Menkeu Era SBY Proyeksi Bisnis Sekuritas Tak Laku di Era Blockchain

Kamis, November 11, 2021 Majalah Holiday 0 Comments



Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Chatib Basri menyebut bisnis yang menawarkan jasa perantara pihak ketiga terancam tak laku lagi jika teknologi blockchain mulai berjalan.

Ia menilai sistem end-to-end yang dimiliki sistem blockchain bakal mengeliminasi kebutuhan jasa pihak ketiga karena konsumen bisa bertransaksi langsung dengan produsen.

Chatib kemudian mencontohkan jasa atau platform pihak ketiga yang terancam keberadaannya seperti Grab/Gojek dan sekuritas.

Baca artikel CNN Indonesia "Menkeu Era SBY Proyeksi Bisnis Sekuritas Tak Laku di Era Blockchain" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20211110182907-92-719370/menkeu-era-sby-proyeksi-bisnis-sekuritas-tak-laku-di-era-blockchain.

Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/

 
Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Chatib Basri menyebut bisnis yang menawarkan jasa perantara pihak ketiga terancam tak laku lagi jika teknologi blockchain mulai berjalan.

 



Ia menilai sistem end-to-end yang dimiliki sistem blockchain bakal mengeliminasi kebutuhan jasa pihak ketiga karena konsumen bisa bertransaksi langsung dengan produsen.

 

 

Chatib kemudian mencontohkan jasa atau platform pihak ketiga yang terancam keberadaannya seperti Grab/Gojek dan sekuritas.



 

Tak hanya bisnis, ia menyebut lembaga seperti Bank Indonesia (BI) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengawasi transaksi keuangan tradisional juga bisa tak relevan lagi nantinya.

 



"Satu yang mesti diantisipasi, itu teknologi blockchain memungkinkan end to end loh. Kalau teknologi blockchain itu terjadi Grab, BEI, BI juga hilang karena orang dari konsumen ke produsen tanpa perlu perantara," bebernya pada diskusi Academic Lecture FEB UI, Rabu.



 

Sebagai informasi, teknologi blockchain merupakan sistem yang mendasari aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, Binance Coin, dan sebagainya.




Blockchain pada dasarnya adalah sistem penyimpanan digital publik yang tidak dapat diubah. Begitu seseorang melakukan transaksi, pencatatan tidak dapat diubah dengan mudah.

 



Dalam sistem keuangan, untuk menjamin tidak ada uang yang hilang, maka semua transaksi perpindahan uang dicatat dalam sebuah buku besar (general ledger).

 



Keuntungan terbesar dari blockchain publik adalah informasi tidak dapat benar-benar diubah setelah dicatat. Ada catatan permanen, dan karena buku besar dipegang oleh banyak entitas, hampir tidak mungkin untuk diretas. Itu membuat blockchain ideal untuk Bitcoin dan cryptocurrency lainnya.



Teknologi pada blockchain sudah terdesentralisasi, jadi tidak ada otoritas yang memiliki kendali penuh, melainkan terpecah ke setiap komputer yang sudah diinstal perangkat lunak.


 

Sumber : CNN Indonesia

0 comments: