Modus Percaya Orang Dalam, Wanita Ini Tertipu Rp 1,1 Miliar Saat Urus Visa Australia

Rabu, November 24, 2021 Majalah Holiday 0 Comments




Sydney - Seorang warga Vietnam bernama Linh tertipu oleh orang yang mengaku bisa membuatkan visa Australia dengan kekuatan orang dalam. Kerugian mencapai Rp 1,1 miliar.

Berdasarkan laporan ABC Australia, Selasa (23/11/2021), seorang yang menyebut dirinya sebagai agen imigrasi menjanjikan kepada Linh untuk mengurus pembatalan keputusan itu karena mengaku punya kenalan di Departemen Imigrasi.

Karena kemampuan berbahasa Inggris yang terbatas dan layanan visa belum tersedia dalam bahasa Vietnam, Linh, terpaksa mempercayakan pengurusan dokumen visanya kepada orang tersebut.

Orang yang mengaku agen imigrasi itu meminta Linh untuk menyerahkan akun email dan paspornya sebagai persyaratan.

"Orang itu berbicara Vietnam dan tampaknya sangat berpengalaman. Jadi saya merasa bisa mempercayainya," kata Linh kepada ABC.

"Dia bahkan menunjukkan foto-foto pejabat terkait yang dimilikinya," ujarnya.

Di saat sedang putus asa, Linh memenuhi permintaan orang itu dan meminjam uang untuk mencukupi biaya sebesar $110 ribu (sekitar Rp 1,1 miliar) yang dia transfer beberapa kali.

Linh mulai curiga ketika dimintai uang pembayaran lebih banyak lagi. Dia menolak, tapi akun emailnya sudah tak bisa dia akses.

Linh pun memutuskan untuk melaporkan kasusnya ke polisi.

"Saya dan keluarga sangat terpukul dan trauma dengan apa yang kami alami," katanya. "Saya begitu cemas sampai harus mendapatkan bantuan psikiater," tutur Linh.

Kasusnya kini dalam penyelidikan kepolisian di Sydney. Berikut penjelasan orang-orang yang aktif di keimigrasian, serta tips menghindari penipuan.

Menurut peneliti keimigrasian pada Migration Institute of Australia, Jack Ta, seseorang yang mengaku memiliki koneksi untuk mengubah keputusan imigrasi merupakan perbuatan pidana.

"Saya tidak percaya adanya koneksi di Departemen Imigrasi dan pemerintah akan membuat prosesnya berbeda atau bahkan lebih cepat," kata Jack Ta kepada Sore Josh Szeps dari ABC.

"Koneksi hanyalah indikasi seberapa baik agen dalam melakukan pekerjaan mereka, dari sudut pandang reputasi," jelasnya

"Namun, pengakuan adanya koneksi ini adalah taktik yang sering digunakan oleh penipu," kata Jack. Dia menyebut kasus yang dialami Linh semakin sering terjadi di Australia.

"Australia adalah salah satu negara tujuan yang paling diinginkan di dunia. Begitu banyak orang sangat ingin pindah ke sini, sehingga dengan mudahnya menjadi mangsa para penipu," ujar Jack.

Menurut data dari Divisi Penipuan Keimigrasian pada Departemen Dalam Negeri sebelum pandemi, Australia menerima rata-rata lebih dari 500 laporan penipuan visa per tahun sejak 2014.

Sumber :Liputan6

0 comments: