HEADLINE: Garuda Indonesia di Jurang Kebangkrutan, Strategi Penyelamatannya?

Jumat, November 12, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Jakarta Siapa yang tak kenal Garuda Indonesia, maskapai first class andalan Indonesia. Terbaru, maskapai ini membawa terbang Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke tiga negara yakni Italia, Inggris Raya, dan Persatuan Emirat Arab untuk menunaikan tugas negara.

 

Dulu, bukan sembarang orang bisa naik Garuda Indonesia. Hanya mereka yang berduit. Imej ini pun masih melekat hingga sekarang di masyarakat.

Tidak hanya imej di masyarakat, bagi para pekerja di lingkungan maskapai penerbangan pun juga demikian. Bekerja di Garuda Indonesia, telah jadi impian para flight attendant.

Besarnya penghasilan pilot hingga pegawai lain yang di atas rata-rata perusahaan sejenis jadi magnet Garuda Indonesia jadi incaran.

Garuda Indonesia bahkan terus dinobatkan sebagai maskapai bintang 5 dari Skytrax. Di dunia, hanya ada 9 maskapai yang memiliki predikat itu.

Maskapai tersebut yaitu All Nippon Airways (ANA), Asiana Airlines, Cathay Pasific, Hainan Airlines, Qatar Airways, Singapore Airlines, Lufthansa, EVA Air dan Garuda Indonesia.

Sayangnya itu Garuda Indonesia yang dulu. Sekarang, maskapai ini masuk dalam deretan maskapai di dunia yang nasibnya diujung tanduk.

Bagaimana tidak, maskapai berkode emiten GIAA mencatatkan rugi sebesar USD 1,33 miliar atau sekitar Rp 18,95 triliun (kurs Rp 14.249 per USD) hingga kuartal III 2021.

Rugi ini jauh lebih baik dibandingkan posisi per akhir Desember 2020 yang tercatat minus USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 35,62 triliun.

Sayangnya, jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, kerugian Garuda Indonesia bertambah dari USD 1,07 miliar atau sekitar Rp 15,24 triliun per September 2020.

Hingga September 2021, Garuda Indonesia mencatatkan total pendapatan sebesar USD 568 juta atau sekitar Rp 8,09 triliun. Turun dari pendapatan periode sama pada 2020 sebesar USD 1,13 miliar.

Pada periode yang sama, total ekuitas mencapai USD 2,83 miliar. Liabilitas tercatat sebesar USD 9,76 miliar. Lebih besar dibandingkan aset Perseroan hingga September 2021 yang hanya sebesar USD 6,93 miliar.

"Neraca Garuda sekarang mengalami negatif ekuitas USD 2,8 miliar, ini rekor. Dulu rekornya dipegang Asuransi Jiwasraya, sekarang sudah disalip Garuda," kata Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI.

Ia mengatakan, drop-nya tingkat neraca keuangan Garuda Indonesia disebabkan juga oleh adanya PSAK 73 yang dilakukan perusahaan pada 2020-2021. Ini yang menyebabkan dampak penurunan ekuitas semakin dalam, karena pengakuan utang masa depan lessor.

"Dalam kondisi ini dalam istilah perbankan sudah technically bankrupt, tapi legally belum, ini yang sekarang saat ini kita sedang upayakan gimana keluar dari posisi ini," kata Tiko.

Anggapan bangkrut tersebut, karena secara praktik sebagian kewajiban Garuda Indonesia sudah tak dibayar, bahkan ia menyebut gaji pun sudah sebagian ditahan.

"Jadi kita harus pahami bersama situasi Garuda sebenarnya secara technical sudah mengalami bangkrut. Karena kewajiban-kewajiban jangka panjangnya sudah tidak ada yang dibayarkan, termasuk global sukuk, termasuk himbara dan sebagainya," jelas dia.

Progres Restrukturisasi

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengungkapkan, selain berbagai masalah yang sudah disebutkan Tiko, ada masalah internal mendasar yang juga menjadi pemicu Garuda Indonesia berada di ujung tanduk. Hal itu adalah gengsi.

“Yang bikin masalah adalah ada excitement yang berlebihan. Gaya-gayaan, kalau istilah Pak Erick (Menteri BUMN) untuk terbang ke tempat-tempat yang gak jelas keuntungannya,” kata dia dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI.

Tingginya gengsi, ditambah badai pandemi Covid-19, belum lagi masalah korupsi, membuat Garuda Indonesia tak lagi segagah dulu.

Irfan mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan proses restrukturisasi. Diakuinya, proses ini akan memakan waktu yang cukup panjang, mengingat ada 800 lessor yang harus dihadapi.

"Dari awal kami menyadari bakal panjang. Bukan berarti ribet, tapi bakal panjang karena ada 800 kreditur yang kita harus hadapi. Dan kita menyadari paling sulit adalah lessor,” ungkap Irfan.

Irfan mengaku, Perseroan telah negosiasi sejak tahun lalu dengan asumsi pandemi akan cepat selesai. Namun, kenyataannya berbeda, pandemi belum usai dan maskapai pelat merah itu belum bisa beroperasi secara maksimal. Sehingga meskipun sudah diturunkan biaya sewanya, Garuda Indonesia tetap tidak mampu mengeksekusinya.

"Kita belum bisa eksekusi karena memang jumlah trafik tidak sampai ke kondisi sebelum pandemi. Inilah yang membuat persoalan jadi berkepanjangan,” kata Irfan.

 

 

Sumber :liputan6

0 comments: