Deret Negara ASEAN yang Dukung Vs Tolak AUKUS Seperti China

Rabu, November 24, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

KTT darurat ASEAN di Jakarta pada April lalu. (Foto: Arsip Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNN Indonesia -- Kesepakatan pertahanan trilateral yang terjalin antara Australia, Amerika Serikat, dan Inggris (AUKUS) resmi ditandatangani dan mulai berjalan pada Senin (22/11).
Dengan peresmian ini, Australia resmi memulai program pembangunan kapal selam bertenaga nuklir dengan bantuan AS dan Inggris.

Menteri Pertahanan Australia, Peter Dutton, mengatakan peresmian hari ini pun menandai proses pertukaran informasi sensitif "soal propulsi nuklir angkatan laut" antara ketiga negara.

Peresmian ini pun akan membantu Australia menyelesaikan riset dan pelatihan 18 bulan pembangunan kapal selam.

Sejak awal diumumkan pada September lalu, AUKUS terus mematik perdebatan di kawasan Indo-Pasifik.

China terutama menentang kesepakatan AUKUS yang dinilai akan mengancam stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Kemitraan ini pun menjadikan posisi negara ASEAN terpecah.


Sejumlah negara sekutu AS di Asia Tenggara mendukung kemitraan AUKUS, sementara beberapa lainnya menentang kesepakatan tersebut.

Berikut negara yang mendukung AUKUS

1. Filipina
Filipina mendukung kemitraan AUKUS yang dianggap Manila dapat mengimbangi kekuatan China di kawasan Indo-Pasifik.

"Faktor jarak kedekatan memunculkan waktu untuk merespons segera; dengan demikian meningkatkan kapasitas militer teman dekat dan sekutu ASEAN untuk merespons secara tepat waktu dan sepadan terhadap ancaman terhadap kawasan atau tantangan terhadap status quo peting adanya," ujar Menteri Luar Negeri Filipina, Teodoro Locsin, dalam pernyataan resmi pada September lalu.

"Ini membutuhkan peningkatan kemampuan Australia, ditambah dengan sekutu militer utamanya, untuk mencapai kalibrasi itu," paparnya menambahkan.

Menurut Locsin, tanpa membangun senjata nuklir, upaya pembangunan kapal nuklir bertenaga nuklir tak melanggar pakta anti-proliferasi senjata nuklir.

2. Singapura
Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar, juga sempat mengutarakan posisi negaranya soal AUKUS.

Nayar mengatakan Singapura menyambut baik janji Australia bahwa AUKUS dapat mempromosikan dan menjaga stabilitas dan keamanan Asia Pasifik.

Ia mengatakan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong sudah melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Perdana Menteri Scott Morrison pada 16 September.

"(Percakapan itu) menyoroti hubungan bilateral dan multilateral yang sudah lama, yang dimiliki Singapura dengan Australia, Inggris dan AS," katanya kepada CNNIndonesia.com, pada 23 September lalu.

Nayar lalu melanjutkan, "(PM) Berharap AUKUS akan berkontribusi secara konstruktif bagi perdamaian dan stabilitas kawasan dan melengkapi arsitektur kawasan."

Pada akhir Oktober, PM Le juga menegaskan lagi bahwa AUKUS mendukung sentralitas ASEAN, kerja sama ekonomi, dan perlindungan keamanan Asia Pasifik, termasuk penegakkan hukum internasional seperti Konvensi Hukum Laut UNCLOS 1982.

"Kami menyambut baik jaminan Australia bahwa kemitraan AUKUS dengan AS dan Inggris ini akan konsisten dengan kriteria-kriteria tersebut," kata Lee seperti dikutip Channel NewsAsia.

3. Vietnam
Mengutip Hanoi Times, juru bicara Vietnam Le Thi Thu Hang menegaskan bahwa Vietnam selalu memantau perkembangan geopolitik di kawasan.

"Semua negara berjuang untuk tujuan yang sama yaitu perdamaian, stabilitas, kerja sama dan pembangunan di kawasan dan di seluruh dunia", kata Hang ketika ditanya soal sikap Vietnam akan AUKUS.

"Energi nuklir harus dibangun dan digunakan untuk perdamaian dan mendukung pembangunan sosio-ekonomi, memastikan keselamatan manusia dan lingkungan," tambah Hang ketika ditanya soal pembangunan kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia.

KTT ASEAN Ke-38 dan Ke-39 pada Oktober lalu. (Foto: Dok. Kementerian Luar Negeri RI)

Sementara itu, berikut merupakan beberapa negara ASEAN yang khawatir akan kesepakatan ini:
1. Indonesia
Indonesia adalah negara pertama di kawasan ASEAN yang mengkritik kerja sama AUKUS.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Retno Marsudi, khawatir rencana pembangunan kapal selam bertenaga nuklir AUKUS dapat meningkatkan ketegangan di kawasan Indo-Pasifik, terutama soal perlombaan senjata.

"Saya menekankan bahwa yang tidak diinginkan oleh kita semua adalah kemungkinan meningkatnya perlombaan senjata dan power projection di kawasan, yang tentunya akan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan," kata Retno.

Tak hanya itu, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Abdul Kadir Jailani, juga menilai kesepakatan AUKUS dapat meningkatkan risiko konflik terbuka di Indo-Pasifik.

"Kehadiran AUKUS menimbulkan kekhawatiran kita bahwa konflik langsung semakin mungkin terjadi," kata Kadir dalam diskusi webinar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) berjudul AUKUS: Responses from Southeast Asia, Jumat (1/10).

Selain itu, Kadir khawatir AUKUS dapat mengabaikan komitmen negara-negara terkait perjanjian non-proliferasi nuklir (NPT). Menurutnya, kemitraan AUKUS masih memiliki banyak celah yang dapat berisiko mengarah pada pengabaian komitmen NPT.

2. Malaysia
Selain Indonesia, Malaysia juga turut menyuarakan kekhawatiran mereka terkait AUKUS.

Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob mengatakan, ia khawatir AUKUS dapat memprovokasi kekuatan lain untuk bertindak lebih agresif, terutama di Laut China Selatan.

Tak hanya itu, Menteri Luar Negeri Malaysia, Saifuddin Abdullah, mengatakan Kuala Lumpur dan Jakarta menyimpan kekhawatiran yang sama mengenai dampak dan konsekuensi dari kemitraan AUKUS di kawasan.

"Walaupun negara itu (Australia) tak punya kapasitas senjata nuklir, kami (RI-Malaysia) khawatir dan prihatin," tutur Abdullah saat berkunjung ke Jakarta pada 18 Oktober lalu.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: