

 

 

Setelah menemukan markas pemberontak tadi, pasukan Pasukan Konga III yang berjumlah 30 personel beristirahat sambil menyusun rencana penyerangan. Di markas pemberontak itu terdapat 3.000 personel pasukan pemberontak dengan beberapa tank panzer dan RPG/bazzoka.

Berdasarkan informasi intelijen yang didapat Pasukan Konga III diketahui bahwa suku setempat, termasuk pemberontak sangat takut dengan mitos mistis cerita hantu putih. Yakni, sosok hantu putih dengan bau bawang putih yang menyengat.

 

 

 

Criiing! Ide cemerlang terbersit di kepala Pasukan Kopassus Konga III. Yakni menerapkan straegi unik dan tak lazim, menyamar jadi hantu putih. Akhirnya mereka memakai jubah putih longgar yang diberi kayu di atas kepala agar bila terkena angin maka jubah putih tersebut melambai-lambai. Tak lupa setiap personel juga memakai rantai bawang putih yang dikalungkan di leher.

 

 

Dengan naik kapal yang dihitamkan, sesampai di pinggir danau, pasukan hantu putih Kopassus meloncat berhamburan keluar dari kapal. Mereka menyerbu pos terdepan musuh. Setelah menaklukan pos itu, pasukan menyerbu ke dalam markas pemberontak.

 

 

 

 Mendapat serangan hantu putih yang begitu mendadak, pemberontak kaget dan tertegun. Jiwa tempur mereka hilang. Mereka mengira benar-benar telah diserang hantu yang kesetanan.


 

Kesempatan itu dimanfaatkan Pasukan Kopassus Konga III dengan terus menembaki pemberontak yang masih tertegun kaget. Dengan ciri khas serbuan komando, di mana personel Kopassus juga dibekali teknik bunuh senyap (silent kill). Tanpa babibu, Korps Baret Merah TNI ini merangsek tak kenal takut ke pusat konsentrasi pasukan pemberontak.

 

 

Seluruh isi markas pemberontak yang berjumlah 3.000 tentara kaget dan memercayai jika yang dihadapi mereka adalah hantu putih. Mereka langsung ketakutan dan lari kocar-kacir tak tentu arah.


 

Sumber :papua.inews.id

0 comments: