Keragaman Budaya Cabai di Asia Tenggara, 80 Persen Penduduk Myanmar Menggunakannya untuk Masak

Selasa, November 09, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


CABAI menjadi komoditas populer yang digunakan untuk penguat rasa makanan dan pelengkap bumbu hidangan di berbagai belahan dunia. Tak cuma di Indonesia, kini cabai juga seringkali digunakan penduduk Asia Tenggara lainnya dan Jerman.

Juri Masterchef Myanmar, Daw Phyu Phyu Tin menjelaskan, penduduk Myanmar seringkali menggunakan cabai sebagai bahan untuk memasak dan digunakan untuk obat tradisional. 

Daw menilai, lebih dari 80 persen penduduk Myanmar menggunakan cabai untuk makanan sehari-hari. 

Cabai yang digunakan, lanjut Daw, dalam berbagai bentuk seperti cabai segar, kering dan bubuk. Biasanya cabai bubuk dipakai untuk bumbu penyedap rasa dan wangi aromatik.



"Masyarakat mengonsumsi sebagian besar produksi cabai di Myanmar dan mengimpor berbagai jenis cabai dari luar negeri untuk diolah menjadi masakan internasional," tegas Daw dalam keterangan resminya pada Minggu (7/11). 

Untuk itu, Daw meyakini, cabai memiliki peran tertinggi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari penduduk Myanmar.

Cabai di Jerman 

Pakar cabai asal Jerman, Alexander Hicks menjelaskan, budaya cabai di Jerman terus berkembang. Makanan pedas sebelumnya adalah keistimewaan yang hanya dapat ditemukan di restoran-restoran etnik. 

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak restoran di Jerman yang menyajikan makanan tradisional pedas dari berbagai belahan dunia. 

Di Jerman, sudah banyak orang yang menanam cabai meskipun negara tersebut mengalami musim dingin. Hal itu membuat masa tanam cabai menjadi singkat. 

Banyak pecinta cabai di Jerman mengatasi keadaan ini dengan membangun rumah kaca kecil untuk memperpanjang musim tanam. 


“Cabai menaklukkan dunia lebih cepat dari siapa pun atau apa pun di masa lalu. Itulah alasan mengapa sekarang kita menemukan cabai tumbuh di seluruh dunia. Cabai telah berkembang menjadi lebih mudah untuk tumbuh di berbagai iklim,” katanya. 

Hicks mulai menanam 13 varietas cabai yang berbeda hingga membuatnya menjadi 375 varietas dari seluruh dunia pada tahun 2006. Kini, ia sudah menumbuhkan lebih dari 2.000 varietas cabai berbeda.

Cabai di Indonesia 

Penulis dan koki Petty Elliot menuturkan, perkembangan budaya cabai di Indonesia bermula sejak komoditas itu diperkenalkan dari penjelajah Portugis sejak tahun 1511. 

Perkembangan lantas terjadi mulai dari produksi, variasi dan kreativitas penggunaan cabai dalam memasak. 

Tak cuma menjadi makanan utama, cabai juga digunakan dalam minuman dan hidangan pencuci mulut. 

Cabai juga memberikan koneksi dan hubungan yang kuat dalam makanan daerah di Indonesia melalui sambal. Setiap daerah memiliki sambal. Bahan yang paling penting untuk membuat sambal adalah cabai,” ujar Petty. 

Adapun Pakar Kuliner William Wongso menjelaskan, Indonesia lekat dengan budaya sambal, sebab kebanyakan masyarakat Indonesia memiliki “state of mind sambal”. Artinya, masyarakat lebih dulu memikirkan keberadaan sambal itu sendiri bahkan sebelum mencicipi makanan utama. 

“Masyarakat Indonesia itu kalau makan belum lengkap tanpa sambal,” imbuh William Wongso.


Sumber : okezone.com

0 comments: